Oleh: Ujang Komarudin*

Membicarakan Pilpres memang sangat menarik. Bukan hanya karena narasi kampanye yang saling serang, ugal-ugalan, dan penuh fitnah. Tetapi juga diwarnai oleh adanya aksi reuni akbar alumni 212. Gerakan 212 yang fenomenal, telah mampu memenjarakan Ahok karena kasus penistaan agama. Gerakan aksi damai 212 juga, memiliki daya magnet politik tersendiri di republik ini.

Reuni akbar 212, menjadi acara atau kegiatan, yang disukai oleh kebanyakan rakyat Indonesia. Selain karena dapat mengumpulkan jutaan orang dalam dalam satu waktu dan satu tempat. Kegiatan tersebut, juga berjalan dengan aman, lancar, dan tertib. Menjadi wisata spiritual yang indah dan enak dipandang mata. Mencerminkan umat Islam, yang cinta damai dan rahmatan lil alamin.

Jika kita mengacu pada hasil survey yang dirilis oleh LSI Denny JA, Desember 2018, maka pertemuan alumni 212 tidak mengubah banyak peta politik nasional, dan tidak terlalu merubah efek elektoral kedua paslon capres dan cawapres. Reuni 212, tidak terlalu berdampak, pada naik dan turunnya elektabilitas para kontestan Pilpres.

Pengaruh kegiatan reuni 212, dapat dilihat dengan cara membandingkan elektabilitas kedua capres sebelum dan sesudah reuni dilaksanakan. Sebelum reuni, pada November 2018 menunjukan bahwa elektabiltas Jokowi-Ma’ruf diangka 53.2%, sedangkan elektabilitas Prabowo-Sandi sebesar 31.2%.

Pasca reuni 212, elektabilitas kedua pasangan capres dan cawapres, tidak banyak berubah, dan masih stagnan. Hasil survey LSI Denny JA, pada Desember 2018 menunjukan bahwa elektabilitas Jokowi-Ma’ruf sebesar 54.2%, sedangkan Prabowo-Sandi diangka 30.6%.
Ada beberapa alasan, yang dapat menjelaskan mengapa reuni 212, yang tertib, aman, dan damai, serta menyita perhatian publik, belum dan tidak banyak merubah elektabilitas Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi.

Dalam survey LSI Denny JA, setidaknya ditemukan lima alasan untuk menjawab pertanyaan di atas. Pertama, kebanyakan pemilih, yang suka dengan reuni 212, sudah memiliki pilihan sendiri atau sulit dipengaruhi oleh Habib Rizieq Shihab (HRS), khusus terkait soal NKRI bersyariah dan ganti presiden di 2019. Terkait dengan ajakan dan seruan HRS, untuk mewujudkan NKRI bersyariah, dari mereka yang suka dengan reuni 212, sebesar 83.2% menyatakan lebih mendukung konsep NKRI yang berdasarkan Pancasila. Hanya sekitar 12.8%, dari mereka yang suka dengan reuni 212, yang menyatakan setuju dengan NKRI bersyariah.

Seruan HRS untuk ganti presiden, atau ingin memiliki presiden baru, juga tidak semua diamini, oleh pemilih yang menyatakan suka dengan reuni 212, sebanyak 43.6% menyatakan memilih Jokowi-Ma’ruf. Sedangkan sebesar 40.7% dari mereka yang suka dengan reuni 212, memilih pasangan Prabowo-Sandi.

Kedua, pasca reuni 212, pemilih ada yang datang. Juga ada yang pergi dari pasangan Prabowo-Sandi. Pada pemilih yang berafiliasi dengan FPI dan PA 212, terjadi peningkatan suara, bagi Prabowo-Sandi. Di pemilih yang terafiliasi dengan FPI, pada November yang mendukung Prabowo-Sandi sebesar 68.3%, pasca reuni, meningkat signifikan menjadi 74.8%. Sedangkan mereka yang berafiliasi dengan PA 212, pada November 2018 yang mendukung Prabowo-Sandi 70,4%, mengalami kenaikan menjadi 82.6% pada Desember 2018, pasca reuni.

