Oleh : Evi Ermayani, M.Gizi

Dua kota tuan rumah Asian games 2018, Jakarta dan Palembang, mungkin saat ini merasa lega. Setelah bersolek sejak tahun lalu dan menghasilkan berbagai fasilitas serta pemandangan yang indah dipandang mata, dan tentu saja mengucurkan dana yang tidak sedikit demi menjamu para tamu dalam perhelatan akbar tingkat asia ini, ujian pelayanan publik terhadap para tamu baik kontingen maupun supporter perhelatan olah raga terbesar di tingkat asia ini telah usai.

Namun ada hal yang mungkin luput dari hiruk pikuk ucapan terima kasih, suksesnya para pelaku kuliner kita dalam menyajikan pangan yang aman kepada konsumen selama 2 minggu perhelatan Asian games 2018 Selain fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh pemerintah atau pun panitia, hal yang tidak kalah penting pada perhelatan ini adalah kesiapan para penyedia kuliner kita.

Kehadiran peserta Asian Games maupun para supporter tentunya dipergunakan oleh para pelaku usaha kuliner sebagai kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya kuliner Indonesia.

Persiapan

Pemprov DKI Jakarta dan Sumatera Selatan beserta Badan POM telah melakukan banyak persiapan untuk memastikan keamanan pangan kuliner kita baik untuk tingkat restoran maupun pedagang kaki lima.  Penyuluhan terhadap berbagai pelaku usaha kuliner telah di lakukan.

Badan POM di Palembang telah memberikan penyuluhan kepada 1.166 pelaku usaha kuliner termasuk jasa boga, restoran saji, pedagang kaki lima. Langkah teknis lain yang dilakukan juga adalah adalah penyeleksian makanan, serta pendataan pedagang yang menjual makanan bebas bahan berbahaya dengan penempelan stiker keamanan pangan.   Sebanyak  270 Pedagang Kaki Lima dan 47 restoran masakan Padang menjadi target penempelan stiker keamanan pangan.

Belum lagi monitoring yang dilakukan satu hingga dua bulan sekali, bahkan hingga beberapa bulan setelah usai Asian Games. Begitu komprehensifnya persiapan dari sisi keamanan pangan dua kota ini untuk menjamu para tamu dari berbagai belahan Negara asia selama perhelatan akbar ini.
Tentu saja para pelaku usaha kuliner pasti merasakan beberapa ‘tekanan mental’ bahwa jangan sampai insiden keamanan pangan terjadi di tempat mereka.

Namun sebenarnya, hal baik di sini sedang terjadi.  Pemerintah yang sedianya mengerti bahwa keamanan pangan adalah hal yang sangat penting untuk menjaga konsumen dari kejadian keracunan pangan, dalam event ini telah berusaha dengan sangat detail mengimplementasikan di lapangan.

Instrumen seperti peraturan juga pedoman-pedoman yang selama ini telah ada namun masih jarang diimplementasikan, kini dimonitor apakah benar telah dilaksanakan oleh para pelaku usaha kuliner, seperti produk makanan yang bebas dari kandungan bahan bahaya seperti Formalin, Boraks, Metanil Yellow, Rhodamin B.

Hal positif pun terjadi dikalangan para pelaku kuliner yang terlibat, seperti gencarnya penyuluhan yang dilakukan oleh BPOM, sehingga ilmu mereka mengenai keamanan makanan bertambah.  Melalui pemahaman ini, diharapkan awareness atau kesadaran pentingnya produk yang aman bagi konsumen pun bertambah.

Monitoring yang sedemikian ketat dilakukan tentunya dengan harapan bahwa selama perhelatan Asian Games ini tidak ada insiden keracunan pangan baik dikalangan atlit maupun pengunjung dan supporter.  Penanganan awal untuk terciptanya keamanan pangan dapat memberikan kontribusi positif terhadap para pengusaha kecil dan menengah dalam menjalankan usaha mereka.

