Ulama Juga Manusia

Ujang Komarudin, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta

Oleh: Ujang Komaruddin*

Akhir-akhir ini ulama menjadi rebutan para Capres untuk digandeng menjadi Cawapres pada kontestasi Pilpres 2019. Ulama memiliki peran besar dari jaman pra kemerdekaan hingga saat ini dalam membangun masyarakat, bangsa dan negara. Peran besar ulama yang begitu besar terhadap bangsa ini, ditambah lagi dengan memiliki banyak pengikut membuat ulama memiliki daya tawar yang tinggi di politik.

Apalagi sejak gerakan 212 mampu menghadirkan jutaan ummat Islam dalam aksi damai yang dapat menjatuhkan Ahok dari tampuk kekuasaan dan dari jabatan Gubernur DKI Jakarta. Dan bahkan dapat mengantarkan Ahok ke penjara. Peran ulama yang begitu besar menjadikan ulama tidak lagi dipandang sebelah mata. Apalagi sampai dinafikan dan dinihilkan dalam konteks politik Indonesia.

Peran ulama yang begitu penting dan besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak dengan sendirinya para ulama tersebut menikmati buah perjuangan dan kerja kerasnya. Banyak para ulama yang merasa “dikriminalisasi” oleh kekuatan negara untuk melemahkan gerakan-gerakan mereka yang selama ini berani kritis dan tampil berhadap-hadapan dengan pemerintah. Banyak ulama yang “terluka” dan jika tidak segera diobati, maka luka itu bisa semakin dalam dan dapat merugikan pemerintah.
Kepemimpinan ulama dalam masyarakat dan bernegara sudah tidak diragukan lagi. Ulama dapat menjadi penyambung lidah rakyat, menyuarakan amar ma’ruf dan nahi munkar, memberi teladan yang baik dalam kehidupan bermasyarakat, mengangkat harkat dan martabat ummat, menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan, dan berorientasi akhirat, sambil tidak melupakan urusan dunia dan politik.

Bagi ulama, urusan politik adalah urusan dunia yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan akhirat. Urusan politik tidak bisa dipisahkan dengan agama. Dan agama harus menjadi pijakan dan panduan dalam berpolitik. Politik tanpa agama, hanya akan melahirkan politisi yang berpolitik tanpa nilai dan moralitas. Melahirkan kekuasaan yang pongah dan menidas. Dan akan melahirkan dan menghadirkan politik yang cenderung menghalalkan segala cara demi mendapatkan kekuasaan. Politik tanpa agama akan rusak, sesat, dan menyesatkan. Namun jangan jadikan agama sebagai alat politik.

Dalam demokrasi yang seleksi kepemimpinannya dipilih langsung oleh rakyat (direct democracy) ulama menjadi rebutan para Capres untuk dijadikan Cawapres. Pada Pilpres 2004, dua ulama yaitu Hasyim Muzadi dan Solahudin Wahid menjadi Cawapres yang mendampingi Megawati dan Wiranto. Walaupun tidak menang, namun sudah membuktikan bahwa ulama dibutuhkan bukan hanya sebagai vote getter tetapi juga sebagai representasi tokoh agama yang diperhitungkan dalam konteks politik Indonesia.

Tidak jauh berbeda dengan Pilpres 2004 yang sudah lama berlalu. Pilpres 2019 juga menghadirkan figur ulama yang dipilih untuk menjadi Cawapres. Seperti kita tahu, Ma’ruf Amin seorang Ketua MUI dan Rais ‘Am PBNU dipilih Jokowi menjadi Cawapres didetik-detik akhir, setelah menyingkirkan Mahfud MD yang sudah digadang-gadang Jokowi untuk menjadi Cawapresnya.