Sementara itu, dukungan Prabowo-Sandi di pemilih yang berafiliasi ke NU, Muhammadiyah, dan pemilih yang tidak berafiliasi dengan Ormas manapun, mengalami penurunan. Di pemilih NU, pada November 2018, dukungan kepada Prabowo-Sandi sebesar 30.2%. Pasca reuni, elektabiltas Prabowo-Sandi menurun menjadi 28.6%. Di pemilih yang tidak berafiliasi dengan Ormas manapun, pada November 2018 yang mendukung Prabowo-Sandi sebesar 33.1%. Pasca reuni 212, dukungan terhadap Prabowo-Sandi menjadi 30.8%.

Ketiga, secara umum kepuasan terhadap kinerja Jokowi masih tinggi. Survey LSI Denny JA pada Desember 2018, menunjukan bahwa mereka yang menyatakan puas terhadap kinerja Jokowi mencapai 72.1%. Kepuasan kinerja Jokowi mengalami kenaikan, jika dibandingkan November 2018 sebesar 69.4%. Pasca reuni 212, bukan penurunan kepuasan kinerja yang didapat Jokowi, tetapi kenaikan. Artinya, pasca reuni 212 tidak banyak mempengaruhi kepuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi. Karena kita tahu, kepuasan kinerja incumbent akan menjadi berkah elektoral bagi dirinya.

Keempat, Ma’ruf Amin menjadi “jaring pengaman” Jokowi untuk pemilih Islam. Hadirnya Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi, memang tidak banyak mengangkat dan menaikan elektoral Jokowi. Namun Ma’ruf Amin menjadi “tembok tebal” Jokowi dari isu-isu politik identitas yang berpotensi menggerus elektabilitas. Incumbent yang sering diserang isu tak ramah terhadap Islam, dapat diimbangi dengan hadirnya figur Ma’ruf Amin yang merupakan Ketum MUI dan ulama NU.

Kelima, Jokowi bukan Ahok. Dan Jokowi berbeda dengan Ahok. Survey LSI Deni JA menemukan bahwa Jokowi adalah bukan musuh bersama umat Islam. Oleh karena itu, gerakan reuni 212, tidak bisa digunakan untuk menjadikan Jokowi musuh bersama. Sebesar 74.6% menyatakan bahwa gerakan reuni 212, tidak bisa digunakan untuk menjadikan Jokowi sebagai common enemy pemilih Islam. Jokowi berbeda dengan Ahok. Karena saat itu, Ahok seakan menjadi common enemy umat Islam karena adanya dugaan penistaan agama Islam.

Jika dilihat dari segmen pemilih, yang suka atau tidak suka terhadap reuni 212, pasangan Jokowi-Ma’ruf masih unggul dikedua segmen pemilih tersebut. Di pemilih yang suka dengan gerakan reuni 212 (54.5%), dukungan terhadap Jokowi-Ma’ruf unggul tipis dari pasangan Prabowo-Sandi. Di segmen pemilih ini, Jokowi-Ma’ruf memperoleh dukungan sebesar 43.6%, sementara Prabowo-Sandi memperoleh dukungan sebesar 40.7%.
Di segmen pemilih yang tidak suka dengan reuni 212, Jokowi-Ma’ruf unggul mutlak. Di segemen ini, Jokowi memperoleh dukungan sebesar 61.8%. Dan dukungan terhadap Prabowo-Sandi sebesar 27.6%. Sedangkan di pemilih, yang yang tak menyertakan sikap suka atau tidak suka dengan reuni 212, Jokowi-Ma’ruf juga unggul. Jokowi-Ma’ruf memperoleh dukungan sebesar 52.6%. Dan sebesar 37.2% menyatakan mendukung Prabowo-Sandi.

Pilpres masih tinggal 107 hari lagi. Masih ada kesempatan bagi Prabowo-Sandi untuk mengejar elektabilitas Jokowi-Ma’ruf. Namun jika Prabowo-Sandi, tidak mampu membuat terobosan kampanye yang aktraktif, kreatif, inovatif, dan penuh substansi, dalam meraih simpati masyarakat, maka sang incumbent lah yang memiliki peluang besar untuk menang. Dipolitik apapun bisa terjadi. Tetaplah waspada. Bukankah begitu!

*Penulis Adalah Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta