Terobosan Kementan Wujudkan Indonesia Lumbung Pangan Dunia

MONITOR, Jakarta – Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi mengatakan Kementan telah menyusun Grand Design Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia Tahun 2045.

Hal itu diungkapkan Agung saat menjadi pembicara utama dalam seminar nasional dengan “Tema Keanekaragaman Hayati dalam mendukung Indonesia sebagai lumbung pangan dunia”, Rabu (18/4) kemarin.

Seminar yang dibuka Wakil Rektor
Universitas Sebelas Maret ini dalam rangka Dies Natalis ke-42, universitas sebelas maret Hadir antara lain para pemangku kebijakan, pakar, peneliti, akademisi, pengusaha dan asosiasi profesi yang bergerak di bidang pertanian.

Dalam paparannya, Agung Hendriadi menjelaskan
pada tahun 2016 tercapai swasembada padi, bawang merah dan cabai, tahun 2017 untuk jagung, gula konsumsi tahun 2019, bawang putih, kedelai dan rempah tahun 2020, gula industri tahun 2024, daging sapi 2026, sehingga pada tahun 2045 Indonesia diharapkan menjadi lumbung pangan dunia.

Agung juga menguraikan berbagai terobosan yang dilakukan Kementerian Pertanian yaitu: (1) penataan sistem manajemen air; (2) pompanisasi air irigasi untuk pengambilan air; (3) pembuatan embung dan long storage; (4) inovasi benih padi tahan hama dan penyakit, termasuk menghasilkan varietas baru; (5) inovasi alat mesin pertanian dan kelengkapannya;

Selain itu, (6) peningkatan Indeks Pertanaman; (7) pemanfaatan lahan diluar eksisting; (8) inovasi inseminasi buatan (IB) dalam Program SIWAB; dan (9) pengembangan varietas sapi Belgian blue.

Kementan juga melakukan deregulasi kebijakan dan perijinan. “50 permentan yang berpontensi menghambat  dicabut, 140 permentan terkait anggaran juga dicabut, 15 permentan disederhanakan menjadi 1 permentan, dan telah membentuk Tim Percepatan Investasi, jelas Agung.

Hasilnya, investasi pertanian dari tahun 2013 hingga tahun 2017 naik sangat signifikan 56,7% atau 14,2% per tahun.

Menurut Agung untuk mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia, perlu dukungan dari seluruh pemangku kepentingan baik Pemerintah Daerah, pengusaha, masyarakat dan perguruan tinggi.

“Penguruan Tinggi melalui Tri Dharmanya  perlu diarahkan dalam mendukung pemerintah dalam mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia,” jelas Agung.

Hal bisa dilakukan melalui: kurikulum yang diarahkan  menciptakan sumberdaya manusia petanian berkualitas dan penelitian  terapan yang dapat diaplikasikan masyarakat.

Menurut Agung, pengabdian masyarakat, dapat dilakukan melalui : (1) inisiasi program penumbuhan wirausahawan muda pertanian; (2) pelibatan mahasiswa/alumni/ pemuda tani dalam pengawalan program pertanian; (3) penumbuhan kelompok usaha bersama (KUB) bagi pemuda tani; (4) pelatihan dan magang; dan (5) Kuliah Kerja Nyata diarahkan pada sektor pertanian dan daerah perbatasan.