Ratna Sarumpaet dalam Pusaran Hoax

1015
Ratna Sarumpaet

MONITOR – Ratna Sarumpaet, aktivis perempuan yang cukup berani dan lantang mengkritisi kebijakan pemerintah belakangan jadi ‘buah bibir’ masyarakat. Di tengah bencana maha dahsyat yang melanda masyarakat Palu, Sulawesi Tengah, tersiar kabar Ratna dihabisi oknum tak dikenal di Bandung, Jawa Barat.

Informasi yang ramai beredar, mengungkapkan kronologi penganiayaan sadis terhadap perempuan asal Tarutung, Sumatera Utara. Ibu dari artis Atikah Hasiholan ini diperlakukan tidak manusiawi. Saat berada di sekitar Bandara Husein Sastranegara Bandung, ia naik taksi bersama rekannya dari Malaysia dan Sri Lanka. Kabarnya, ia usai menghadiri konferensi beberapa negara asing di sebuah hotel.

Namun di tengah perjalanan, nasib sial menghampiri. Ia ditarik oleh tiga orang tak dikenal dan ditarik ke dalam mobil. Ratna diperlakukan layaknya maling ayam, ia dipukuli hingga babak belur, lalu perutnya diinjak-injak hingga tubuhnya dilempar ke jalan beraspal dengan kondisi tubuh yang lebam.

Semua yang mendengar kabar ini akan tercabik-cabik. Nurani publik makin terusik. Baik kubu Prabowo maupun Jokowi bersuara lantang mengutuk insiden yang dialami Ratna. Sebagian mendesak agar pihak kepolisian segera mengusut tuntas oknum pelaku dan menghukum si aktor intelektual teror terhadap Ratna. Beberapa sahabat Ratna pun angkat bicara di depan awak media.

Mereka tak terima aktivis kelahiran 16 Juli 1949 silam itu mendapatkan teror sadis seperti yang sebelumnya dialami aktivis HAM, Munir, atau penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Mulai dari Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera, Ketua DPP Demokrat Fendinand Hutahaean, mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli, Koordinator Juru Bicara Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar, Rachel Maryam, Hanum Rais, dan beberapa kalangan lainnya. Jajaran pendukung Prabowo ini bahkan menyudutkan pihak pemerintah yang dinilai berupaya membungkap suara barisan oposisi pemerintah.

Laporan Hasil Penyelidikan Polri

Mengetahui Ratna Sarumpaet dikeroyok hingga babak belur, tim kepolisian segera melakukan sejumlah kroscek ke beberapa titik lokasi. Kepolisian Daerah Jawa Barat menyisir beberapa lokasi dan menemukan sejumlah fakta yang sangat bertolak belakangan dengan informasi yang beredar luas.

Pertama, Polda Jabar tidak menemukan agenda kegiatan konferensi negara asing di Jawa Barat yang terjadi pada tanggal 21 September 2018. Kedua, dari hasil pengecekan 23 Rumah Sakit di Jawa Barat, polisi tidak menemukan data pasien atas nama Ratna Sarumpaet. Ketiga, dari hasil koordinasi pihak kepolisian dengan pihak bandara Husein, diantaranya Taxi, Avsec, supir rental, porter, tukang parkir, semua elemen mengaku tidak mengetahui peristiwa pengeroyokan terhadap korban Ratna Sarumpaet. Keempat, polisi pun tidak menemukan manivest kedatangan-keberangkatan penumpang atas nama Ratna Sarumpaet pada tanggal 21 September 2018.

Tak puas dengan data yang diambil dari lapangan, polisi lalu menyelidiki data call record seluler phone milik Ratna. Rupanya, nomor handphone Ratna sejak tanggal 20 hingga 24 September 2018 aktif di daerah Jakarta. Ditambah aktivitas transaksi perbankan yang dilakukan putranya, Ibrahim Fahmi Alhadi, ternyata menunjukkan bahwa Ratna justru melakukan debet pada RS. khusus bedah Bina Estetika sebanyak tiga kali transaksi, pertama dilakukan tanggal 20 September, lalu 21 September dan 24 September 2018. Total pembayaran yang dilakukan keluarga Ratna sejumlah Rp 90 juta.

Yang lebih mencengangkan, berdasarkan hasil penyelidikan polisi di RS. Bina Estetika, terungkap bahwa Ratna melakukan operasi plastik pada tanggal 21 sampai 24 September 2018. Hal ini sekaligus menepis kabar bahwa yang bersangkutan mengalami penganiayaan di tanggal tersebut.

Dalam catatan buku register rawat inap, Ratna masuk rumah sakit pada Jumat, 21 September 2018 sekitar pukul 17.00 WIB. Dengan bukti rekaman CCTV, polisi melihat sosok Ratna bersama asistennya keluar dari RS. Bina Estetika pada hari Senin, 24 September 2018, pukul 21.28 WIB dengan menggunakan taksi Blue Bird.