Tentang keamanan pangan

Selain bergizi, makanan haruslah dapat dikonsumsi dengan aman. Keamanan pangan didefinisikan sebagai kepastian bahwa makanan atau pangan yang dikonsumsi tidak berbahaya terhadap konsumen ketika makanan tersebut disiapkan dan/atau dikonsumsi sesuai dengan peruntukannya.

Bentuk kelalaian dari keamanan pangan adalah kejadian keracunan pangan yang menimpa konsumen dengan berbagai symptom seperti pusing, mual, muntah, diare, hingga pingsan dan bahkan kematian. Apabila terjadi dalam skala besar disebut dengan kejadian luar biasa atau outbreak.

Penyebab keracunan pangan sendiri adalah akibat dari kontaminasi pada pangan oleh mikro organisme seperti bakteri, kapang, virus, dan parasite serta kontaminasi oleh bahan kimia.  Beberapa mikroorganisme yang sering ditemukan pada kasus keracunan pangan adalah Salmonella, Campylobacter, Listeria, dan Escherichia coli (E. coli).

Kontaminasi pada pangan dapat terjadi di semua tahap, dari ladang hingga ke meja makan.  Dengan begitu panjangnya rantai produksi, beberapa hal sederhana dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya kontaminasi, dari pemilihan bahan mentah yang baik, pencucian bahan mentah di bawah air yang mengalir, proses memasak/pemanasan, menjaga makanan matang dari kontaminasi silang, menaruh makanan matang tidak terlalu lama (sekitar 2 jam) pada suhu ruang.  Pada makanan kemasan, konsumen hendaknya memperhatikan tanggal kadaluarsa pada label makanan serta kondisi kemasan.

Penutup

Keamanan pangan merupakan tanggung jawab berbagai pihak pemerintah, pelaku usaha/produsen,  juga konsumen.  Dalam pelaksanaan Asian Games ini, tampak adanya kerja sama yang solid dari pemerintah dan pelaku usaha kuliner untuk menjaga para konsumen dari keracunan makanan.

Selama perhelatan ini, sayangnya, terdapat kejadian keracunan pangan yang menimpa atlit dan ofisial dari kontingen Malaysia.  Mereka mengalami diare akibat makanan yang dikonsumsi di perkampungan atlet kemayoran. Yang menarik adalah, Chef de Mission Malaysia, Datuk Seri Azim Zabidi, tidak hanya menyatakan bahwa 8 atlet dan 7 ofisial Malaysia terkena diare, ada beberapa kasus serupa yang menimpa kontingen lainnya.

Namun hingga saat ini, kejadian dari kontingen Malaysia yang terlaporkan dan teridentifikasi.  Kejadian keracunan pangan seringkali diibaratkan seperti gunung es, dimana kasus yang terlihat atau terlaporkan jauh lebih kecil dari kejadian yang ada, karena biasanya kejadian keracunan pangan yang ringan tidak dilaporkan pada pertugas kesehatan.  Namun demikian, di kalangan umum dimana para pelaku kuliner beraktifitas, tidak terlaporkan adanya insiden kejadian keracunan makanan selama perhelatan akbar ini.  Hal ini merupakan sukses yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Perhelatan besar kini telah usai tidak hanya menyisakan kebanggan dan kelegaan bagi tuan rumah, tetapi juga tantangan bagaimana untuk terus menjaga kualitas implementasi keamanan pangan di tingkat pelaku usaha kuliner terutama di kalangan usaha tingkat menengah.  Upaya yang telah dilakukan diharapkan menjadi pelajaran penting bahwa untuk mendapatkan kepercayaan konsumen, dalam hal ini wisawatawan, bahwa keamanan pangan yang kuat dapat menjadi andalan wisata Indonesia.   Terima kasih kepada pemerintah daerah dan para pelaku usaha kuliner, untuk aman-pangan Asian Games.

Penulis Adalah Knowledge Management & Partnership SEAMEO RECFON