Pendidikan Semi Militer SMK di Batam Telan Korban

MONITOR, Jakarta – KPAI akan segera melakukan rapat koordinasi dengan Gubenur dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan terkait untuk membahas kasus kekerasan yang terjadi di SMK Batam.

Hal demikian diungkapkan Komisioner bidang pendidikan Retno Listyarti menanggapi kasus kekerasan yang dialami RS (17 tahun). Selain itu, Retno mengungkapkan KPAI mendorong Dinas Pendidikan dan Inspektorat Provinsi KEPRI untuk melakukan investigasi lebih lanjut terhadap SMK tersebut.

Kepada MONITOR, Retno memaparkan kronologi kasus yang dialami RS. Diketahui, RS bersekolah di salah satu SMK swasta di kota Batam. Sekolah tersebut sudah beroperasi selama 5 tahun.

Sekolah ini banyak dikendalikan oleh ED yang kebetulan seorang anggota kepolisian dan sekaligus pemilik modal sekolah ini. Ada satu orang lagi pemilik modal, yang kebetulan menjabat sebagai Kepala Sekolah di sekolah ini.

ED inilah yang diduga menjadi pelaku yang memborgol dan menampar ananda RS. ED sehari-hari membina latihan fisik, baris berbaris hingga sering menginap di sekolah, terkadang ED juga menjadi Pembina upacara.

Sekolah ini mempunyai asrama untuk beberapa siswa, tidak semua orangtua siswa setuju dengan sistem asrama karena memberatkan biaya.

Menurut informasi yang diterima KPAI, proses belajar mengajar tidak berjalan sebagaimana mestinya karena kurang porsi jam belajar dengan guru lainnya. Siswa tidak fokus belajar, tapi fokus latihan semi militer.

Siswa-siswa diajarkan menembak dengan senapan angin. Bahkan di sekolah, ada terpajang beberapa senjata. Selain itu juga mengemudikan mobil Dalmas milik sekolah.

Dalam kasus ini, KPAI menduga ada sistem pembinaan yang dilakukan kepada siswa juga diskriminatif, mengistimewakan siswa tertentu, melihat latar belakang siwanya sehingga diberi peran untuk mengendalikan dan menghukum siswa lain.

“Sebelum kasus RS mencuat, pernah terjadi kekerasan di sekolah ini terhadap siswa berinisial F. Ananda F mendapatkan kekerasan dari beberapa seniornya sehingga juga ditahan di sel sekolah dan ia disidang disiplin di sekolah,” ujar Retno Listyarti.

Foto anaknya saat pelepasan atribut sekolah juga dimasukkan ke facebook oleh pihak sekolah sehingga membuat malu anak dan keluarganya. Orangtua F akhirnya memindahkan anaknya ke sekolah lain.