Oleh: Ujang Komarudin*

Bagi sebagian partai politik. Partai lama atau baru. Pemilu 2019 merupakan Pemilu terberat. Karena Pemilu legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres) akan dilaksanakan secara serentak, pada 17 April 2019. Pemilu yang dilaksanakan bersamaan, membuat partai politik harus memilih. Apakah ingin menang di Pileg. Atau berkonsentrasi di Pilpres.

Pileg dan Pilpres sama pentingnya bagi semua partai politik. Menang di Pileg ya harus. Dan menang di Pilpres juga wajib. Namun jika kalah di kedua ajang tersebut, maka partai politik bisa terkubur. Mati akibat ulahnya sendiri, yang tidak siap bertarung di pesta demokrasi tahunan terbesar di nusantara ini.

Bagi partai politik tertentu, mereka akan berkata: Pileg yes. Dan Pilpres no. Sebab Pileg adalah hidup mati partai-partai politik. Kalah di Pileg dan tidak lolos Parlementary Threshold (PT) 4% berarti kiamat. Karena tidak lolos ke Senayan dan tidak akan bisa ikut kontestasi politik di Pemilu berikutnya. Partai yang terlalu fokus di Pilpres, dan melupakan Pileg, bisa ter-delete dalam percaturan politik Indonesia.

Karena tidak mau kalah di Pileg. Dan tidak mau partainya hancur lebur. Pilpres menjadi “no”, selain karena tidak berdampak elektoral, terhadap partai-partai politik tertentu. Pilpres juga memecah perhatian dan konsentrasi partai politik. Jika sibuk di Pilpres, maka Pileg akan terbengkalai dan kalah. Oleh karena itu, pilihan Pileg yes adalah pilihan rasional dan wajar. Dan menjadikan Pilpres “no” adalah bukan merupakan perbuatan kurang ajar.

Partai-partai yang galau, biasanya datang dari partai-partai yang tergabung di kubu oposisi (Prabowo-Sandi). Galau karena selain logistik yang kurang, juga kerena akses kekuasaan juga hilang. Sebut saja seperti Demokrat yang main dua kaki, PAN yang ingin berfokus di Pileg, dan PKS yang mengancam akan mematikan mesin partainya di Pilpres, jika kadernya tidak dijadikan wakil gubernur DKI Jakarta, pengganti Sandiaga Uno.

Cenderung hanya Gerindra, partai di kubu oposisi yang semangat di Pilpres. Namun juga oke di Pileg. Bagi Gerindra, baik Pileg, ataupun Pilpres. Keduanya sangat penting. Karena jika pun di Pilpres kalah, maka Gerindra sudah masuk dan menerobos masuk dua besar teratas calon partai pemenang Pemilu legislatif 2019.

Namun bagi Demokrat dan PAN, Pilpres tidak menguntungkan. Pilpres hanya akan menguntungkan Gerindra. Capresnya dari Gerindra, Cawapresnya dari Gerindra. Tim suksesnya banyak dari Gerindra. Otomatis Demokrat dan PAN tidak mendapat efek apa-apa dari pengusungan Prabowo-Sandi di Pilpres.

Jika Demokrat dan PAN tidak fokus dan konsentrasi penuh di Pileg, maka bisa saja dikalahkan oleh partai-partai baru. Oleh karena itu, bagi Demokrat dan PAN, Pileg adalah harga mati. Pileg adalah wajib, sedangkan Pilpres itu sunnah. PKS main di tengah, Pileg yes, Pilpres juga masih oke.

Di koalisi Jokowi-Ma’ruf juga hampir sama. Partai seperti PPP dan Hanura, menjadi partai yang harap-harap cemas menanti hasil Pemilu 2019. Begitu juga partai-partai baru yang tergabung dalam koalisi Jokowi-Ma’ruf. PPP dan Hanura sesungguhnya sedang gelisah. Namun kegelisan tersebut tidak muncul kepermukaan.