Dan sebelumnya Ustad Abdul Somad (UAS) juga sempat santer digadang-gadang untuk mendampingi Prabowo untuk menjadi Cawapresnya. Namun karena kerendahan hati UAS yang ingin bergerak di bidang pendidikan dan dakwah, UAS pun tidak jadi mendampingi Prabowo. Dan dengan drama politik di the last minute, akhirnya Prabowo pun memilih Sandiaga Uno menjadi Cawapresnya.

Dukungan deras kepada UAS untuk menjadi Cawapres Prabowo sangat terasa dijagat media. Itu pun masih terasa ketika saya diundang menjadi narasumber di iNews TV (31/7) dan diminta untuk mengomentari ramainya dukungan UAS untuk menjadi Cawapres. Dan saya pun dengan tegas menjelaskan, bahwa UAS sebagai ulama yang dicintai ummat harus fokus berdakwah demi kebangkitan ummat dan kejayaan bangsa. Tidak harus menjadi Cawapres jika ingin mambangun ummat, bangsa, dan negara.

Banyak yang tidak setuju dengan komentar saya karena saya dianggap menghalangi UAS untuk jadi Cawapres Prabowo dan saya dianggap mendukung kubu sebelah. Alhamdulillah komentar saya pun terbukti. UAS tidak bersedia menjadi Cawapres Prabowo dan memilih untuk fokus di bidang pendidikan dan dakwah.

Saya tidak menghalangi UAS atau ulama yang lain berpolitik. Silahkan berpolitik dan itu sebuah panggilan dan merupakan keniscayaan. Namun ulama juga manusia. Jika tidak hati-hati dalam berpolitik bisa jadi korban. Atau bahkan dikorbankan.

Ulama juga manusia. Ya, ulama juga manusia. Punya hasrat untuk berkuasa. Dan itu tidak salah. Kekuasaan ditangan ulama yang baik bisa memiliki dampak yang baik bagi kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara. Namun yang harus ditampilkan adalah ulama yang ahli agama dan juga ahli pemerintahan. Jangan ulama sekedar ulama yang tidak mengerti politik dan tata kelola pemerintahan. Karena sesuai sabda Rasulullah Saw, jika suatu urusan tidak diserahkan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Ya, tunggulah kehancurannya.

Ulama juga manusia. Punya salah dan dosa. Kita tidak pernah meragukan keahlian ulama dalam bidang agama. Kita juga tidak pernah mempermasalahkan ulama untuk berpartisipasi dalam politik. Kita juga tidak pernah berprasangka negatif kepada ulama-ulama yang berpolitik dengan menggadaikan agama untuk kepentingan politik sesaat. Kita juga tidak menuduh ulama berjuang untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya masing-masing. Kita hormat dan ta’zim pada ulama yang masih berjuang dan bergerak dengan ikhlas dalam membela agama Allah SWT dan menjaga NKRI agar tetap utuh.

Ulama juga manusia punya rasa dan punya hati. Menurut Imam Ghozali, ulama itu ada dua. Ulama dunia dan ulama akhirat. Ulama dunia merupakan ulama yang berjuang untuk kepentingan dunia. Dan ulama seperti ini tidak harus diikuti perkataan dan perilakunya. Ada juga ulama akhirat yang berjuang dan bergerak untuk kepentingan akhirat, namun juga tidak meninggalkan urusan dunia. Urusan dunia termasuk urusan politik digunakan sebagai alat untuk kebaikan sesama sehingga menghasilkan nilai kebaikan di akhirat kelak.

Ulama dunia bisa saja cinta dunia dan cinta kekuasaan. Dan itu tidak bisa disalahkan. Karena tadi. Ulama juga manusia. Butuh dunia dan kekuasaan. Butuh panggung, butuh penghormatan, butuh rupiah, butuh penghargaan, butuh dicintai, butuh eksistensi, butuh atribut-atribut dunia yang lainnya. Namun sebaik-baik ulama. Ya ulama akhirat. Ulama yang dapat menuntun kita kejalan yang lurus. Ulama yang dapat membimbing ummat dan kita semua untuk kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat.

*Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Dosen dan Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta.