Usut Tuntas Aktor Dibalik Kejahatan Siber Saracen

MONITOR, Surakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo mengapresiasi langkah cepat aparat kepolisian yang menangkap sindikat penyebar isu kebencian bertendensi suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) di media sosial yang bernama Saracen. 

"Kemendagri mengapresiasi aparat kepolisian yang secara profesional mampu membongkar sondikat ini," kata Tjahjo kepada wartawan pada acara Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental di Stadion Manahan kota Surakarta, Jumat (25/8).

Tjahjo meminta polisi tidak berhenti mengusut sindikat ini. Apa motivasi Seracen ini? apa sekedar mencari untung atau uang, atau memang ada pesanan untuk membuat berita-berita fitnah berujar kebencian, sara dan lainnya.

"Harus diusut siapa yang pesan, untuk apa, apa untuk kepentingan politik jangka panjang atau pendek atau hanya sekedar main-main," ungkapnya. 

Dirinya mengaku tegas akan hal ini, karena sebentar lagi akan ada Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019. Jangan sampai ada hal-hal seperti ini yang bisa merusak suasana. 

"Silahkan orang berkampanye, beradu program, adu konsep. Jangan kemudian adu sara, berujar kebencian dan membawa fitnah sehingga merusak jalannya pesta demokrasi kita," tegas Tjahjo. 

Tjahjo menambahkan, ini bisa diproses karena rambu-rambunya sudah ada. Ada Undang-undang IT dan UU Pencemaran nama baik. Mudah-mudahan ujarnya, Polri mampu mengungkap dan membongkar jaringan ini, apakah ini digerakkan oleh orang atau untuk kepentingan siapa. "Harus dibongkar kalau tidak akan membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa," tandasnya. 

Diketahui, Polisi berhasil mengungkap sindikat penyebar ujaran kebencian Saracen. Dalam kasus ini, polisi menetapkan JAS, MFT, dan SRN sebagai tersangka.

Kelompok Saracen telah eksis sejak November 2015. Mereka menggunakan beberapa sarana untuk menyebarkan ujaran kebencian berkonten SARA.

Media tersebut antara lain di Grup Facebook Saracen News, Saracen Cyber Team, situs Saracennews.com, dan berbagai grup lain yang menarik minat warganet untuk bergabung. 

Hingga saat ini, diketahui jumlah akun yang tergabung dalam jaringan Grup Saracen lebih dari 800.000 akun. Saracen mengunggah konten ujaran kebencian dan berbau SARA berdasarkan pesanan. Tujuan mereka menyebarkan konten tersebut semata alasan ekonomi.

Media-media yang mereka miliki, baik akun Facebook maupun situs, akan memposting berita atau konten yang tidak sesuai dengan kebenarannya, tergantung pesanan. Para pelaku menyiapkan proposal untuk disebar kepada pihak pemesan. Setiap proposal ditawarkan dengan harga puluhan juta rupiah.