Evolusi Kereta Api Indonesia dari Masa ke Masa

1863
Ilustrasi gerbong kereta api milik PT KAI

MONITOR – Di masa pendudukan Jepang, seluruh jalur Kereta Api dikelola menjadi satu kesatuan. Pada masa itu, kereta api menjadi satu-satunya moda transportasi yang ramah rakyat. Jepang memegang kendali seutuhnya. Akan tetapi, pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945, karyawan perusahaan kereta api yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) akhirnya mengambil alih kekuasaan perkeretaapian dari tangan Jepang.

Ya, tepatnya pada tanggal 28 September 1945 silam, Ismangil dan beberapa anggota AMKA lainnya menyatakan sikap resmi bahwa kekuasaan perkeretaapian mulai hari itu beralih ke tangan bangsa Indonesia. Keputusan itu membuat Jepang tak berkutik, bahkan tidak memiliki kuasa untuk mencampuri urusan perkeretaapian di Indonesia. Sejak itulah, tanggal 28 September ditetapkan sebagai Hari Kereta Api serta dibentuknya Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI).

Nama DKA berubah menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA), semasa Orde Lama. Lalu, pada tanggal 15 September 1971 berubah menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Kemudian, pada tanggal 2 Januari 1991, PJKA berubah menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka), dan semenjak tanggal 1 Juni 1999, Perumka mulai menunjukkan keterbukaannya dan berubah menjadi PT Kereta Api (Persero) (PT KA). Pada bulan Mei 2010, nama PT KA berubah menjadi PT Kereta Api Indonesia (Persero) (PT KAI), hingga saat ini.

Berikut ini perkembangan kereta api Indonesia dari masa ke masa, yang dilansir MONITOR:

1. Tahun 1867, kereta api di Indonesia pertama kali beroperasi
Dalam catatan sejarah, kereta api Indonesia pertama kali dioperasikan di ruang publik pada Sabtu, 10 Agustus 1867. Pada percobaan perdana itu, jalur Kereta api yang digunakan menghubungkan Desa Kemijen di Semarang Timur dengan Desa Tanggungharjo di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, melalui relasi Stasiun Samarang – Stasiun Tanggung. Panjang lintasannya hanya mencapai 27 kilometer. Pada operasi perdana, kereta api ini singgah di Stasiun Alas Tua dan Stasiun Brumbung sebelum akhirnya berhenti di tujuan akhirnya. Saat itu, adanya fastnitas Kereta api digunakan untuk memasok kebutuhan militer dan mobilitas hasil bumi Belanda di Kota Semarang.

2. Pembangunan jalur transportasi di Pulau Jawa oleh kolonial Belanda
Di masa penjajahan, pemerintah kolonial bekerja keras membuka jalur kereta api di sepanjang Pulau Jawa untuk memudahkan mobilisasi hasil bumi dan keperluan militer. Tentunya, pembangunan pesat ini menjadikan Pulau Jawa sebagai satu-satunya pulau yang memiliki jalur transportasi paling lengkap pada masanya. Kota-kota di Jawa terhitung sudah terhubung melalui jalur kereta api, bahkan jauh sebelum proklamasi diresmikan.

3. Tahun 1925, kereta listrik pertama di Tanah Air beroperasi
Teknologi kereta api listrik masuk di Indonesia pertama kalinya pada tahun 1925. Kereta api tersebut menggunakan lokomotif listrik seperti ESS 3201 dan beroperasi pertama kali di kawasan Jabodetabek. Elektrifikasi jaringan rel keretanya sendiri telah dibangun pada tahun 1923 oleh perusahaan Electrische Staats Spoorwegen (ESS) yang merupakan bagian perusahaan kereta api Batavia khusus mengelola sarana, prasarana, dan operasional kereta listrik. Awal mulanya, kereta listrik pertama memiliki julukan “si Bon-Bon” atau “Djokotop”. Sepanjang tahun 1926 hingga tahun 1970-an, si Bon-Bon melayani relasi Tanjung Priok – Jatinegara (dulunya bernama Meester Cornelis) dan berlanjut melayani relasi Depok – Bogor (dulunya bernama Buitenzorg).

4. Tahun 1953, dieselisasi meramaikan industri kereta api Indonesia
Di tahun 1953, perkembangan teknologi kereta api di Tanah Air makin berkembang. Terjadi dieselisasi pada masa ini, dimana lokomotif uap beralih menjadi lokomotif diesel. Peralihan tersebut ditandai dengan datangnya lokomotif CC200 ke Indonesia dari Amerika Serikat. Lokomotif produksi General Electric tahun 1953 ini menjadi kereta diesel elektrik dengan kabin ganda pertama di Tanah Air. Kereta ini juga berjasa mengangkut rombongan peserta Konferensi Asia Afrika tahun 1955 yang terlaksana di Kota Bandung.

5. Sistem pemesanan tikel Kereta api secara digital
Memasuki usia ke 150 tahun, perkeretaapian di Indonesia semakin dewasa dalam berbenah. Beragam fasilitas mutakhir dan inovatif memberikan semangat baru dan menyamanan bagi para konsulen Kereta api. Misalnya, untuk reservasi tiket kereta bisa dilakukan secara online atau melalui transaksi elektronik. Industri digital memang memberikan kemudahan dalam segala hal pelayanan. Selain itu, kecanggihan teknologi menawarkan beraagam fitur menarik dan membuat semuanya jauh lebih praktis.