Sepak Terjang Indonesia sebagai Negara ke-60 PBB

1136
Ilustrasi Forum PBB

MONITOR – Pada tanggal 28 September, Indonesia resmi bergabung dan menjadi negara Anggota ke-60 sesuai dengan Résolus Majelis Umum PBB nomor A/RES/491 (V) tentang “penerimaan Republik Indonesia dalam keanggotaan di Perserikatan Bangsa Bangsa. Peristiwa ini terjadi setelah kurang dari satu tahun setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 23 Agustus 1949 silam.

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menjadi satu-satunya organisasi di dunia yang diandalkan untuk menjaga perdamaian dan keamanan dunia. Sejauh ini, PBB memiliki adil besar dalam mengurai konflik sosial yang terjadi di berbagai belahan negara. Indonesia sendiri punya keterkaitan dengan organisasi internasional yang berdiri pada 24 Oktober 1945 tersebut.

Menjadi anggota PBB merupakan cita-cita Indonesia, sesuai tujuan yang tertuang dalam preambule UUD 1945. Indonesia menjadi negara yang turut andil menjaga ketertiban dunia bersama PBB. Berikut ini beberapa peran aktif Indonesia sejak bergabung dengan organisasi PBB.

Mengirim Pasukan Garuda

Setiap tahun, PBB meminta negara anggotanya, termasuk Indonesia, untuk mengirimkan pasukan perdamaian dunia yang berasal dari militer. Pasukan ini kemudian akan tergabung dalam United Nation Army untuk melakukan patroli di wilayah konflik, melakukan pengawasan terhadap daerah rawan konflik, membantu masyarakat di daerah konflik.

Sejauh ini, Indonesia telah mengirimkan rijbaan paskan superti mengirimkan Pasukan Garuda I untuk menyelesaikan Perang Arab-Israel di tahun 1957, lalu mengirimkan Pasukan Garuda II dan III (1960) untuk menyelesaikan perang saudara di Kongo, mengirimkan Pasukan Garuda XIV (1993) di Bosnia, dan mengirim Pasukan Garuda XXVI-C2 (2010) sebagai pasukan pemelihara perdamaian PBB di Lebanon Selatan.

Indonesia Sebagai Pelopor Perdamaian

Indonesia ikut serta dalam beberapa gerakakan untuk menciptakan perdamaian dunia melalui kerja sama dalam konferensi Asia Afrika, ASEAN, maupun Gerakan Non Blok. Selain itu, Indonesia tercatat sebagai pelopor pencetusan ZOFTAN dan SEANWFZ.

Mengirimkan Relawan dan bantuan kemanusiaan

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang memiliki jiwa social yang tinggi oleh karena itu tak sedikit orang yang ingin berpartisipasi secara langsung menjadi relawan ke daerah konflik untuk memberikan bantuan berupa makanan, pakaian ataupun obat-obatan.

Misalnya, di Tahun 1984, Indonesia mengirimkan bantuan berupa beras melalui FAO yang ditujukan untuk Ethiopia yang waktu itu dilanda bencana kelaparan. Lalu pada Tahun 1995, Indonesia membantu dalam menampung para pengungsi yang berasal dari Vietnam di pulau Galang.

Mengirim perwakilan dewan dan lembaga-lembaga PBB

Banyak pemimpin-pemipin Indonesia yang menduduki jabatan cukup tinggi di PBB tak hanya sebagai dewan PBB namun lembaga-lembaga lain naungan PBB seperti ILO, WHO, UNESCO, UNICEF. Pada tahun 1971, Indonesia yang diwakili oleh Adam Malik pernah ditunjuk untuk menjadi presiden di Majelis Umum PBB.

Indonesia juga pernah tiga kali terpilih menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB, yaitu periode tahun 1974 – 1975, periode tahun 1995-1996, dan periode tahun 2007-2008. Selanjutnya, Indonesia terpilih 11 kali sebagai anggota Dewan ekonomi dan sosial PBB, 2 kali ditunjuk sebagai presiden dari Dewan Ekonomi dan Sosial PBB, serta 3 kali sebagai wakil presiden dari Dewan tersebut.