EKONOMI

Anjloknya Nilai Tukar Rupiah, Ekonom: Ini Salah Satu Penyebabnya

MONITOR, Jakarta – Ekonom sekaligus aktivis dan pengamat pertambangan Salamudin Daeng menilai, kian anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar tidak terlepas dari dinamika politik di Indonesia, terlebih pada ajang Pilkada serentak dan jelang Pilpres 2019 nanti.

Hal itu menanggapi posisi rupiah terhadap dolar yang sudah menyentuh pada level Rp14.241 per dolar Amerika Serikat (AS).

“Adanya kekhwatiran terkait perkembangan politik sepanjang 2018-2019 atau tahun politik. Kekuasaan dan kebijakan pemerintah tidak akan berjalan secara efektif, kebijakan pemerintah pusat akan sulit dijalankan,” kata Salamudin, di Jakarta, Kamis (28/6).

Sehingga, sambung dia, fragmentasi kekuasaan pemerintah daerah tersebar secara acak. Sementara itu, elite politik sepanjang 2018 akan lebih sibuk mencari dana untuk bisa berkuasa lagi di tahun 2019 mendatang.

“Dapat dipastikan fundamental ekonomi yang buruk tidak akan terurus. Investor, anggaran negara, berpeluang besar akan menjadi bancakan elite politik,” sebut dia.

Selain itu, Salamudin juga menjelaskan cerminan ekonomi suatu negara terhadap negara lain dan internasional dapat dinilai dari neraca eksternal negara tersebut. Jika komponen defisitnya banyak dan besar maka keadaan ekonomi negara tersebut relatif kurang baik.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), sejak tahun 2015 sampai dengam akhir tahun 2017 keadaan neraca eksternal Indonesia (dihitung berdasarkan kurs Rp 14.000 /USD sebagai berikut :

1. Terjadi defisit neraca transkasi berjalan secara akumulatif senilai Rp. 727,9 triliun. Rp. 727,9 triliun. Jika ditambah defisit Q1 2018 maka defisitmya mencapai Rp.805,5 triliun.

2. Terjadi defisit perdagangan migas secara akumulatif mencapai Rp.249,5 triliun. Jika ditambah defisit Q1 2018 maka nilai defisit mencapai Rp.282,6 triliun.

3. Terjadi defisit dalam transkasi jasa jasa secara akumulatif mencapai Rp. 330,5 triliun. Jika ditambah defisit Q1 2018 maka nilai defisit mencapai Rp.350,5 triliun.

4. Terjadi defisit pendapatan primer secara akumulatif mencapai Rp. 1.274,1 triliun. Jika ditambah defisit pada Q1 2018 maka nilai defisit mencapai Rp. 1.384,5 triliun.

“Aliran uang dalam jumlah sangat besar inilah yang mengakibatkan mata uang rupiah sangat rentan terhadap faktor ekternal,” paparnya .

“Aliran uang yang terus menerus ke luar negeri dan terus berlangsung sampai saat ini, itulah yang akan menyebakan rupiah akan terus terperosok seiring perjalanan waktu,” pungkas dia.

Recent Posts

UU PPRT Diharap Jamin Hak Hingga Tingkatkan Harkat dan Martabat PRT

MONITOR, Jakarta - DPR RI baru saja mengesahkan Undang-undang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT).…

10 jam yang lalu

DPR Soroti Kenaikan Harga Minyak Goreng Hingga BBM yang Beratkan Rakyat

MONITOR, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok dampak dinamika…

10 jam yang lalu

Unhan RI Kukuhkan Prof. Aris Sarjito sebagai Guru Besar, Tegaskan Keniscayaan Modernisasi Pertahanan

MONITOR, Bogor - Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) resmi mengukuhkan Prof. Dr. Ir. Aris…

16 jam yang lalu

Kementerian UMKM–SIPPO Lepas Ekspor 24 Ton Gula Kelapa ke Ghana

MONITOR, Semarang – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Republik Indonesia bersama Swiss Import Promotion…

18 jam yang lalu

Kemenhaj Pastikan Layanan Kesehatan 24 Jam di Madinah, Sistem Rujukan Rumah Sakit Siaga untuk Jemaah Haji 2026

MONITOR, Madinah — Kementerian Haji dan Umrah RI memastikan layanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia di…

18 jam yang lalu

DPR Sahkan UU PPRT, Ketua Komisi XIII DPR: Ini Komitmen Tinggi Memanusiakan Manusia

MONITOR, Jakarta - Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya menyambut baik disahkannya Undang-undang Pelindungan…

20 jam yang lalu