Ulama, Rakyat, dan Demokrasi Lima Tahunan

Direktur IPR Ujang Qomaruddin (dok: Hendrik Monitor)

Oleh: Ujang Komarudin

Ada yang menarik dari hasil survey LSI Denny JA, tentang ulama dan efek elektoralnya. Seperti kita ketahui, ulama merupakan figur atau tokoh agama yang dihormati, dikagumi, dicintai, dan petuahnya diikuti dan dituruti oleh masyarakat Indonesia. Ucapan, perilaku, dan telunjuknya ditaati, bukan hanya oleh santrinya. Tetapi juga oleh masyarakat luas.

Ada lima ulama di republik ini, versi LSI Denny JA yang popularitas, tingkat kesukaan, dan kemampuan mempengaruhi atau himbauannya didengarkan oleh masyarakat. Mereka adalah Ustad Abdul Somad (UAS), Ustad Arifin Ilham (UAI), Ustad Yusuf Mansur (UYM), Ustad Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), dan Ustad Habib Rizieq Shihab (HRS).

Popularitas, tingkat kesukaan, dan himbauan kelima ulama tersebut, merata dihampir semua segmen masyarakat yang memiliki hak pilih; yang berpendidikan tinggi dan rendah, yang berpendapatan tinggi dan rendah, milenial dan lansia, segmen pemilih partai, dan capres. Karena pengaruhnya yang besar, terkadang ulama menjadi rebutan. Rebutan bagi capres dan juga partai politik.
Ulama memang bukan sembarang manusia. Walau bukan manusia suci. Tapi mereka pewaris para Nabi. Ya, pewaris para Nabi. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Saw, “Al-Ulamu Waratsatul Anbiya”. Keilmuannya mumpuni. Perkataan dan perilakunya diikuti. Dan ketokohannya teruji dan diakui.

Ulama seperti Amien Rais, Salahuddin Wahid, Ustad Al-Khaththath, Din Syamsudin, dan ulama-ulama lainnya, bukan berarti mereka tidak hebat. Mereka adalah ulama-ulama hebat yang di miliki bangsa ini. Mereka yang tidak masuk lima besar, versi survey Denny JA, karena tingkat pengenalan, kesukaan, dan tingkat pengaruhnya kurang dari yang telah ditentukan.

Seperti tingkat pengenalan harus diatas 40%, tingkat kesukaan diatas 50%, dan kemampuan mempengaruhi dan didengar harus diatas 15%. Amien Rais tidak masuk lima besar, hanya kurang ditingkat mempengaruhi 9.4%, sedangkan untuk tingkat popularitas tinggi 83.1%, dan tingkat kesukaan 57.2%. Begitu juga dengan ulama-ulama lainnya. Kurang memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh LSI Denny JA.

Rakyat atau pemilih, suka dan cinta pada ulama yang ‘alim, berwawasan luas, dalam ilmu agama dan pengetahuan umum, memiliki pesantren, memiliki jaringan bisnis untuk membangun ekonomi ummat, bisa memberi solusi atas persoalan-persoalan yang sedang dihadapi masyarakat, dan tentu bersikap dan berperilaku baik. Bisa menjadi suri tauladan dan uswatun hasanah.

Dari kelima ulama di atas, UAS memiliki tingkat pengaruh yang paling tinggi dengan 30.2%, kemudian UAI 25.9%, UYM 24.9%, Aa Gym 23.5%, dan HRS 17.0%. Jika digabungkan pengaruh mereka mencapai 51.7%. Sedangkan tokoh lain hanya mencapai 23.6%. Jika berkaca dan mengacu pada hasil survey tersebut, maka pengaruh kelima tokoh tersebut akan berpengaruh terhadap pilihan masyarakat.
Masyarakat Indonesia sangat agamis, tidak aneh jika petuah ulama diikuti dan dituruti. Dan sebagian masyarakat, terutama kaum santri, apa yang diucapkan ulama akan didengar dan ditaati. “Samina wa athona”, kami mendengar dan kami taat. Ulama panutan akan digugu dan ditiru. Kalamnya menjadi pencerahan. Tindakannya menjadi acuan. Dan ilmunya menjadi rujukan.

