Persis, Natsir dan Gerakan Pemurnian Islam

Tokoh-tokoh pendiri gerakan Persatuan Islam (Persis) (net)

MONITOR – Tepat 95 tahun silam, sebuah organisasi modernis Islam dirintis sekelompok orang pedalaman di Bandung, Jawa Barat. Perkumpulan itu dinamai dengan Persatuan Islam, atau selanjutnya disebut Persis.

Lahirnya Persis tak jauh beda dengan gerakan-gerakan sebelumnya. Seperti Serikat Dagang Islam, Boedi Oetomo dan Muhammadiyah. Gerakan ini ingin ‘membebaskan’ pola pikir masyarakat Indonesia yang tertindas oleh penjajahan kolonial Belanda.

Persis lahir disaat gejolak nasionalisme bangsa Indonesia tengah menguat. Tepatnya tanggal 12 September 1923. Organisasi ini diinisiasi sejumlah warga Palembang, Sumatera Selatan, yang bermigrasi ke Bandung hingga akhirnya menetap. Mereka terlibat dalam kegiatan diskusi yang cukup intens.

Mereka yang hadir dalam diskusi itu masih satu keturunan. Mereka diikat dari tiga keluarga besar baik melalui perkawinan maupun kegiatan diskusi. Dari sekian forum diskusi yang terselenggara, muncullah dua tokoh yang paling menonjol yaitu, Haji Zam Zam dan Haji Muhammad Yunus.

Dari situlah, pemikiran kedua tokoh ini memberikan warna dalam dunia pendidikan dan aktivitas keagamaan. Persis didirikan untuk memberikan pemahaman Islam yang sesuai dengan aslinya yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Persis pun dikenal sebagai gerakan anti jumud yang menentang adanya pemahaman taklid buta, dan sikap tidak kritis dalam menelaah ajaran Islam. Lebih tepatnya, Persis ingin membawakan pengaruhnya agar umat Islam beragama hanya berpedoman pada Al-Quran dan Hadits.

Hingga kini Persis tetap dikenal sebagai organisasi keagamaan yang orientasinya murni kepada Pendidikan dan Dakwah Islam. Diantara sumbangsih Persis di dunia pendidikan adalah, Pendidikan Islam atau Pendis. Ini merupakan pendidikan formal pertama yang ada di lingkungan keluarga besar Persis atas inisiasi Mohammad Natsir.

Natsir, yang merupakan Perdana Menteri Indonesia kelima, memiliki idealisme dan cita-cita tinggi mengenai Pendidikan Islam kala itu. Saat duduk di AMS (Algemenee Midele School) di Bandung, ia mampu berpikir diluar jangkauan (out the box). Natsir memikirkan nasib bangsanya yang tertindas lemah oleh kolonial Belanda.

Cukup nyata bagi Natsir, melihat tingkat kesejahteraan umat Indonesia sangat tertinggal. Ia berpikir jernih, hingga menemukan akar masalah dari semua masalah bangsa ini adalah ketidakmengertian umat Islam terhadap ajaran agamanya sendiri.

Kata Natsir, andaikan umat Islam mengerti terhadap agamanya, pasti akan muncul kesadaran terhadap keberadaan dirinya, harga dirinya, dan derajatnya sebagai manusia.

Dari sanalah, Natsir membantu A. Hassan yang merupakan tokoh Persis, untuk menulis masalah-masalah keagamaan dan menerjemahkannya kedalam bahasa Belanda supaya dapat di terima di kalangan masyarakat elit.

Selain itu, ia menyumbangkan gagasannya agar lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu modern atau umum perlu diintegrasikan dengan pendidikan agama Islam. Natsir tahu, kedepan kurikulum seperti inilah yang akan dicari dan menjadi pijakan masyarakat luas utamanya umat Islam.