Categories: BERITAINTERNASIONAL

Din Syamsuddin Optimis Indonesia Mampu Jadi ‘Problem Solver’ Dunia

MONITOR, Hong Kong – Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban Prof. Din Syamsuddin menjadi pembicara pada The 9th World Chinese Economic Summit (Pertemuan Puncak Ekonomi China) di Hongkong, Senin (13/11) kemarin. 

Ini merupakan agenda tahunan para Tionghoa diaspora dari seluruh dunia, dan telah berkangsung sejak 2008. Pertemuan tersebut pun dihadiri sekitar 350an tokoh Tionghoa diaspora, yang mayoritas terdiri dari para pengusaha.

Pada kesempatan itu, Din Syamsuddin mengatakan bahwa dunia saat ini tengah menghadap kekacauan dan kerusakan akumulatif. Menurutnya, hal ini sebenarnya berpangkal pada Sistem Dunia (World System) yang rancu. 

Kerancuan itu, tandas Din Syamsuddin, menurunkan sub-sub sistem dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya yang juga mengandung kerancuan. Hal inilah yang memunculkan "ketiadaan damai" dalam bentuk kemiskinan, kebodohan, kesenjangan, ketakdilan, kekerasan dalam berbagai bentuknya, hingga kerusakan lingkungan hidup.

"Solusi terhadap kerusakan peradaban dunia tersebut, adalah dengan mengubah Sistem Dunia itu sendiri. Selama ini Sistem Dunia terlalu berwajah antroposentristik (menjadikan manusia sebagai pusat kesadaran), dan kurang berwajah teosentristik (Tuhan sebagai pusat kesadaran)," ujarnya. 

Akibatnya, peradaban dunia kering-kerontang dari nilai-nilai etika dan moral. Dalam bidang ekonomi, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini menuturkan, terjadi fenomena yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin, kemudian menciptakan kesenjangan serta ketakadilan. 

Sementara dalam bidang politik, terjadi proses zero sum game, yakni kecenderungan saling menafikan dan mendominasi yang sering menimbulkan konflik. Begitu pula dalam bidang budaya merajalela budaya liberal dan hedonis.

Untuk menanggulangi kerusakan dunia yang bersifat akumulatif, Din menyatakan peran negara atau koalisi negara-negara dengan posisi tengahan (median position) sangat dibutuhkan. 

"Indonesia, dalam hal ini, merupakan negara dengan posisi tengahan dan orientasi jalan tengah (the middle way). Negara-negara dengan watak dan corak seperti ini akan dapat tampil sebagai problem solver atau penyelesai masalah-masalah dunia," tukasnya.

Recent Posts

Kemnaker Siapkan Pelatihan Berbasis AI bagi 3.100 Pemuda di Padang

MONITOR, Padang — Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyatakan bahwa Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyiapkan pelatihan berbasis AI…

19 jam yang lalu

Kementan Dukung BUMN Bangun Farm GPS Broiler di Malang, Industri Perunggasan Nasional Makin Kuat

MONITOR, Malang — Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus…

1 hari yang lalu

Kenaikan Yesus Kristus 2026, Menag Ajak Umat Perkuat Harmoni dan Semangat Kebersamaan

MONITOR, Jakarta - Menteri Agama Nasaruddin Umar mengucapkan selamat memperingati Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus…

2 hari yang lalu

Jazuli Usulkan Sejumlah Penguatan Substansi dalam RUU Satu Data Indonesia

MONITOR, Jakarta - Panitia Kerja (Panja) Penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Satu Data Indonesia (SDI)…

2 hari yang lalu

Presiden Prabowo Instruksikan Penurunan Suku Bunga PNM Mekaar Hingga di Bawah 9 Persen

MONITOR, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar suku bunga program Permodalan Nasional Madani (PNM)…

2 hari yang lalu

Cegah Keraguan Publik, Komisi X Tegaskan BPS Harus Sajikan Data Faktual

MONITOR, Surakarta - Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati memberikan catatan kritis…

2 hari yang lalu