POLITIK

Demokrat Akui Aturan Presidential Threshold Jadi Ganjalan

MONITOR, Jakarta – Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Pandjaitan mengatakan, berdasarkan hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) beberapa waktu lalu, partainya hingga kini masih mempertimbangkan kader yang hendak disiapkan pemimpin nasional. Hal ini akibat terganjal adanya aturan ambang batas pencalonan presiden 20-25 persen.

Oleh karena hal itu, Hinca menegaskan partainya sejauh ini masih mencari celah untuk menentukan sikap Demokrat dalam menghadapi pertarungan Pilpres 2019 mendatang.

“Pimpinan nasional itu kan bisa presiden atau wapres. Bisa jadi bisa tidak, jadi karena persyaratan karena itu lah sampe hari ini belum kita umumkan apapun tapi kita masih menunggu saat sampe ujungnya siapa tahu masih bisa dan kami masih bisa,” kata Hinca di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (12/7).

Meski begitu, ia menuturkan hal tersebut tak membuat partai Demokrat tidak menentukan sikap pada pilpres nanti. Menurutnya arah dukungan masih terus dipertimbangkan untuk koalisi, entah akan merapat ke kubu Jokowi atau kubu Prabowo.

“Gak kalau itu gak. kami tetap mengambil keputusan apakah ke Jokowi apakah ke Prabowo apakah bukan Jokowi dan bukan Prabowo. kami tetap menyusun,” ujarnya.

“Yang pasti tidak kaya lalu, dan Pak SBY seperti itu, dari kami juga seperti itu,” sambung Hinca.

Lebih dari itu, Hinca pun menepis isu kalau Ketua Umum SBY telah berjanji akan mempertimbangkan opsi untuk mendukung Jokowi. Akan tetapi ia menegaskan kalau partainya akan menentukan arah dukungan dan terus menjajaki komunikasi agar dapat menentukan posisi Demokrat.

“Bukan janji. Diskusi itu banyak diskusinya. Bertukar informasi bagaimana kalau begini semua opsi itu terbuka namanya sharing dan nanti dilanjutkan lagi. Sampai hari ini tetap kayak orang main catur ini kan, dan sampe hari ini juga belum ada yang mendeklarasikan pasangan itu kecuali mendukung salah satu capres. 29 hari ke depan bukanlah waktu yang panjang dan komunikasi jalan,” tandasnya.

Recent Posts

BBM Nelayan Rp15.000, GNTI: Benahi Akses dan Tata Kelola agar Kebijakan Tepat Sasaran

MONITOR, Jakarta – Ketua PP Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) Bidang Nelayan, Sarana dan Prasarana,…

19 menit yang lalu

LSAK Desak Presiden Copot Jaksa Agung, Sebut Jadi Tolok Ukur Independensi Pengusutan Dugaan Korupsi Eks Jampidsus

MONITOR, Jakarta – Lembaga Studi Anti Korupsi (LSAK) mendesak Presiden segera mencopot Jaksa Agung ST.…

48 menit yang lalu

Kemnaker Petakan Kebutuhan Industri Jepang untuk Perluas Peluang Kerja bagi Tenaga Kerja Indonesia

MONITOR, Jakarta – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memetakan kebutuhan industri Jepang dalam upaya menyelaraskan penyiapan tenaga…

5 jam yang lalu

Komnas Haji: Skema Biaya Haji 2027 Populis tapi Berpotensi Mengganggu Keberlanjutan

MONITOR, Tangerang Selatan - Ketua Komnas Haji, Dr. H. Mustolih Siradj, S.H.I., M.H., menilai rancangan…

6 jam yang lalu

Legislator Soal Remaja Diperkosa 27 Orang: Ini Extraordinary Crime yang Perlu Penanganan Luar Biasa

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah menyatakan keprihatinannya atas kasus dugaan pemerkosaan…

10 jam yang lalu

Legislator Usul DPR Gunakan Hak Angket Atasi Ketegangan Polri Vs Kejaksaan Buntut Kasus Hukum Eks Jampidsus

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi III DPR RI, Benny K Harman meminta DPR menggunakan hak…

10 jam yang lalu