Gelisah karena konflik terus menerus muncul. Dan gelisah karena hasil survey lembaga-lembaga survey yang kredibel, menempatkannya masuk jajaran partai yang disebut “Nasakom”, nasib satu koma. Artinya hasil survey beberapa lembaga menempatkan PPP dan Hanura mendapat suara di bawah 4%. Artinya PPP dan Hanura bisa terancam tidak masuk Senayan. Nasdem yang walaupun surveynya masih di bawah. Nasdem berpeluang lolos ke Senayan. Logistik banyak, artis bejibun, dan didorong kekuatan kekuasaan.

Bagi PPP dan Hanura, masih tetap memadukan Pileg dan Pilpres sebagai kekuatan untuk memenangkan partai dan calon persidennya. Masih berjargon, Pileg yes dan Pilpes yes. Namun dengan hati galau. Galau jika di Pilpres menang, namun di Pileg kalah. Karena akan menjadi partai yang dilupakan dalam sejarah. Percuma Pilpes menang, jika partainya kalah dan tidak lolos ke Senayan.

Hanya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), partai bergambar banteng milenial dengan mulut moncong putih, pimpinan Megawati tersebut, sangat optimis menatap Pileg dan Pilpres serentak 2019. Bagi PDIP, Pileg yes dan Pilpres juga yes. Menang di Pileg menjadi wajib. Dan menang di Pilpres juga menjadi keharusan.

Tak ada kata “sunnah” bagi PDIP dalam Pemilu 2019 kali ini. Baik Pileg ataupun Pilpres wajib dimenangkan. Kalah disalah satunya merupakan kerugian. Jadi harus menang di kedua-duanya. Menang di Pileg menjadi enak. Dan menang di Pilpres juga menjadi asyik. Kemenangan di Pileg dan Pilpres harus diperjuangkan dan diusahakan.

PDIP harus belajar dari Pileg 2014 yang lalu. Walaupun PDIP berhasil menjadikan kadernya Jokowi menjadi Presiden RI ke-7. Dan walaupun menjadi pemenang Pemilu di 2014, namun PDIP tidak mendapatkan kursi Ketua DPR RI. Kursi Ketua DPR RI diambil oleh Partai Golkar yang suaranya berada di bawahnya.

PDIP tentu tidak mau hal tersebut terjadi lagi di Pemilu 2019 nanti. Menang di Pileg. Artinya harus menguasai dan menduduki, bahkan harus merebut kursi Ketua DPR RI. Dan menang di Pilpres. Artinya akan semakin banyak lagi kader-kadernya yang akan mengisi kabinet Jokowi-Ma’ruf.

Jadi menang di Pileg yes. Dan menang di Pilpres juga yes. Kemenangan di Pileg dan Pilpres akan mengokohkan PDIP, sebagai partai yang mendapat amanah dan mandat rakyat Indonesia, untuk memimpin dan mengurus negara hingga lima tahun kedepan. Dan jangan sampai disia-siakan amanah yang sedang, telah, dan akan diberikan.

PDIP merupakan partai yang konsen terhadap nasib wong cilik. Jika di 2019 menang lagi, tentu jangan sampai melupakan wong cilik tersebut. Realisasikan dan implementasikan janji yang sudah dan sedang diberikan. Jaga kepercayaan rakyat, niscaya kemenangan akan datang dan menghampiri.

Jika dilihat dari hasil survey terbaru, PDIP patut berbangga. Namun juga harus tetap rendah hati. Karena PDIP akan menjadi juara. Selalu nomor satu. Selalu teratas dalam hasil survey di beberapa lembaga survey. Artinya rakyat masih menginginkan PDIP menang. Rakyat masih menginginkan PDIP berkuasa. Namun jika berkuasa, jangan sampai lupa. Jangan sampai lupa kepada rakyat yang sudah memilihnya.

Bagi PDIP, Pileg yes dan Pilpres no tidak berlaku. Bagi PDIP, Pileg yes dan Pilpres juga yes. Pileg dan Pilpres harus diperjuangkan. Harus ditaklukan. Dan harus dimenangkan. Menang keduanya merupakan keniscayaan. Dan berjuang untuk salah satunya adalah pengkhianatan. Kemenangan akan memuluskan PDIP, dalam merealisasikan dan mengimplementasikan Indonesia hebat. Indonesia jaya, Dan Indonesia sejahtera, adil, dan makmur. Akankah PDIP menang Pemilu 2019. Mari kita tunggu!

*Penulis Adalah Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta