Peran Keluarga dan Lembaga PAUD Dalam mencapai Anak Indonesia GENIUS

Oleh :
Dr.Ir. Umi Fahmida, MSc
Peneliti/Deputi Direktur Program
SEAMEO RECFON

Sesuai panduan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 2018, Hari Anak Nasional (HAN) yang setiap tahun diperingati pada tanggal 23 Juli bertujuan membangun kembali kesadaran setiap elemen bangsa, baik individu, orang tua, guru, maupun pemerintah tentang pentingnya tugas masing-masing dalam memenuhi hak dan perlindungan anak.

Adapun tema yang diangkat pada tahun ini adalah “Anak Indonesia, Anak GENIUS” (Gesit, Empati, bera NI, Unggul dan Sehat). Salah satu dari 7 sub-Tema yang perlu mendapat perhatian serius adalah sub tema ke 7 yaitu mewujudkan pengasuhan dengan penuh kasih sayang dimulai dari keluarga.

Bagaimanakah profil anak Indonesia kaitannya dengan pengasuhan dalam keluarga serta lingkungan di mana mereka dikembangkan, khususnya pada usia dini?

Data nasional mengenai tumbuh-kembang anak usia dini yang ditemukan masih terbatas pada indikator pertumbuhan, yang berdasarkan survey kesehatan nasional terakhir menunjukkan sebanyak 37.2% anak terkategori pendek (stunting) dan 12.1% anak terkategori kurus1.

Saat ini belum ada data yang bersifat nasional yang terkait dengan perkembangan (kognitif, motorik, bahasa dan sosial-emosional), namun data dari beberapa studi di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan bahwa perkembangan anak usia dini di Indonesia belum optimal, begitu pula halnya dengan asuhan psikososial.

Sebuah studi di Lombok, Nusa Tenggara Barat mengukur perkembangan anak dengan menggunakan Bayley Scale of Infant Development (BSID-II). BSID merupakan instrument yang terstandar yang banyak digunakan untuk mengetahui performa anak dengan mengukur tiga aspek perkembangan yaitu kognitif, bahasa dan sosial-emosional.

Hasil studi menunjukkan bahwa proporsi anak yang mengalami keterlambatan perkembangan (delayed developmental outcome) dari skor kecerdasan (Mental Development Index, MDI) meningkat seiring dengan bertambahnya usia yaitu dari 12.2% anak pada usia 12 bulan menjadi 29.6% anak pada usia 18 bulan.

Dari segi motorik (Psychomotor Development Index, PDI) proporsinya adalah 16.0% anak pada usia 12 bulan menjadi 11.1% anak pada usia 18 bulan. Studi ini juga mengukur tingkat asuhan psikosial anak dari pengasuh dan lingkungan keluarga.

Pengasuhan psikosial ini dinilai dari enam komponen yaitu (1) respon verbal dan emosional pengasuh terhadap anak, (2) penerimaan terhadap perilaku anak, (3) pengorganisasian lingkungan anak, (4) penyediaan mainan yang sesuai usia anak, (5) keterlibatan orang tua (termasuk ayah) pada pengasuhan anak, serta (6) variasi dalam stimulasi untuk anak.

Dari keenam komponen tersebut didapatkan bahwa satu dari empat anak baduta (24%) tidak mendapatkan asuhan psikososial yang memadai dari pengasuh dan lingkungan keluarganya2.

Gambaran lain anak Indonesia terkait dengan tema Hari Anak Nasional kali ini, masih memperlihatkan bahwa masih banyak hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian stimulasi pada anak.

Hasil studi dari kohort anak usia bawah dua tahun (Baduta) di Jawa Timur menunjukkan bahwa pada usia 18 bulan, hanya 12.8% anak yang memiliki perkembangan yang sesuai usia (on schedule) berdasarkan alat ukur Ages of Stages Questionnaire (ASQ) dan pada kemampuan memecahkan masalah, problem solving hanya sekitar 55.2% anak yang sesuai dengan usia perkembangan dibandingkan dengan skala lainnya yaitu motorik kasar (82.8%), sosial emosional (78.3%) dan komunikasi (72.1%). Skor motorik halus yang lebih rendah juga ditemukan pada anak yang pendek (stunting) dibandingkan anak yang tidak stunting3.

Praktek pemberian makan anak usia dini khususnya anak usia bawah dua tahun (Baduta) menunjukkan bahwa anak baduta tidak mendapatkan cukup konsumsi protein hewani sehingga asupan gizi mereka hanya memenuhi sepertiga hingga dua per tiga dari kebutuhan zat gizi yang penting untuk tumbuh kembang seperti zat besi, seng dan kalsium4.

Studi-studi tersebut menunjukkan efek negatif stunting (dialami oleh 1 dari setiap 3 anak balita) pada perkembangan anak usia dini dan belum optimalnya pola asuhan psikososial dari ibu/pengasuh serta lingkungan keluarga, khususnya dalam mengikuti tuntutan perkembangan kecerdasan sesuai pertambahan usia anak.

