Mensiasati Kekeringan dengan “Lombheung”

1036

MONITOR , Sumenep – Musim kemarau saat ini masih melanda sebagian besar wilayah di Indonesia. Tak terkecuali di Pulau Madura yang dikenal dalam sejarah sebagai ‘Pulau Garam’. Sinar matahari yang terik dan wilayahnya yang relatif datar menjadikan pulau ini sebagai produsen garam nasional sejak jaman penjajahan Belanda.

Kementerian Pertanian mendorong masyarakat terus memproduksi dan menghasilkan bahan pangan walaupun kondisi alam relatif kering. Dirjen Hortikultura Suwandi menyebutkan bahwa dalam kondisi minim air seperti saat ini, komoditas hortikultura seperti bawang, cabai, dan aneka sayuran lainnya cukup menjanjikan untuk ditanam karena komoditas ini relatif tidak butuh banyak air.

Salah satu teknologi sederhana yang digunakan untuk medorong pertanaman hortikultura di musim kemarau adalah “lombheung”. Lombheung dalam bahasa Madura berarti lubang air atau tandon air, terbuat dari bahan sederhana seperti bambu dan plastik atau terpal. Tandon ini digunakan untuk menampung air dari sumber mata air, untuk kemudian dipakai menyiram tanaman budidaya seperti bawang, cabai dan tembakau. Satu “lombheung” ukuran diameter 1,5 sampai 2 meter mampu menampung air 2 sampai 3 meter kubik air.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Prihasto Setyanto saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Sumenep (16/9) melihat bahwa teknologi sederhana dan murah ini bisa direplikasi di daerah kering lainnya. “Ini menarik, wilayah Madura yang dikenal sebagai daerah kering ternyata mampu dihijaukan dengan teknologi sederhana tandon air ini. Murah tapi tepat guna” terang Prihasto.

Kepala Dinas Pertanian TPH Perkebunan Kabupaten Sumenep, Bambang Heriyanto, yang turut mendampingi kunjungan menyebut petani bawang merah di wilayahnya sejak dulu memang terkenal kreatif mensiasati kondisi alam. “Petani bawang merah di Sumenep sudah terlatih menghadapi kondisi keterbatasan air. Cukup dengan bambu dan plastik bisa disulap jadi tandon air. Anti bocor dan anti maling”, seloroh Bambang. “Berkat kegigihan dan kecerdikan petani mengatur air, mereka bisa tanam bawang merah 2-3 kali setahun”, timpalnya.

Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Rubaru Sumenep, Sa’dawijayadi, menjelaskan teknologi sederhana tandon air atau koakan air (kola; loembheung dalam bahasa madura), awalnya adalah inisiatif petani setempat dalam mensiasati musim kemarau agar air bisa dihemat namun tetap mampu memenuhi kebutuhan tanaman seperti bawang merah dan tembakau.

“Rangka bak tandon cukup dibuat dari bahan sayatan bambu yang dianyam menjadi bronjong berbentuk tabung dengan diameter 1,5 hingga 2 meter dan kedalaman 1 meter. Penampung airnya menggunakan bahan plastik UV ketebalan 0.4 mm – 0.5 mm yang diikatkan melingkar ke tepi rangka bronjong. Jumlah bak yang dibutuhkan rata-rata 8 hingga 10 unit per hektar. Antar bak satu dengan yang lain terhubung pipa paralon berukuran 4 dim. Sumber mata air bisa dari atas bukit yang dialirkan secara gravitasi, sungai atau dari sumur bor”, tutur penyuluh senior yang akrab dipanggil Yadi ini.

“Biaya yang dibutuhkan untuk membuat tandon air tradisional tersebut relatif murah, hanya Rp 70 ribu sampai Rp 100 ribu per unit yang terdiri komponen pembelian bambu dan plastik. Kalau menggunakan rangka besi dan plastik UV yang bagus bisa mencapai Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta per unitnya”, tambah Yadi.

Samsul Arifin, petani bawang merah Desa Batuguluk Basoka Kecamatan Rubaru mengaku teknologi sederhana ‘loembheung’ sangat membantunya menampung dan mengelola air yang terbatas di musim kemarau. “Dengan bak sederhana ini kami tetap bisa menanam bawang merah meski tidak seluas musim hujan. Biasanya panenan hasil tanam di musim kemarau ini bagus dipakai untuk bakal benih musim tanam raya Januari-Februari nanti”, kata Samsul.

“Untuk tanaman tembakau kurang lebih perlu 10 sampai 12 unit lombheung kapasitas 2 sampai 3 meter kubik air” ujar Samsul yang juga penangkar bawang merah Rubaru itu. “Untuk bawang merah perlu lebih banyak lagi, paling tidak perlu dua sampai tiga kali pengisian lombheung sampai panen bawang merah” tambahnya.

“Kami berharap pemerintah bisa bantu memperbanyak unit tandon air ini, tapi bahannya kalo bisa dari rangka besi biar lebih awet. Paralon dan embung induk juga akan sangat membantu petani”, pungkas Samsul berharap.