Tayangan TV Tak Mendidik, Komisi I Pertanyakan Kinerja KPI

MONITOR, Jakarta – Mengherankan, baru-baru ini seringkali bermunculan program acara di stasiun televisi tanah air yang dinilai tak sejalan dengan jati diri bangsa Indonesia. Beberapa kasus yang mencuat seperti penayangan perilaku banci dan penghinaan terhadap institusi negara.

Mengenai perilaku tak wajar ini, Anggota Komisi I DPR RI Sukamta angkat bicara. Saat Rapat Dengar Pendapat Komisi I DPR RI dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), ia menyayangkan adanya sejumlah tayangan yang tak layak untuk ditonton, dan dibiarkan oleh KPI.

“Salah seorang public figure sebetulnya sudah berhenti dari penampilan kebanci-bancian di televisi yaitu laki-laki dengan mengenakan atribut perempuan, setelah mendapat teguran keras dari KPI periode lalu. Tapi belakangan ini melalui akun medsosnya, dia menyatakan sudah siap tampil lagi dengan acara yang serupa di televisi. Ada apa dengan KPI yang sekarang? Sepertinya KPI lebih longgar dalam mengawasi penampilan tayangan yang menyerupai LGBT ini.” ujar Sukamta, dalam siaran pers yang diterima MONITOR.

Sekretaris Fraksi PKS ini juga menyoroti kasus tayangan di sebuah televisi swasta yang menampilkan adegan game seseorang berseragam TNI memakan roti dengan tali yang diikatkan ke kaki para artis. 

"Ini jelas pelecehan terhadap institusi negara! Sangat menyedihkan. Memang yang bersangkutan sudah meminta maaf, tapi di mana peran KPI dalam hal ini?," tanya Sukamta.

Menurutnya, keberadaan KPI untuk mengawal dan menyeleksi tayangan siaran agar para pelaku jera serta memberi peringatan bagi yang lain agar tidak mengulangi kejadian serupa. 

"Acara-acara seperti ini tidak ada unsur pendidikan atau pun kebudayaan. Lebih condong pada eksploitasi dan bahan olok-olokan semata," cerca dia.

Selain itu, Sukamta menegaskan bahwa kurang tegasnya KPI dalam mengawasi hal ini dapat menyebabkan televisi-televisi yang lain berlomba-lomba menayangkan acara serupa. Masyarakat juga sudah gerah dengan penampilan LGBT di dunia penyiaran. 

Sukamta menambahkan, tugas KPI adalah menjaga agar track bangsa dalam membangun budaya dan sumber daya manusia masa depan melalui dunia penyiaran berada pada jalur yang benar. Sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD NRI Tahun 1945, bahwa salah satu tujuan bangsa ini mencerdaskan kehidupan bangsa. Cara mencerdaskan bangsa pun berevolusi. 

"Zaman dulu lewat ngaji di surau atau langgar. Sekarang dengan gadget dan televisi. Maka televisi ini sangat berpengaruh terhadap pembentukan wajah dan karakter generasi bangsa ke depan," ujarnya.

“Dengan tugas yang berat seperti itu, memang rasional jika usulan kenaikan anggaran KPI kita dukung. Tapi tunjukkan dong kinerja yang serius untuk mengawasi dunia penyiaran dan memberikan sanksi  tegas sesuai peraturan bagi pelaku penyiaran yang melanggar, bukan hanya memberi peringatan,” tegas wakil rakyat dari Daerah Istimewa Yogyakarta ini.