Kejayaan Dinasti Utsmani Taklukkan Pertempuran Nikopolis

Kesultanan Utsmaniyah di bawah pimpinan Bayezid I mengalahkan pasukan Kristen dalam pertempuran di Nikopolis (Foto: Wikipedia)

MONITOR – Kesultanan Utsmaniyah yang sering disebut dalam bahasa Turki modern sebagai Osmanli İmparator lugu (Kekaisaran Utsmaniyah) atau Osmanli Devleti (Negara Utsmaniyah) kadang disebut Kesultanan Turki merupakan kesultanan yang berhasil mengalahkan pasukan Kristen dalam pertempuran Nikopolis di bawah pimpinan Bayezid I.

Melemahnya Kekaisaran Bizantium seusai Perang Salib Keempat dan runtuhnya Kekaisaran Mongol selama bencana Maut Hitam pada tahun 1347-an M membuat para sultan Utsmaniyah berani menyebrang Eropa pada tahun 1352 M dan menaklukan Yunani dan Balkan. Pada tahun 1361 M, sultan Murad menaklukan Adrianopel, dan pada tahun 1386 M sultan Bayezid I merebut Sofia.

Bayezid dikenal sebagai sosok yang sangat pemberani, cerdas, murah hati, dan demikian ambisi untuk melakukan perluasan wilayah Utsmani. Oleh karena itulah dia menaruh perhatian besar pada masalah kemiliteran dan berencana menaklukkan negara-negara Kristen di Anatolia.

Sultan Bayezid I (Foto: Wikipedia)

Hanya dalam jangka waktu setahun, negara-negara itu telah berada di bawah kekuasaan pemerintahan Utsmani. Dalam geraknya Bayezid I digambarkan laksana kilat di antara dua front Balkan dan Anatolia. Oleh karena itu, dia diberi gelar “Sang Kilat”.

Pada tahun 1396, tepatnya pada tanggal 25 September Kesultanan Utsmaniyah di bawah pimpinan Bayezid I mulai mengalahkan pasukan Kristen dalam pertempuran di Nikopolis.

berlangsungnya peristiwa tersebut menyebabkan kekalahan aliansi bala tentara salib dari Hongaria, Bulgaria, Kroasia, Wallachia, Perancis, Bourgogne, Jerman, dan berbagai macam pasukan di tangan pasukan Utsmaniyah, pengepungan benteng Nikopol di tepi Sungai Donau dan menyebabkan berakhirnya Kekaisaran Bulgaria Kedua.

Pertempuran ini sering disebut sebagai Perang Salib Nikopolis karena merupakan salah satu Perang Salib skala besar yang terakhir pada Abad Pertengahan, bersama dengan Perang Salib Varna pada tahun 1443–1444.

Jumlah keseluruhan tentara Salib saat itu adalah 120.000 pasukan dari berbagai negara (Kekaisaran Romawi Suci, Perancis, Hongaria, Wallachia, Ksatria Hospitaller, Venesia, Genova, dan Bulgaria).

Pasukan ini berangkat menuju Hongaria pada tahun 1396. Namun para pemimpinnya berselisih pendapat dengan Zsigmond sebelum peperangan dimulai. Zsigmond lebih mengedepankan taktik bertahan hingga pasukan Utsmani datang menyerang.

Hal ini ditentang para jenderal dan komandan perang yang berpendapat untuk menyerang langsung. Mereka menyeberangi Donau, yang akhirnya sampai di Nikopol sebelah utara Balkan. Mereka mulai mengepungnya. Pada awal peperangan, mereka berhasil unggul atas pasukan Utsmani.

Namun tiba-tiba Bayezid muncul dibarengi 100.000 pasukan. Jumlah ini lebih sedikit dari pasukan gabungan Eropa-Salibis. Namun, mereka lebih unggul dalam kedisiplinan dan persenjataan. Akibatnya, binasalah sebagian besar tentara Kristen. Mereka terpaksa lari tunggang langgang. Ada pula sebagian yang terbunuh dan sebagian pemimpinnya ditawan. Pasukan Utsmani dalam Pertempuran Nikopol ini berhasil mengumpulkan harta rampasan perang yang melimpah dan mampu menguasai barang simpanan musuh.

Banyak pembesar Perancis yang tertawan dalam peperangan ini. Diantaranya adalah Graf Nevers. Bayazid menerima tebusannya dan dia dibebaskan dari tawanan. Sultan sendiri menegaskan agar dia bersumpah untuk tidak kembali berperang melawan dirinya. Kala itu, Bayezid berkata padanya:

“Saya membolehkanmu tidak menaati sumpah ini, engkau boleh saja untuk kembali berperang melawan saya. Sebab tidak ada satu hal pun yang saya lebih senangi daripada memerangi semua orang Kristen Eropa dan saya menang atas mereka”