Sosial

Kontestasi Politik, Skandal Esek-esek dan Masalah Rumah Tangga

ilustrasi gambar

Reza Indragiri Amriel

Pakar Psikologi Forensik

Pekan ini ada dua berita heboh. Pertama, tentang politisi yang diduga punya skandal esek-esek. Yang mutakhir, sejak semalam bocor info menggegerkan tentang politisi ternama yang menggugat cerai isterinya.

Teringat pada sejumlah studi pada 2013 silam bahwa perceraian di kalangan politisi parlemen 2x lebih tinggi daripada populasi umum. Juga, jumlab skandal seks bertambah secara dramatis.

Ekspektasi terhadap politisi yang bermoral sempurna memang sangat tinggi selama kampanye. Tapi mendekati momen pencoblosan, ekspektasi itu cenderung turun. Masyarakat menjadi lebih pragmatis. Terbukti, cuma 11% konstituen yang merasa berat memilih kandidat yang bercerai. Terhadap calon yang punya skandal seks, 40an% masyarakat tidak akan memilihnya. Perceraian tampaknya "lebih bermoral" ketimbang perselingkuhan, di mata khalayak.

Apapun itu, konsekuensi terburuk sangat mungkin diderita anak-anak. Anak-anak butuh stabilitas sebagai syarat lingkungan pengasuhan yang kondusif bagi proses tumbuh kembang mereka. Bayangkan situasi sebaliknya!

Orang tua semula digadang-gadang menjadi pemimpin politik. Mendadak terempas, masuk hotel Prodeo. Lainnya, sesaat dielu-elukan sebagai panutan, kemudian terjun bebas karna ketahuan main perempuan. Berlanjut dengan perceraian. Sistem keluarga porak poranda. Kehidupan bak roller coaster sangat tidak ideal bagi perkembangan anak.

Perceraian bukan titik akhir. Sebagaimana kasus dengan jumlah tertinggi yg masuk ke LPAI, huru-hara perceraian berlanjut ke perebutan kuasa asuh yang berkepanjangan. Puncaknya, akses anak untuk bertemu salah satu org tua disumbat total oleh orang tua yang lain. Anak seolah menjadi yatim/piatu justru ketika kedua orang tuanya masih ada.

Mari kita ramal, pasca kontestasi politik, masalah-masalah rumah tangga bakal membludak.

(tsar)

Terpopuler