POLITIK

Pengamat Sebut Pemerintah Salah Keluarkan Kebijakan Pembangunan

MONITOR, Jakarta – Pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy mengkritisi kebijakan pemerintah yang dinilainya tidak tepat. Akibatnya ekonomi Indonesia mengalami kesulitan.

“Kenapa kondisi ekonomi kita bisa sesulit ini? Ini karena menteri-menter Presiden Joko Widodo (Jokowi) banyak melakukan kebijakan yang salah dalam melakukan pembangunan infrastruktur,” kata Ichsanuddin dalam diskusi yang digelar KAHMI Jaya, di Sekretariat Bersama The Kemuning, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (2/6).

Ichsanudin pun mencontohkan, rencana pencairan dana pinjaman dari Bank Dunia pada bulan  ini yang dianggapnya belum dapat mengatasi semua persoalan. Kata dia, pinjaman tersebut bahkan lebih menjadikan negara semakin terpuruk. Saat ini menurutnya pinjaman luar negeri sudah mencapai Rp.5, 941 triliun.

“Kita jangan main-main soal dollar. Jokowi harus membenarkan surplus. Rencana pinjaman Bank Dunia dalam waktu dekat 300 jt USD bukan jaminan. Bahkan pinjaman itu bisa menjadikan Indonesia makin hancur. Indonesia dikasi darah tapi tidak menolong,” tegasnya

“Utang luar negeri sekarang Rp 5, 941 miliar. Untuk mengatasi sedikit persoalan ini seharusnya posisi tukar rupiah diperbaiki dahulu yakniebesar Rp.13,700,” tambahnya.

Dilain pihak, berbicara soal imigran gelap dan tenaga kerja asing (TKA), yang banyak masuk ke tanah air. Ichsanudin menilai hal itu pun salah satu bagian dari keputusan salah.

Pasalnya, disaat negara-negara lain tengah sibuk melakukan pengetatan untuk melindungi kesejahteraan warganya, seperti Inggris dengan brexitnya serta Amerika dengan proteksionisme, Indonesia sebaliknya. Bahkan terbaru Presiden Jokowi memperbolehkan warga negara asing duduki jabatan strategis di BUMN.

Situasi impor TKA saat ini, menurut Ichsanudin, gejalanya mirip dengan situasi di Amerika tahun 2004 silam. Dimana George Walker Bush yang merupakan sosok incumbent kala itu berhasil memenangkan pemilihan presiden dengan menggaet para imigran melalui kebijakan pemberian kredit murah rumahan.

“Kita lihat dalam perspektif ekonomi. Saya mengambil contoh paling menarik adalah ketika perbandingan nyata di Amerika, George Walker Bush waktu kampanye 2004, ia memberdayakan imigran dengan kredit murah rumahan. Saya ulangi lagi, Bush ketika melawan John Kerry, ia memenangkan pemilihan dengan cara memberikan kredit murah rumahan,” ungkapnya.

Menurut Ichsanuddin, Trump pada intinya ingin melakukan proteksionisme. Yakni melakukan perlindungan terhadap kesejahteraan warganya di dalam negeri Amerika sendiri.

“Ini juga saya tanyakan ke Sri Mulyani. Ketika saya berdiskusi di PTIK dengan Sri Mulyani dan Agus Martowardojo (bankir yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Bank BI), apakah kebijakan Donald Trump dengan proteksionismenya itu adalah kebijakan deglobalisasi atau globalisasi?” pungkasnya.

Recent Posts

Prof. Ahmad Tholabi Kharlie: Amandemen Konstitusi Harus Menjadi Langkah Terakhir dalam Menata Desentralisasi

MONITOR, Tangsel - Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, S.H.,…

1 jam yang lalu

Kemenhaj Buka Opsi Maskapai Alternatif untuk Tekan BPIH 2027

MONITOR, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI membuka opsi penggunaan maskapai alternatif dalam…

4 jam yang lalu

Rekor Pendaftar Terbanyak: 3.420 Abstrak Bersaing Ketat di AICIS+ 2026, 384 Naskah Lolos Seleksi

MONITOR, Jakarta - Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis), Direktorat…

7 jam yang lalu

Kemnaker Minta Peserta MagangHub Batch 2 Tertib Administrasi

MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) meminta peserta MagangHub Batch 2 Angkatan II tertib memenuhi…

8 jam yang lalu

Menteri UMKM Ajak Mahasiswa Jadi Pencipta Solusi melalui Kewirausahaan

MONITOR, Bandung - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengajak mahasiswa mengembangkan…

8 jam yang lalu

Panen Demplot ExtraGen di Malang Tembus 12,5 Ton per Hektare, Pemkab Siapkan Pengembangan Lebih Luas

MONITOR, Malang - Pemerintah Daerah Kabupaten Malang bersama PT Indoraya Mitra Persada 168 (IMP 168)…

24 jam yang lalu