Menuju Kemandirian Desa Masa Depan

Monitor, Jakarta – Kemandirian desa masa depan menjadi hasil yang diharapkan dari penanggulangan masalah yang tengah dihadapi Indonesia saat ini, yakni pertumbuhan laju migrasi penduduk. Untuk mengumpulkan sebanyak mungkin pemikiran yang dapat menjadi masukan bagi upaya tercapainya target tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia menggelar rangkaian seminar bertajuk “Menuju Kemandirian Desa Masa Depan” pada Jumat, 19 Mei 2017 di Graha Sawala, Gedung Ali Wardhana, Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI.Acara ini dirangkai pula dengan dua diskusi terkait pada Sabtu (20/5) dan Minggu (21/5) di tempat yang sama.

Laju migrasi penduduk desa di penjuru Indonesia mencapai 4 % per tahun, salah satu yang tertinggi di dunia. Diperkirakan pada tahun 2025, sebanyak 65 % penduduk desa akan berpindah ke kota. Angka ini diestimasi akan mencapai 85 % pada 2050.

Salah satu penyebab laju migrasi ini di antaranya yakni rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat desa yang sebagian besar masih berprofesi sebagai petani subsisten.Petani yang memilih tetap tinggal di desa tidak memiliki banyak pilihan baik untuk memilih bibit, pupuk, alsintan, hingga penjualan hasil garapannya sendiri.

Bantuan pertanian yang datang ke desa pun terkadang tidak cocok dengan kebutuhan spesifik di daerah mereka. Sementara itu, di luar musim bercocok tanam, banyak petani subsisten mencari pekerjaan ke kota untuk menambah penghasilan, namun tidak jarang setelahnya tidak kembali lagi ke desa. Bila tidak ditanggulangi, meningkatnya angka migrasi desa ke kota akan membuat desa “hilang” dan mengganggu ketahanan pangan.

Dalam rangkaian diskusi panel “Menuju Kemandirian Desa Masa Depan”, penanggulangan dan pengidentifikasian solusi untuk mendorong pembangunan dan kemandirian desa akan dikupas lebih jauh bersama para ahli serta praktisi dibidang agribisnis, di antaranya CEO marketplace komoditas pangan Limakilo, PT. Riset Perkebunan Nusantara, dan PT. Sewu Segar Nusantara (Sunpride Indonesia). Diskusi ini diharapkan mampu menghasilkan outcome yang bermanfaat dan dapat diimplementasikan dalam kebijakan dan solusi tepat sasaran guna mendukung program ketahanan pangan Indonesia yang dirancang Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia.

Pada diskusi sesi pertama, “Dari Petani Subsisten Menjadi Market-Oriented Commercial Farmer, akan dibahas langkah-langkah transformasi petani subsisten menjadi petani yang berbasis pola pikir dan kerja berorientasi rantai nilai bisnis komersil pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Di sesi kedua, diskusi “Meningkatkan Kesejahteraan Petani Melalui Tumpang Sari Maupun Ekonomi Kreatif (Construction, Creative Economy, Manufacturing)” akan mengulas pemberdayaan efektivitas serta efesiensi waktu petani setelah bercocok tanam dengan berorientasi pada potensi ekonomi kreatif.

Diskusi sesi ketiga, “Meningkatkan Rantai Nilai Agrikultur Dari Hulu Ke Hilir Melalui Pendekatan Right To Choose, akan membahas kesempatan petani untuk berperan langsung dalam produksi, pasca panen, sampai dengan distribusi barang bernilai tambah ke pedagang dengan kemunculan industri sarana-prasarana pertanian yang memberikan right to choose kepada petani.

Di sesi keempat, diskusi “Urbanized Village” akan membahas alternatif pola baru pembangunan perkotaan di banyak desa, terutama desentralisasi dan upaya penekanan ekspansi populasi keluar dari perkotaan. Urbanized Village adalah sebuah perkembangan pedesaan yang terpusat pada satu kawasan yang saling berintegrasi dengan sarana-prasarana serta ruang publik yang baik.

Kemandirian Desa Yang Bersinergi Dengan Ekonomi Kreatif

Di samping sesi diskusi panel, rangkaian acara“Menuju Kemandirian Desa Masa Depan” juga menampilkan bagaimana peran serta dari pegiat dari bidangarsitektur, desain, dan seni rupa dalam mendorong kemandirian desa masa depan melalui bangunan, perumahan, produk desain, dan karya seni. Lewat pameran dan lokakarya yang menjadi bagian acara, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menggandeng Nagawati SuryaTalisa Dwiyani, dan Yani Mariani Sastranegara.

Nagawati Surya merupakan desainer dan pendiri Threadapeutic, label aksesoris bermaterial kain limbah industri yang khas dengan teknik faux chenille. Wanita yang akrab disapa Hana ini melatih dan memberdayakan belasan pekerja perempuan dan pekerja difabel untuk turut bisa memiliki sumber penghasilan dengan menjadi perajin tas, clutch, dan suvenir bernilai tambah tinggi.

Adapun Talisa Dwiyani ialah seorang arsitek lulusan Universitas Indonesia yang memiliki ketertarikan tinggi pada pedesaan dan kerap membuat desain-desain inovatif yang bisa membantu petani dan warga desa meningkatkan kenyamanan hidup. Salah satu karya desainnya yakni dangau portable yang mudah dibongkar pasang petani subsisten yang kerap harus berpindah lahan sesuai lokasi kerja mereka. Selain sebagai arsitek, Talisa juga menggagas lini wastra dengan teknik shibori yang ramah lingkungan bernama OSEM.

Sementara itu, Yani Mariani Sastranegara dikenal dengan karya-karya rupa tiga dimensi yang  banyak mengisi ruang publik dan privat di berbagai lokasi, di antaranya patung Gus Dur kecil di Taman Amir Hamzah dan rangkaian instalasi Randai-Menuju Mata Angin di Pakuwon City, Surabaya. Dalam berkarya, seniman lulusan Institut Kesenian Jakarta ini kerap melibatkan belasan masyarakat sekitar rumahnya di Ciputat, Tangerang Selatan untuk mengolah material dari alam dan ramah lingkungan, seperti bebatuan dan akar pepohonan.

Pameran lintas disiplin, workshop, dan sesi khusus bersama ketiga talenta ini bertujuan memperkenalkan ide-ide kreatif dari ketiga talenta untuk bisa diterapkan di pedesaan.

Tidak hanya sampai di sini, acara “Menuju Kemandirian Desa Masa Depan” juga akan dilanjutkan dengan program pelatihan dan pendampingan dari pemerintah kepada satu desa percontohan untuk mengembangkan potensi ekonomi kreatif desanya. Dalam program Desa Mandiri, tiga talenta kreatif seni rupa, desain, dan arsitektur akan dilibatkan dalam pelatihan dan pendampingan masyarakat desa menuju kemandirian lewat kegiatan ekonomi kreatif.

Kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk melihat potensi di daerahnya yang bisa dikembangkan secara ekonomi. Lebih jauh, potensi tersebut diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk menjadi motor penggerak kewirausahaan di desa dan memunculkan lapangan kerja lewat penciptaan platform bidang-bidang kreatif yang bisa dikembangkan di desa.

Dengan demikian, acara “Menuju Kemandirian Desa Masa Depan” diharapkan dapat menciptakan sinergi hubungan antara pemerintah, industri, talenta kreatif, dan masyarakat, dan dalam jangka panjang, meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.