Categories: HUKUMNASIONAL

Kepala Daerah Kerap Terjaring OTT, Pengamat Singgung soal Mahar Politik

MONITOR, Jakarta – Hampir beruntun dalam beberapa hari terakhir, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan beberapa kepala daerah dalam operasi tangkap tangan (OTT) baik diduga terlibat suap maupun korupsi.

Menanggapi hal tersebut, Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Mercubuana Maksimus Ramses Lalongkoe mengatakan, banyaknya OTT di kalangan kepala daerah menunjukkan bahwa perilaku mereka sudah tidak relevan sebagai pemimpin.

Maka itu, ia meminta kepada semua pihak untuk mendorong KPK agar terus memerangi praktik korupsi.

"Ini kepala daerah sudah brutal, sudah engga ada rasa malu dan sudah engga ada hati lagi. Mereka telah menghancurkan republik ini melalui prilaku korupsi yang mereka lakukan. Ini fenomena mengerikan saat ini dan kita berharap KPK terus lakukan OTT terhadap para kepala daerah yang terduga korupsi," ujar Maksimus saat dihubungi MONITOR di Jakarta (15/2).

Ia menduga, munculnya korupsi di kalangan kepala daerah lantaran adanya konspirasi terkait mahar politik untuk mendapatkan tumpangan hingga pendaftaran pilkada. "Biaya politik yang begitu mahal untuk menjadi kepala daerah membuat mereka harus menerima sumbangan tidak wajar," tutur Maksimus.

Kondisi tersebut, lanjut Maksimus, diperparah dengan mental pragmatis masyarakat dalam menentukan pemimpin. Padahal, hal itu sangat berbahaya bagi keberlangsungan demokrasi di Indonesia.

Untuk itu ia mengimbau, agar para calon pemimpin memiliki hati, memiliki rasa malu dan negara harus berperan dalam menyadarkan masyarakat agar tidak berpikir pragmatis dalam berdemokrasi. Menurutnya, hal itu bisa diatasi dengan mengalokasikan APBN untuk biaya politik calon dengan rumusan sistem yang baik.

Selain itu dia juga menilai, bahwa dalam hal ini KPK sudah bekerja benar dan rakyat harus mendukung langkah-langkah KPK dalam pemberantasan korupsi di indonesia.

"Hanya yang penting KPK harus jauh dari pesanan politik dan jangan tebang pilih, tapi harus benar-benar bekerja sesuai fakta hukum. Setidaknya KPK harus minimalisir interpretasi publik bahwa penangkapan dan penetapan seseorang jadi tersangka atas dasar pesan politik," pungkasnya. 

Recent Posts

Hadiri Peringatan Hari Bhayangkara 2026, Puan: Polri Harus Terus Buktikan Komitmen Sebagai Pelayan Masyarakat

MONITOR, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menghadiri upacara peringatan ke-80 Hari Bhayangkara Tahun…

1 jam yang lalu

Kasus Dokter di NTT, Komisi IX DPR: Tenaga Kesehatan Harus Dilindungi dari Intimidasi dan Didukung Kesehatan Jiwanya

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menyampaikan duka cita mendalam…

1 jam yang lalu

DPR Desak Pemerintah Konkretkan Formula Pembiayaan PPPK di Daerah Melalui APBN

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi II DPR Muhammad Khozin meminta pemerintah pusat untuk segera mengkonkretkan…

3 jam yang lalu

HUT Bhayangkara ke-80: Analis: Kepercayaan Publik Jadi Modal Kuat Polri Kawal Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur

MONITOR, Jakarta - Memperingati Hari Bhayangkara ke-80, analis intelijen, pertahanan, dan keamanan, Dr. Ngasiman Djoyonegoro…

11 jam yang lalu

Puan Imbau Latihan Calon Manajer Kopdes Merah Putih Fokus Pada Manajerial Saja

MONITOR, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan belasungkawa menyusul meninggalnya 5 orang peserta…

1 hari yang lalu

Menghidupkan Kembali ‘Roh’ Keikhlasan Guru di Tengah Badai Administrasi Digital

Oleh: Zizah Nurazizah (Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Universitas Pamulang) Dunia pendidikan kita hari ini sedang…

1 hari yang lalu