STORI

Haornas, Momentum Kebangkitan Olahraga Nasional

MONITOR – Hari ini, minggu tanggal 9 September 2018 merupakan hari yang spesial bagi dunia olahraga tanah air. Ada yang tahu kenapa? Ya, hari ini merupakan Hari Olahraga Nasional (Haornas). Selain menjadi hari yang spesial bagi masyarakat olah raga, Haornas juga merupakan cikal bakal dari Pekan Olahraga Nasional (PON) di Indonesia.

Haornas yang diperingati setiap tahun seakan mengingatkan kita, bahwa olahraga harus terus dibudayakan oleh seluruh rakyat Indonesia di seluruh penjuru negeri.

Oleh karena itu, berbagai kegiatan olahraga yang dilaksanakan tidak hanya bersifat meriah dan massal, tetapi memotivasi masyarakat agar tetap membudayakan berbagai cabang olahraga di Indonesia untuk meraih prestasi di dalam negeri ataupun di luar negeri.

Berkaitan dengan PON, pada tanggal 9 September 1948 PON pertama kali dibuka secara resmi oleh Presiden Soekarno dan diadakan di kota Solo, Jawa Tengah.

Kemudian, acara penutupannya dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX selaku Komite Olimpiade Republik Indonesia (KORI).

Pekan Olahraga Nasional I ini diikuti oleh sekitar 600 atlet yang bertanding pada 9 cabang olahraga yang memperebutkan sebanyak 108 medali.

Pesertanya bukan pada tingkat provinsi melainkan pada tingkat Kota dan Karesidenan, sebanyak 13 partisipan ikut serta. Juaranya adalah Karesidenan Surakarta dengan total medali sebanyak 36 medali.

PON pertama kali diikuti oleh peserta yang berasal dari tingkat karesidenan atau kota. Ada 13 kerasidenan atau kota yang berpartisipasi pada PON pertama, yaitu Yogyakarta, Madiun, Magelang, Semarang, Bandung, Malang, Surakarta, Surabaya, Pati, Kedu, Banyuwangi, dan Jakarta.

Pada waktu itu, kota Solo atau Surakarta menjadi juara atas PON dengan meraih 36 medali dari total 108 medali (emas, perak, perunggu). Selanjutnya, PON ini diikuti sekitar 600 atlet yang berkompetisi dalam memperebutkan medali di sembilan cabang olahraga, yaitu Bulu Tangkis, Tenis, Panahan, Renang, Bola basket, Atletik, Lempar Cakram, Sepak Bola, dan Renang.

Yang perlu diketahui oleh seluruh Bangsa Indonesia adalah bahwa pelaksanaan PON ini bukan hanya terkait pada prestasi olahraga dalam negeri saja, melainkan berhubungan dengan gengsi serta harkat dan martabat Bangsa dan Negara.

Mengapa demikian? Berawal dari penyelenggaraan olimpiade ke-14 di London yang mana Inggris sebagai tuan rumah menolak kehadiran atlet Indonesia, karena Indonesia yang baru saja merdeka dianggap belum memiliki prestasi di bidang olahraga manapun dan belum layak untuk mengikuti olimpiade tersebut.

Pada dasarnya, alasan tersebut bukanlah alasan yang sebenarnya, akan tetapi Inggris menolak kehadiran atlet Indonesia karena pada waktu itu Inggris merupakan sekutu Belanda dan Belanda pun masih belum menerima kemerdekaan Indonesia.

Akhirnya, dari rasa ketersinggungan tersebut Indonesia tak mau putus semangat, Persatuan Olahraga Indonesia menggelar konferensi darurat di Solo tahun 1948 untuk mengadakan PON.

PON itu menandakan bahwa Indonesia ada dan perjuangan tersebut menjadikan PON selalu hidup dari masa ke masa.

Maka dari itu, dengan adanya peringatan Hari Olahraga Nasional dan PON ini, seluruh bangsa Indonesia dapat mengingat sejarah bagaimana Hari Olahraga Nasional dan PON terjadi.

Semoga bangsa Indonesia tetap mempertahankan prestasi-prestasi di berbagai bidang olahraga dan juga menunjukkan bahwa Indonesia mampu untuk bersaing dalam kompetisi dari berbagai cabang olahraga di mata dunia.

Tidak lupa pula bahwa dari sejarah yang terjadi, diharapkan agar semua atlet baik putra dan putri bisa memotivasi dirinya sendiri untuk terus bersemangat, kreatif dan berkembang dalam mensukseskan semua bidang olahraga di Indonesia.

Selamat memperingati Hari Olahraga Nasional 9 September 2018.

Recent Posts

Hadiri Peringatan Hari Bhayangkara 2026, Puan: Polri Harus Terus Buktikan Komitmen Sebagai Pelayan Masyarakat

MONITOR, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menghadiri upacara peringatan ke-80 Hari Bhayangkara Tahun…

4 jam yang lalu

Kasus Dokter di NTT, Komisi IX DPR: Tenaga Kesehatan Harus Dilindungi dari Intimidasi dan Didukung Kesehatan Jiwanya

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menyampaikan duka cita mendalam…

4 jam yang lalu

DPR Desak Pemerintah Konkretkan Formula Pembiayaan PPPK di Daerah Melalui APBN

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi II DPR Muhammad Khozin meminta pemerintah pusat untuk segera mengkonkretkan…

6 jam yang lalu

HUT Bhayangkara ke-80: Analis: Kepercayaan Publik Jadi Modal Kuat Polri Kawal Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur

MONITOR, Jakarta - Memperingati Hari Bhayangkara ke-80, analis intelijen, pertahanan, dan keamanan, Dr. Ngasiman Djoyonegoro…

14 jam yang lalu

Puan Imbau Latihan Calon Manajer Kopdes Merah Putih Fokus Pada Manajerial Saja

MONITOR, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan belasungkawa menyusul meninggalnya 5 orang peserta…

1 hari yang lalu

Menghidupkan Kembali ‘Roh’ Keikhlasan Guru di Tengah Badai Administrasi Digital

Oleh: Zizah Nurazizah (Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Universitas Pamulang) Dunia pendidikan kita hari ini sedang…

1 hari yang lalu