Selain pengasuh (ibu dan ayah) dan lingkungan keluarga, lembaga Pendidikan anak usia dini (PAUD), juga berperan dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak. PAUD dapat berupa pendidikan formal seperti Taman Kanak-Kanak, Raudhatul Athfal, atau bentuk lain yang sederajat, atau berupa pendidikan non formal seperti Kelompok Bermain, Tempat Penitipan Anak, atau bentuk lain yang sederajat yang diselenggarakan oleh lingkungan.

Undang-Undang No. 20 tahun 2003 Pasal 1, Ayat 14 mengenai Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa “Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”.

Berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional ini, terbit Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 137 dan 146 pada tahun 2014 terkait Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Kurikulum PAUD 2013.

Saat ini Kemdikbud telah memiliki panduan PAUD Holistik Integratif (PAUD-HI) yang mencakup empat komponen layanan: (1) pendidikan, (2) kesehatan, gizi, perawatan, (3) pengasuhan, serta (4) perlindungan dan kesejahteraan. PAUD-HI merupakan kebijakan pengembangan anak usia dini yang melibatkan pihak terkait baik instansi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, tokoh masyarakat, dan orang tua.

Dengan adanya konsep PAUD-HI tersebut diharapkan anak usia dini dapat memperoleh layanan yang komprehensif dan terintegrasi untuk tumbuh-kembang mereka5.

Dari landasan-landasan hukum tersebut jelas bahwa lembaga PAUD dapat menjadi lingkungan kedua setelah keluarga dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak usia dini. Namun potensi ini, khususnya yang terkait dengan pengasuhan kesehatan dan gizi belum cukup dioptimalkan. Padahal usia dini merupakan usia yang sangat tepat untuk membentuk kebiasaan dan perilaku makan yang baik sehingga dapat tertanam hingga dewasa kelak.

Oleh karenanya para guru PAUD perlu memiliki kompetensi pengasuhan, perawatan dan pendidikan yang terkait dengan gizi dan kesehatan.

Sebagai Pusat Kajian Pangan dan Gizi di tingkat Asia Tenggara Southeast Asian Ministers of Education Organization regional center for Food and Nutrition (SEAMEO RECFON) yang berada di Universitas Indonesia memiliki program untuk anak usia dini yaitu “Early Childhood Care, Nutrition and Education (ECCNE)” atau “Anakku Sehat Cerdas” sebagai upaya untuk berkontribusi dalam menguatkan pemetaan dan pengembangan model PAUD dan Satuan PAUD Sejenis.

Program ECCNE ini bertujuan untuk menyediakan model terintegrasi dalam mengimplementasikan komponen-komponen esensial terkait pengasuhan anak untuk tumbuh kembang yang optimal, termasuk perkembangan sosial, emosional, dan kognitif dari anak usia dini (sampai usia 5 tahun).

Adapun pendekatan strategi yang digunakan meliputi: (1) Edukasi gizi untuk anak usia dini, orang tua dan pengasuh, termasuk guru PAUD, (2) Peningkatan kesehatan anak, (3) Stimulasi perkembangan, dan (4) Pola asuh anak secara keseluruhan. Edukasi gizi pada orangtua dan guru PAUD salah satunya dilakukan dengan mempromosikan Panduan Gizi Seimbang berbasis Pangan Lokal (PGS-PL) yang disusun dengan perangkat optimasi (Optifood) sehingga sesuai dengan pola konsumsi serta potensi pangan lokal padat gizi yang ada.

Pendekatan ini telah terbukti dapat meningkatkan asupan zat gizi pada baduta dan efek positif ditemukan pada asupan zat gizi serta tumbuh kembang anak tidak hanya setelah edukasi pada pengasuh diberikan namun juga beberapa tahun setelahnya.

Penyampaian materi pendidikan gizi untuk pengasuh/orang tua serta guru PAUD, baik melalui media on-line dan off-line, juga menjadi strategi yang penting untuk meningkatkan peran keluarga serta PAUD dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak Indonesia. Upaya ini tentunya perlu disertai dengan mekanisme untuk monitoring dan evaluasi dan karenanya indikator terkait status gizi serta praktek gizi pada peserta PAUD perlu diintegrasikan pada pendataan PAUD di Indonesia.

Dengan demikian diharapkan peran pengasuh/orangtua dan PAUD akan optimal dalam mewujudkan anak-anak Indonesia yang GENIUS seperti tema HAN 2018 ini.

 

Referensi:
1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Riset Kesehatan Dasar. Kemenkes. Jakarta. 2013
2. Fahmida U (2003). Multi-micronutrient supplementation for infant growth and development, and the contributing role of psychosocial care. Disertasi,Program Studi Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
3. Dewi AN (2017). The effect of stunting in child development among under-two years old children in Malang and Sidoarjo, East Java. Thesis, Program Studi Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
4. Fahmida U, Kolopaking R, Santika O, Sriani S, Umar J, Htet MK, Ferguson E (2015). Effectiveness on improving knowledge, practices, and intakes of “key problem nutrients” of a complementary feeding intervention developed by using linear programming: experience in Lombok, Indonesia. American Journal of Clinical Nutrition 2015; 101: 455-61.
5. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Penyelenggaraan PAUD Holistik Integratif di Satuan PAUD. Kemdikbud: Jakarta. 2015