NASIONAL

Aksi Napiter di Mako Brimob Dianggap Murtad?

MONITOR, Jakarta – Mako Brimob sudah aman terkendali. Itu setelah dilakukan penindakan yang intensif oleh pihak kepolisian mengenai pertikaian antara para narapidana terorisme (napiter) dengan beberapa petugas di Rutan cabang Salemba area Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Akibat kejadian itu, enam nyawa terenggut dari pihak kepolisian berjumlah 5 anggota brimob dan salah satu napiter tersebut.

Menanggapi hal itu, Pengamat Terorisme Al-Chaidar mengatakan kalau sikap yang ditunjukan oleh para narapidana terorisme dengan menyerah kepada pihak kepolisian, dinilai sebagai sikap yang sangat memalukan bagi dunia gerakan terorisme yang terkenal radikal.

“Ya itu sebuah insiden yang sangat memalukan bagi dunia pergerakan radikal, yang begitu lekat dengan tindakan mereka yang sadis dan brutal. Tetapi pada kejadian kasus di Mako Brimob takut mati, dan akhirnya menyerah,” kata Al-Chaidar saat dihubungi oleh MONITOR, Jakarta, Kamis, (10/5).

Menurutnya, tindakan dari para napiter tersebut diibaratkan oleh Al- Chaidar seperti halnya pindah agama, yang jelas-jelas sangat memalukan.

“Menyerah itu memalukan, Itu tindakan murtad,” ujar pria berdarah Aceh ini.

Meski begitu, ia beranggapan kalau sikap yang telah ditunjukan oleh para napiter tersebut dengan menyerah begitu saja kepada pihak kepolisian ialah merupakan komando dari kelompok pemimpin mereka (Oman Abdurrahman).

“Iya murtad itu, karena pemimpinnya yang meminta untuk menyerah,” tukasnya.

Dengan begitu, Al-Chaidar juga mengklaim bahwa pemimpin mereka (Aman Abdurrahman) terlalu lembut dan tidak begitu keras melakukan perlawanan kepada pihak kepolisian. Aman alias Oman Rachman ini juga merupakan orang yang diduga menjadi otak atau dalang bom Thamrin pada 14 Januari 2016 lalu.

“Menyangkut lembeknya kepemimpinan mereka. Oman Abdurrahman sangat lembut terhadap aparat,” ungkap pria yang mengaku pernah ikut gerakan NII (Negara Islam Indonesia) Abu Toto Abdussalam sejak 1991-1996.

Hanya saja, ia kemudian keluar dari keanggotaan kelompok tersebut. Dia beralasan, kelompok itu melakukan penyimpangan luar biasa sejak 1993.

Sementara itu, terkait kejadian yang menimpa aparat kepolisian, Al-Chaidar menilai pihak kepolisian sudah melakukan tindakan dengan benar yang sesuai dengan prosedur negoisasi.

“Sudah bertindak benar,” tutup Al-Chaidar.

Recent Posts

Mudik Tenang, Polda Banten Buka Layanan Penitipan Kendaraan Gratis

MONITOR, Serang-Banten - Guna memberikan rasa aman bagi masyarakat yang merayakan Idulfitri di kampung halaman,…

43 menit yang lalu

Tindak Lanjut Asesmen Ditjen Pendis, Prodi PAI FITK UIN Jakarta Perkuat Kompetensi BTQ Mahasiswa

MONITOR, Tangerang Selatan - Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan…

2 jam yang lalu

Soliditas Menguat, BPC HIPMI Lumajang All Out Dukung Jawa Timur Tuan Rumah Munas XVIII HIPMI 2026

MONITOR, Lumajang – BPC HIPMI Lumajang secara resmi menyatakan dukungan penuh kepada BPD HIPMI Jawa…

2 jam yang lalu

Mudik Aman, Kemenag Siapkan 6.800 Masjid Jadi Tempat Istirahat

MONITOR, Jakarta - Kementerian Agama kembali akan mengoptimalkan peran masjid sebagai tempat beristrahat bagi para…

4 jam yang lalu

Mahfuz Sidik: Perang Iran-Israel Picu Krisis Dunia

MONITOR, Jakarta - Ketua Komisi I DPR 2010-2017 Mahfuz Sidik mengatakan, konflik yang terjadi antara…

5 jam yang lalu

Kementan Lepas Ekspor 545 Ton Produk Unggas ke Tiga Negara, Nilai Tembus Rp18,2 Miliar

MONITOR, Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melepas ekspor 545 ton produk unggas…

6 jam yang lalu