Islandia, Sepakbola dan Gerakan Anti Narkoba

MONITOR – Tim Nasional (Timnas) Indonesia akan menjamu Islandia, negara salah satu peserta piala 2018 Rusia dalam pertandingan FIFA Match Day yang direncanakan akan digelar pada pada 14 Januari 2018.

Indonesia memilih Islandia sebagai lawan tanding dalam laga uji coba Timnas U-23 menjelang Asian Games 2018 bukan tanpa alasan. Ya, Islandia negara paling utara di skandinavia itu merupakan sebuah fenomena tentang bagaimana keseriusan pemerintah membangun masyarakat yang gemar dan beprestasi dalam sepakbola.

Sejak tampil mengesankan di Piala Eropa 2016 lalu, Publik sepakbola dunia seolah terbuka mata ada kekuatan baru sepakbola eropa dari negara kecil yang selama ini justru tidak terlalu terdengar prestasi sepakbolanya.

Kini Islandia kembali mengejutkan dunia dengan tampil sebagai salah satu peserta Piala Dunia 2018 di Rusia. Islandia memiliki catatan sebagai negara kemajuan sepakbola yang pesat karena keseriusan negaranya membangun infrastruktur sepakbola. Kondisi wilayah yang sebenarnya sulit untuk berkarir sebagai pesepakbola tidak menyurutkan semangat untuk berinovasi demi sebuah prestasi. Betapa tidak? Cuaca ekstrim yang kerap mendera negeri ini menjadi kendala utama. Kontes liga sepakbola lokal hanya berjalan empat bulan, Juni hingga September. Selepas September musim dingin segera tiba bahkan pernah mencapai titik terendah hingga minus 39 derajat celcius.

Adalah Federasi sepakbola Islandia (KSI) yang ikut mendorong pemerintah turut campur dari sisi pengadaan infrastruktur. Untuk mengatasi cuaca dingin, dibangunlah lima stadion indoor pada tahun 2002. Kemudian terus berkembang sampai dibangunnya puluhan lapangan sintetis dan ratusan lapangan mini yang terbuka untuk sekolah-sekolah dan masyarakatnya sebagai penyalur bakat-bakat sepakbola.

Tidak berhenti di situ, KSI terus mencari celah agar Islandia benar-benar mewarnai jagat sepakbola dunia. Untuk medapatkan pemain yang mumpuni, diperlukan pelatih yang hebat. Sementara untuk menghasilkan pelatih yang hebat dibutuhkan pendidikan kepelatihan yang berkualitas. KSI lantas memperbaiki pendidikan kepelatihan. Kualitas UEFA menjadi targetnya. Tahun 2003 UEFA menyetujui pelatihan lisensi UEFA B dan lisensi UEFA A tiga tahun kemudian.

Apakah semata-mata karena itu semua, peringkat sepakbola Islandia meroket dari urutan 131 di tahun 2012 menjadi peringkat 23 FIFA hanya dalam waktu dua tahun, di 2014? Mari kita menilik masa 20-an tahun silam.

Di tahun 1990-an Negara yang memiliki luas wilayah hanya 103 ribu meter persegi ini mengalami masa kelam. Sebagian besar anak mudanya adalah pecandu alkohol, rokok juga ganja. Dikenal sebagai Negara dengan angka tertinggi pengguna zat adiktif di Eropa pada saat itu.

Namun saat ini, sulit mendapati remaja Islandia yang kecanduan rokok, ganja dan alkohol. Data yang paling akhir menunjukkan hanya sekitar 5% remaja usia 14-16 tahun pernah mengonsumsi alkohol dan 3% menghisap rokok. Apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah Islandia?

Tahun 1998 menjadi tonggak kebangkitan negeri berpenduduk 334.252 jiwa ini. pemerintah menggulirkan program Youth, program penanggulangan narkoba di kalangan remaja sekaligus pembinaan karakter yang berbasis pada riset berkelanjutan terkait kebiasaan pada perilaku anak muda. Kajian yang melibatkan sekolah-sekolah, orangtua dan komunitas ini meneliti pola konsumsi, karakteristik keluarga, angka putus sekolah dan masalah-masalah emosional remaja.

Rekomendasi dari hasil riset itu di antaranya adalah mewajibkan peran serta orangtua agar mau lebih banyak menghabiskan waktunya dengan anak-anaknya, pembelajaran di sekolah harus berbasis pada kreativitas dan diciptakanya lingkungan baru buat remaja terutama, semacam ruang terbuka hijau di sini, sebagai tempat mengekspresikan kegemaran pada olahraga, musik, teater dan kesenian lainnya.

Hasilnya, sebagian besar anak muda Islandia telah meninggalkan bahkan lupa dengan narkoba. Di depan matanya adalah prestasi yang harus diraih. Sepakbola yang menjadi olahraga paling populer di sana, kini telah berbuah prestasi. Piala Eropa 2016 dan kini World Cup 2018 menjadi tradisi baru negeri yang terkenal indah itu. Dengan jumlah penduduk yang hanya seper tujuh ratus dari penduduk Indonesia, Islandia mampu menorehkan tinta emas, masuk dalam kompetisi sepakbola paling bergensi seantero dunia.

Mampukah Indonesia seperti Islandia? Kita masih harus menunggu. Paling tidak, langkah PSSI mengundang Timnas Islandia pada pertengahan Januari ini untuk bertandang melawan Timnas U-23 menjadi langkah positif. Mudah-mudahan dapat memotivasi sekaligus menginspirasi bukan hanya pemain Timnas tetapi seluruh anak muda Indonesia.

 

Jamkrindo-Jaminan Kredit Indonesia