Pengajian Kebangsaan; Mendialogkan Solusi Permasalahan Pembangunan dan Kemanusiaan

Prof. Rokhmin Dahuri memberikan sambutan dalam acara Pengajian Kebangsaan yang di gelar di rumah dinas Menteri Agraria dan Tata Ruang di Kuningan, Jakarta (Foto: Istimewa)

MONITOR, Jakarta – Saat ini, situasi politik di Indonesia semakin dinamis jelang pemilu 2019 khususnya terkait pemilihan presiden. Masyarakat kini seolah terkotakkan pada dua kutub besar yang saling bertentangan antara pendukung calon A dan pendukung calon B.

Beberapa perdebatan dan pertentangan antar keduanya bahkan seringkali menyeret hal-hal sensitif seperti SARA. Saling klaim paling pancasila dan menuduh pihak lain tidak pro NKRI, radikal dan lain-lain seperti menjadi hal lumrah terlebih di media sosial. Perdebatan dan perselisihan karena perbedaan pandangan saat ini juga cenderung abai pada persoalan substansi membedah solusi persoalan bangsa dan negara.

Prof. Rokhmin Dahuri bersama Akbar Tanjung dan Sofyan Djalil dalam acara Pengajian Kebangsaan yang di gelar di rumah dinas Menteri Agraria dan Tata Rumah Ruang (Foto: Istimewa)

Resah dengan fenomena diatas, Cendikiawan Muslim yang juga Pakar Ekonomi Kelautan, Prof. Rokhmin Dahuri bersama beberapa tokoh menggagas “Pengajian Kebangsaan” lintas forqoh dan fraksi sebagai ruang diskusi sekaligus mengurai berbagai persoalan bangsa saat ini.

Memasuki seri ke-6, pada Kamis malam (30/8/2018), pengajian kebangsaan berlangsung di Rumah Dinas Menteri Agraria dan Tata Ruang, Sofyan Djalil di Jl. Denpasar No.4 Kuningan, Jakarta Pusat. Pengajian mengangkat tema “Relevansi dan Aktualisasi Nilai-nilai Islam dalam Mengatasi Permasalahan Pembangunan dan Kemanusiaan di Era Industri 4.0”

Dalam paparannya, Sofyan Djalil mengingatkan pentingnya umat islam di Indonesia untuk tidak hanya semua mengincar sektor publik yang sudah banyak menjadi rebutan seperti politik dan jabatan publik. Padahal ada sektor yang sangat strategis namun seringkali tidak dilirik yaitu dunia kewirausahaan.

Para tokoh ulama, tokoh politik, cendikiawan, pengusaha dan aktivis saat mengikuti pengajian kebangsaan (Foto: Istimewa)

“Kita seringkali ribut dan saking sikut antara kita memperebutkan sektor publik seolah itulah satu-satunya hal yang paling strategis membangun bangsa. Padahal ada sektor lain, ruang lain yang justru kita takut masuk ke wilayah itu. Itulah dunia industri dan kewirausahaan yang saat ini di Indonesia memiliki ruang yang besar untuk kita isi terlebih dalam perkembangan teknologi informasi saat ini,” ujar Mantan Menko Perekonomian itu.

Atas dasar itu, Sofyan Djalil meminta kepada generasi penerus bangsa agar tidak terlalu lama disibukkan dengan perdebatan yang tidak substansial sementara sektor ekonomi dan industri keburu dikuasai pihak-pihak lain.

“Saya ingin ingatkan generasi penerusnkita harus diajak dan didorong masuk dan fokus dunia profesional mengembangkan ekonomi kewirausahaan. Jangan terlalu lama jadi aktifis, jangan semua fokus ingin jadi politisi,” tambahnya.

Sementara itu, Prof. Rokhmin Dahuri mengatakan pentingnya umat islam untuk bersama-sama membangun gerakan ekonomi dan kewirausahaan termasuk mendorong generasi muda karena masih minimnya pemanfaatan potensi SDA di Indonesia untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

“Melalui forum ini sengaja saya undang lintas firqoh, lintas parpol dan lintas fraksi untuk kita sama-sama mendiskusikan langkah kongkrit bahwa umat islam harus bersatu membangun bangsa, jangan mau kita dipecah belah. Antar kita sama-sama berantem hanya karena perbedaan pandangan politik. Padahal kita semua memiliki visi yang sama untuk membangun bangsa,” ujar Guru Besar Ilmu Kelautan IPB tersebut.

Prof Rokhmin menegaskan, pengajian Kebangsaan tersebut merupakan kegiatan yang rutin digelar dengan mengundang berbagai tokoh, baik itu tokoh agama, tokoh politik, pengusaha dan para aktifis.

“Pengajian ini sudah berlangsung dari tahun lalu (Januari 2016), semoga kedepan kita bisa selalu bersama-sama mengikuti kegiatan ini,” kata Rokhmin.

Sebagai informasi pengajian tersebut dihadiri oleh sekitar 75 jemaah dari berbagai kalangan seperti ulama, pejabat dan birokrasi, entrepreneur, akademisi, peneliti, cendekiawan, tokoh masyarkat, dan aktivis.

Momen keakraban peserta pengajian kebangsaan (Foto: Istimewa)

Acara diawali dengan shalat Maghrib dan dilanjut dengan shalat Isya berjamaah itu tampak begitu khidmat dan penuh keakraban. Bahkan nampak tak ada jarak diantara tokoh ulama, pemerintahan, cendikiawan, pengusaha dan dan para aktivis. Semua yang hadir dalam pengajian itu larut dalam hangatnya silaturahmi.

Tokoh-tokoh yang hadir diantaranya a.l. Ustadz. Husen Alatas, KH. Mujib Chudori (Ketum Ikhwanul Mubalighin), Akbar Tanjung, Marzuki Usman, Dr. Aviliani, Dr. Eggi Sujana, Prof. Achmad Mubarok, Letjen. TNI Ediwan, Manimbang Kaharyadi (Sekjen MN KAHMI), Ibih TG. Hasan, Fathan Kamil, Indras Hasan, Wicaksono, Dr. Arifin Rudiyanto, Dr. Slamet Sudarsono, Dr. Mardani Ali Sera, Yanti Sukamdani, Dr. M. Prakosa, Fachry Ali, Burzah Zarnubi.

Selain itu hadir pula artis dan presenter kenamaan yaitu David Kholik dan Istri, Abdul Azis (CEO Detik.com), Prof. Andi Bakti, Dr. Ade (Wakil Rektor II UIA), Dr. Musni Umar (Rektor UIK, Jakarta), dan Sadam Al-Jihad (Ketum PB HMI).

Ada beberapa topik penting yang disampaikan tokoh-tokoh tersebut, diantaranya soal Etos dan Akhlak kerja dalam perspektif Islam yang disampaikan Dr. Sofyan Djalil, soal psikologi Islam yang disampaikan Prof. Mubarok dan yang ketiga yaitu soal Situasi dan Prospek Perekonomian Indonesia yang disampaikan Dr. Aviliani, serta pembahasan Islam sebagai Solusi Kehidupan Dunia-Akhirat yang disampaikan Ustadz Husen Alatas.