Ulama yang menjadi rujukan masyarakat bukan sembarang ulama. Tetapi ulama yang hebat secara pemikiran, halus dalam bertutur kata, sopan dalam berperilaku, ikhlas dalam berdakwah, objektif dalam menilai, dan membumi dalam bergaul.
Jika kita petakan dari pengaruh kelima ulama tersebut. Pemilih atau masyarakat yang manut kepada petuah UAS dan HRS akan memilih Prabowo-Sandi. Dan pemilih yang taat kepada perintah UAI, UYM, dan Aa Gym akan memilih Jokowi-Ma’ruf. Wajar jika pemilih Prabowo-Sandi datang dari pemilih yang terpengaruh UAS dan HRS. Karena kita tahu, UAS sempat diisukan menjadi cawapresnya Prabowo. Namun tidak jadi. Dan HRS juga merupakan ulama oposan Jokowi.

Hal yang tidak aneh juga, jika pemilih yang mengikuti perintah UAI, UYM, dan Aa Gym akan memilih Jokowi-Ma’ruf. Karena ketiga ulama tersebut ada di tengah, dan berada dijalur dakwah. Lebih mementingkan kesatuan umat, bangsa, dan negara. Lebih dari soal dukung mendukung capres dan cawapres. Posisi netral ketiga ulama tersebut, membuat umat nyaman mendukung Jokowi.

Perintah atau telunjuk ulama, akan turut menentukan siapa yang akan terpilih menjadi presiden dan wakil presiden di 2019 nanti. Jika pemilih loyal, manut terhadap UAS dan HRS akan memilih Prabowo-Sandi. Dan petuah dan kalam UAI, UMY, dan Aa Gym akan memilih Jokowi-Ma’ruf. Maka 58.7% akan didapat Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi 29.3%. Artinya Jokowi-Ma’ruf masih unggul dari Prabowo-Sandi.

Jokowi-Ma’ruf juga unggul di pemilih yang menyatakan dan mendasarkan himbauan tokoh lain (seperti politisi, pengamat, pengusaha, akademisi kampus, aktivis LSM, artis terkenal, dll) sebesar 57.3%. Sedangkan Prabowo-Sandi akan dipilih oleh sebanyak 31.6% pemilih.

Jika kita tarik kewilayah Pileg, maka hanya PDIP dan Partai Gerindra yang akan mendapatkan keuntungan elektoral dari persaingan kedua kubu tersebut. PDIP diuntungkan karena masyarakat, tahunya Jokowi adalah kader PDIP. Dan wajar juga jika PDIP menempati hasil survey teratas, dan diprediksi akan menang Pileg 2019 nanti.

Keberhasilan Jokowi dalam memimpin pemerintahan akan membawa keuntungan bagi PDIP. Begitu juga sebaliknya. Jika Jokowi dianggap gagal dalam memerintah, maka PDIP bisa disalip oleh partai lain. Keberhasilan Jokowi dalam memimpin negara, akan berkorelasi positif dengan kemenangan PDIP di Pileg.

Kelima ulama hebat tersebut dan ulama-ulama yang lainnya, tentu akan jadi incaran dan rebutan para kandidat capres dan cawapres. Begitu juga dengan ulama, yang tidak masuk lima besar, politisi, pengamat, pengusaha, akademisi kampus, aktivis LSM, akan turut serta ambil bagian dalam mempengaruhi pemilih, dengan pernyataan-pernyataan dan keahliannya masing-masing.

Sepertinya Jokowi dan PDIP, lebih percaya diri dan optimis dalam menghadapi kontestasi pesta demokrasi lima tahunan, jika dibandingkan Prabowo-Sandi. Pilpres 2014 yang ketika itu, pasangan Jokowi-JK, dimana Jokowi hanya sebagai Gubernur DKI Jakarta, mampu mengalahkan Prabowo-Hatta yang didukung banyak partai. Apalagi saat ini, Jokowi sebagai petahana. Tentu lebih siap dan lebih kuat. Namun dipolitik apapun bisa terjadi. Prabowo-Sandi bisa saja membalikan keadaan. Tetap waspada. Bukankah begitu!

*Penulis merupakan Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta.