BUMN

Said Didu Beberkan Tiga Persoalan Sistemik Garuda Indonesia

MONITOR, Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu menanggapi masalah sistemik yang tengah terjadi di internal Garuda Indonesia. Menurutnya, mogok kerja para pilot dan karyawan dinilai sebagai hal yang wajar, melihat penerbangan nomor satu ini mengalami tiga persoalan sekaligus.

“Sebelumnya, ancaman mogok kerja seperti ini sudah sering, saya memaklumi kegelisahan para karyawan” terangnya pada MONITOR (monitor.co.id), Senin (7/5).

Menurut Said Didu, terdapat tiga hal yang terjadi dengan pengelolaan perusahaan maskapai plat merah tersebut. Pertama persoalan keuangan merosot, kedua kelancaran operasional penerbangan dan ketiga munculnya maskapai penerbangan yang menawarkan pelayanan dan ketepatan waktu penerbangan lebih baik.

“Ini bisa menjadi siklus berkepanjangan, sebab jika persoalan keuangan tapi operasional (ketepatan waktu) bagus maka konsumen bisa kembali.” bebernya.

Said Didu

Said Didu menegaskan jika inti masalah dimaksud ialah tuntutan untuk mengganti direksi dengan orang yang lebih paham tentang dunia penerbangan.

“Bahwa industri penerbangan berkunci pada kepercayaan, baik keselamatan, pelayanan, ketepatan waktu dan harga,” katanya dengan nada tinggi.

“Kenapa bisa merosot keuangannya, karena keunggulan garuda lah yang terganggu, mulai dari waktu penerbangan, pelayanan. Ini tentu terkait keandalan direktur operasional nyadalam mengatasi” tambahnya.

Persoalan keandalan direktur operasional juga mencari masalah yang kern terjadi, pasalnya menurut Said Didu yang seharusnya menduduki posisi itu ialah pilot senior yang mengerti betul operasional.

“Dan ini kan tidak, justru berasal dari dunia perbankan (yang mengisi posisi direktur Operasional-red),” tegasnya..

Adapun solusi untuk mengembalikan keadaan maskapai Garuda Indonesia tegas Said Didu adalah harus betul tepat memilih direksi yang menjadi dan mampu mengendalikan keseimbangan operasional.

Sebelumnya, Presiden Asosiasi Pilot Garuda Indonesia (APG) Captain Bintang Hardiono memastikan mereka tetap akan mogok jika hingga awal Juni 2018 tidak ada perombakan direksi.

Masalah yang dimaksud bermula sejak tahun lalu, di mana dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) April 2017 posisi Direktur Operasi dan Direktur Teknik ditiadakan. Hal itu menimbulkan kendala untuk mereka yang ada pada tataran operasional karena ada audit untuk Airport Operating Certificate (AOC) yang penanggung jawabnya adalah kedua direktur itu.

Belakangan, posisi kedua direktur tersebut diadakan kembali namun bukan dari mekanisme RUPS, melainkan penunjukan langsung oleh Direktur Utama.

Recent Posts

MUI Desak Platform Global Patuhi PP TUNAS, Tegaskan Kedaulatan Digital dan Perlindungan Anak

MONITOR, Jakarta — Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan pentingnya kedaulatan digital dan perlindungan moral generasi bangsa…

3 jam yang lalu

Tiga Orang Eks OPM Berikrar Kembali ke NKRI

MONITOR, Papua - Komando Operasi (Koops) TNI Papua kembali mencatatkan langkah positif dalam upaya menciptakan…

3 jam yang lalu

Volume Lalu Lintas Kembali ke Jabotabek Pada H-10 s.d H+7 Hari Raya Idulfitri Capai 2,77 Juta Kendaraan

MONITOR, Jakarta - Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk Rivan A. Purwantono menyampaikan bahwa…

3 jam yang lalu

Bazar Rakyat Jadi Momentum Gerakkan Ekonomi UMKM Pascalebaran

MONITOR, Jakarta – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menegaskan penyelenggaraan Bazar Rakyat bertajuk…

11 jam yang lalu

471 Ribu Kendaraan Padati GT Cikampek Arah Jakarta Saat Arus Balik

MONITOR, Cikampek – Arus balik Lebaran 2026 dari wilayah Timur Trans Jawa menuju Jakarta masih…

14 jam yang lalu

Mendag Pastikan Stok Sembako Aman, Harga Bapok di Pasar Minggu Terkendali

MONITOR, Jakarta – Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan ketersediaan barang kebutuhan pokok (bapok) pasca-Lebaran dalam kondisi…

18 jam yang lalu