Categories: HUMANIORAPENDIDIKAN

Fenomena Lepas Jilbab dalam Kacamata MUI

MONITOR, Jakarta – Keputusan presenter kondang Rina Nose untuk melepaskan jilbab sempat membuat kaget banyak orang. Fenomena lepas jilbab ini pun menimbulkan sejumlah spekulasi diantara kalangan netizen.

Sebagian orang terdekat Rina mendukung, namun kebanyakan publik mencaci maki  dan menyayangkan tindakannya itu. Semua orang tahu, jilbab merupakan identitas seorang muslimah. Bagi muslimah, jilbab bukan lagi sebuah pilihan yang bisa dipilih atau diabaikan, melainkan suatu kewajiban.

Lantas bagaimana hukumnya dalam syariah Islam, apabila seorang muslimah dengan sengaja membuka jilbab mereka di ruang publik?

Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo menyatakan, kewajiban mengenakan jilbab sama halnya seperti menjalankan ibadah shalat. Namun sayangnya, tak semua muslimah mampu memahami hakikat jilbab yang sebenarnya.

"Hukumnya? ya jelas dosa. Melepas jilbab itu sama halnya seperti meninggalkan shalat dengan sengaja. Karena sudah tahu bahwa jilbab itu mutlak kewajiban kita terhadap Allah. Apabila ditanggalkan jilbabnya, maka kena dosa itu. Haram dilakukan, apalagi kalau sudah tahu," ujar Huzaemah saat dihubungi Monitor, Selasa (14/11).

Rektor Institute Ilmu al-Qur'an (IIQ) Jakarta ini menjelaskan, seorang perempuan yang mempermainkan jilbab dan hanya menggunakan jilbab sebagai hiasan yang bisa dibuka dan dipakai kapan saja, maka dianggap sebagai golongan orang munafik. "Dan tempat bagi orang munafik adalah neraka jahanam," tegasnya.

Lantas apabila seorang muslimah terpaksa menanggalkan jilbabnya karena aturan kantor, hukumnya bagaimana?

"Tetep saja tidak boleh," tegas Guru Besar Fiqih Perbandingan Madzab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Perempuan asal Donggola, Sulawesi Tengah, menyarankan sebaiknya para muslimah yang menghadapi kasus demikian agar berpindah pekerjaan saja. Menurutnya alangkah baiknya seorang muslimah memilih dan melakukan pekerjaan yang tidak melarang dia menjalankan perintah agama. 

"Kalau lepas jilbabnya karena faktor pekerjaan, kan masih ada banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan. Kalau dilarang memakai jilbab, ya tinggalkan pekerjaan itu. Cari pekerjaan yang halal dan membolehkan kita menerapkan syariat berjilbab. Ini lebih bagus," ujar Huzaemah mengakhiri perbincangan.

Recent Posts

Kemnaker Siapkan Pelatihan Berbasis AI bagi 3.100 Pemuda di Padang

MONITOR, Padang — Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyatakan bahwa Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyiapkan pelatihan berbasis AI…

17 jam yang lalu

Kementan Dukung BUMN Bangun Farm GPS Broiler di Malang, Industri Perunggasan Nasional Makin Kuat

MONITOR, Malang — Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus…

1 hari yang lalu

Kenaikan Yesus Kristus 2026, Menag Ajak Umat Perkuat Harmoni dan Semangat Kebersamaan

MONITOR, Jakarta - Menteri Agama Nasaruddin Umar mengucapkan selamat memperingati Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus…

2 hari yang lalu

Jazuli Usulkan Sejumlah Penguatan Substansi dalam RUU Satu Data Indonesia

MONITOR, Jakarta - Panitia Kerja (Panja) Penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Satu Data Indonesia (SDI)…

2 hari yang lalu

Presiden Prabowo Instruksikan Penurunan Suku Bunga PNM Mekaar Hingga di Bawah 9 Persen

MONITOR, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar suku bunga program Permodalan Nasional Madani (PNM)…

2 hari yang lalu

Cegah Keraguan Publik, Komisi X Tegaskan BPS Harus Sajikan Data Faktual

MONITOR, Surakarta - Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati memberikan catatan kritis…

2 hari yang lalu