Penjarahan Ditengah Bencana Gempa

1029
Warga meratapi puing-puing bangunan yang terdampak gempa di Palu (dok: Tempo)

MONITOR – Indonesia tengah berduka. Tepatnya wilayah Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, menjadi wilayah terdampak bencana gempa bumi bermagnitudo 7,4 SR dan gelombang tsunami. Guncangan yang terjadi pada Sabtu (28/9) lalu, berhasil meluluhlantakkan penjuru kota dan daerah hingga porak poranda.

Kini, warga hanya mengandalkan kemurahan uluran tangan donatur dan pemerintah. Di tengah keterbatasan akses, pemerintah dan sejumlah lembaga kemanusiaan terus menyalurkan bantuan mulai dari uang, makanan, pakaian hingga kebutuhan mendesak lainnya. Dalam suasana genting, tersiar kabar terjadi aksi penjarahan.

Penjarahan dilakukan oleh penduduk setempat. Mereka kekurangan jatah, baik makanan maupun kebutuhan primer lainnya. Kabarnya, warga menjarah sejumlah toko-toko dan mall di Palu. Para relawan yang menyalurkan bantuan pun mendapatkan penghadangan di wilayah Donggala sebelum memasuki kawasan Palu. Alhasil, bantuan terputus di tengah jalan.

Rhena (26) misalnya. Tim relawan asal Mamuju, Sulawesi Barat, ini mengaku kesulitan menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Palu. Minggu (30/9) sore, ia diminta atasannya untuk tidak bergerak terlebih dahulu ke Palu, sebab beberapa warga mulai beringas. Mereka mengincar sejumlah donasi yang dibawa para relawan.

Dari informasi yang dihimpun, Rhena mengatakan para relawan yang berangkat ke Palu melewati Pasangkayu diimbau untuk berhati-hati saat memberikan bantuan. Para warga melakukan aksi penjarahan pada setiap kendaraan bantuan yang melewati perbatasan Pasangkayu-Donggala. Jalur tersebut dikatakan rawan, mengingat kabar adanya kendaraan pengangkut bantuan dari Mandiri Syariah pun mengalami penjarahan.

“Bantuan selalu dijarah, jadi tidak tembus Palu. Wajar, karena mereka juga kelaparan di Donggala,” kata Rhena kepada MONITOR, melalui pesan elektronik, Senin (1/10/2018).

Rasa lapar memang tidak bisa ditahan. Warga benar-benar membutuhkan bantuan makanan, minuman dan pakaian. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo bahkan meminta pemerintah daerah setempat untuk memberikan fasilitas makanan dan minuman di sejumlah tokoh yang ada. Kondisi tersebut cukup darurat, Tjahjo pun memberikan akses gratis namun masalah pembiayaan akan diselesaikan secara gotong royong antara Kemendagri dengan pemerintah daerah.

Dalam kunjungannya, Tjahjo mengakui banyak korban di rumah sakit dan tenda pengungsian yang butuh bantuan makanan dan minuman. Sementara, hampir semua toko tutup dan listrik padam.

“Dalam rapat saya minta pemda fasilitasi beli minuman, makanan, di toko yang jual. Berikan dulu kepada pengungsi dan yang dirawat di rumah sakit. Cari yang punya toko, dibeli dulu dan saya minta pengawalan Satpol PP dan Polri kemudian bagikan makanan tersebut,” kata Tjahjo.

Tjahjo menegaskan, dirinya tidak membolehkan aksi penjarahan terhadap barang-barang yang diperdagangkan, namun pihaknya memastikan kondisi itu sudah dikawal oleh pemerintah setempat.

“Karena darurat listrik mati dan bantuan baru masuk malam dari daerah tetangga. Kondisi darurat. Makanan, minuman belum masuk. Dan saya minta langsung ke gubernur. Beli minuman dari toko yang tutup. Uang gotong royong. Kemendagri ikut beli juga,” lanjutnya.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo yang berkesempatan menyambangi lokasi terdampak gempa mengaku tidak melihat aksi penjarahan warga di toko-toko. Kakek Jan Ethes ini menduga, ada sebagian kecil pemilik toko yang justru mempersilahkan para korban untuk mengambil barang-barang di tokonya.

“Saya tidak melihat seperti itu karena toko-toko tutup, mungkin ada satu atau dua peristiwa. Karena memang ada juga toko yang memberikan, membantu saudara-saudaranya, dalam keadaan darurat seperti ini jangan mempermasalahkan hal-hal kecil yang sebetulnya tidak jadi masalah dasar di situ,” kata Jokowi di Lubang Buaya, Jakarta Timur, Senin (1/10).

Selain itu, kebutuhan akan logistik makanan dan air masih menjadi masalah. Kondisi memprihatinkan ini disebabkan tidak adanya toko-toko yang menjual logistik tersebut.

“Air masalah karena listrik tidak ada, tidak hidup. Kenapa listrik tidak ada, karena dari 7 gardu yang ada yang hidup hanya 2, yang 5 ada masalah, ini yang harus diselesaikan,” pungkasnya.