Oleh: Dr. Ulfah Mawardi

Jika pekan pertama di bulan Ramadhan Bapak-ibu pembaca budiman, ke Masjid dan Mushollah maka akan mendapati Masjid dan Mushollah penuh. Bahkan parkiran pun tak luput dari gelaran sajadah para  jama’ah yang hendak melaksanakan tarawih. Namun lain cerita saat Ramadhan sudah memasuki minggu ke 4 seperti sekarang ini, jama’ah masjid semakin berkurang dan kita dapati shaf semakin maju kedepan berbanding terbalik dengan pusat-pusat pertokoan yang padat merayap.

Realitas ini sangat disayangkan. Sebagaimana kita ketahui, 10 hari terakhir Ramadhan justru memiliki keutamaan yakni terdapat malam diturunkannya Lailatul Qadar, dalam surah Al Qodar ini disebut khairun min alfi syahr yakni malam yang keutamaannya lebih baik dari seribu bulan. Itulah fenomena Ramadhan di Negara berpenduduk muslim terbesar di bumi ini.

Ramadhan yang kita pahami dalam Qur’an Surah Al Baqorah ayat 185 adalah bulan diturunkannya al quran sebagai petunjuk dan pembeda bagi manusia antara kebajikan dan keburukan. Ramadhan yang kita harapkan mendapat berkah berupa petunjuk kearah perubahan diri yang hakiki (revolusi mental), bukan hanya menahan lapar haus pada siang hari dan rutinitas Tarwih di malam hari, tetapi tidak memberikan efek pada kontinyuitas keimanan dan keislaman kita untuk membedakan antara yang haq (baik) dan yang (bathil).

Tidak hanya semangat di pekan pertama Ramadhan dan hilang menguap dia hari-hari terakhir karena disibukkan dengan kebutuhan artifisial yang tidak subtantif.

Harapan perubahan diri yang haqiqi di bulan Ramadhan berlangsung cepat, dalam tulisan ini saya menyebutnya revolusi mental (perubahan secara cepat) karena satu bulan adalah waktu yang tidak lama untuk dijadikan moment terpaan keimanan dan keislaman seorang (imanan wahtisaban) yang mana akan dilihat keberhasillannya di sebelas bulan pasca Ramadhan.

Ada tiga nilai yang hendak ditanamamkan dalam kehidupan sehari-hari yang diharapkan dapat terwujud (perubahan) dengan cepat di bulan Ramadhan ini (nilai revolusi mental) yakni Integritas, Etos Kerja dan Gotong Royong.

Pertama Integritas. Bulan Ramadhan adalah bulan pengujian integritas, betapa seseorang mukmin yang berpuasa dilatih kesabaran lahir dan batin, menahan amarah, menahan lapar, haus dan hal-hal yang membatalkan puasa, dan untuk itu butuh kejujuran dan pertanggungjawaban moril. Kita bisa saja makan-minum atau melakukan hal-hal yang merusak puasa ditempat yang tidak terlihat  akan tetapi karena integritas keimanan kita ada maka kualitas puasa dapat terjaga. Disamping nilai kejujuran dalam integritas diri juga dibutuhkan keadilan dan kebijaksanaan agar kita mendapat predikat taqwa (laallakum tattaqun).

Kedua adalah Etos Kerja. Berpuasa disiang hari dan memperbanyak ibadah dimalam hari tanpa meninggalkan rutinitas pekerjaan seperti sekolah, kantor dan usaha memerlukan etos kerja yang ekstra. Ramadhan pun melatih kita untuk melipatgandakan etos kerja, ini kita sebut etos ibadah bangun jam 2-3 dini hari mempersiapkan makan sahur, kemudian di siang hari tetap bekerja bahkan kerja ekstra meskipun dalam kondisi lapar dan haus, dimalam hari meski kekenyangan dan butuh istrahat tetapi waktu digunakan untuk memperbanyak membaca al quran, ibadah malam hari (qiyamul lail) dll. Karena dengan etos kerja (ibadah) yang maksimal maka akan mendapatkan pahala yang berlipat dari Allah SWT.

Berkurangnya jama’ah di pekan terakhir adalah bukti nyata tidak haqiqinya perubahan mental dalam diri kita. Etos kerja ini sebenarnya juga berbanding lurus dengan kebahagiaan yang dirasakan, karena meningkatnya kebutuhan di bulan Ramadhan, yang hendak mudik akan melakukan kerja ekstra menambah bekal untuk mudik karena sudah membayangkan bahagianya berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Bekerja ekstra untuk dapat membeli baju Lebaran dan etos kerja itu kita bingkai dalam amaliyah ramadhan yang bernilai Ibadah. Sejatinya etos kerja Ramadhan ini dapat mewujud dalam keseharian kita pasca Ramadhan. Sehingga kepuasan dann peningkatan kinerja pasca ramadhan juga dapat dirasakan.

Ketiga adalah Gotong Royong, anjuran mengelurakan zakat, bersedeqah, memperbanyak berbagi terhadap sesama di bulan Ramadhan itu tak lain merupakan spirit dari nilai gotong royong dalam gerakan revolusi mental. Hanya dengan berbagi kita dapat mensucikan diri dari perilaku kikir, tamak, sombong, riya dan berbagai penyakit jiwa.

Di bulan Ramadhan ini, ummat Islam berlomba-lomba memperbanyak bersedeqah dan berbagi terhadap sesama, karena dengan mensucikan diri melalui berbagi dapat meningkatkan kualitas keimanan dan keislaman serta meringankan beban sesama dengan turut merasakan penderitaan kaum mustadafin dan masakin yang selama ini mungkin abai kita perhatikan (spirit Al’Maun).

Sebagai Penutup di penghujung Ramadhan ini, semoga kita termasuk hamba Allah yang mendapat predikat taqwa dengan mampu melakukan revolusi mental (perubahan diri yang haqiqi), memiliki integritas, etos kerja dan semangat gotong royong sehingga Ramadhan dapat menjadi petunjuk dan pembeda antara yang haq dan yang batil. Ramadhan yang memiliki daya ubah. Perubahan itu difokuskan pada Akhlak dan kualitas diri yang berkelanjutan, tidak sekedar rutinitas ibadah apalagi pencitraan. Sehingga Ramadhan dapat berdampak pada perubahan tatanan diri dan lingkungan sosial yang muaranya dapat merubah karakter dan budaya bangsa kearah yang lebih baik.

*Penulis merupakan Wakil Sekretaris Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat