Tahun Baru dan Tahun Politik

Tahun 2017 akan berakhir. Semua warna kehidupan, baik suka maupun duka juga akan hilang ditelan oleh waktu dan zaman. Esok hari kita akan memasuki tahun baru 2018. Tahun yang penuh dengan tantangan dan harapan. Karena selain kita harus mempersiapkan bekal untuk menghadapi tahun 2018, kita juga dihadapkan dengan tahun politik. Dimana ditahun 2018 seluruh rakyat Indonesia akan sibuk dengan pesta demokrasi pemilihan kepala daerah serentak di 171 daerah. Dan memasuki tahapan Pileg dan Pilpres serentak 2019.

Rakyat berharap ditahun politik 2018 dan 2019 nasibnya mengalami perubahan. Jika Pilkada, Pileg, dan Pilpres dilaksanakan secara periodik setiap lima tahunan, tetapi nasib rakyat tidak berubah, maka ada yang salah dalam sistem politik kita. Sejatinya Pilkada, Pileg, dan Pilpres harus dijadikan sebagai momentum untuk perubahan nasib rakyat Indonesia. Karena dalam kontestasi ketiga pesta demokrasi tersebut terbesit harapan melahirkan pemimpin daerah, anggota DPR, dan Presiden yang peduli akan nasib kaum miskin dan tertindas.

Rakyat Indonesia sedang harap-harap cemas menghadapi tahun baru dan tahun politik. Pesta demokrasi lima tahunan (Pilkada, Pileg, dan Pilpres) harusnya menghasilkan pemimpin yang berkualitas, bertanggung jawab, visioner, berjuang bersama rakyat, menjadi suri tauladan, mengabdi untuk kepentingan bangsa dan negara. Bukan pemimpin yang ingin dilayani, koruptif, menghalalkan segala cara, pembela pengusaha hitam, elitis dan berjarak dengan yang dipimpinnya, merasa hebat, dan tidak mencerminkan sebagai pemimpin yang amanah.

Di tahun 2017 pula banyak kepala daerah yang tertangkap tangan (OTT) oleh KPK. Apakah ditahun 2018 yang akan datang jumlahnya makin banyak atau berkurang. Hanya sang waktu yang akan bisa menjawabnya. Perilaku koruptif kepala daerah merupakan cerminan bobroknya mental pejabat di daerah. Amanah yang diberikan rakyat kepadanya dijadikan kesempatan untuk mengeruk kekayaan yang seharusnya kekayaan daerah tersebut digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Tahun politik 2018 dan 2019 harus dijadikan sebagai momentum untuk perbaikan daerah dan Indonesia. Jika salah dalam memilih pemimpim, maka rakyat juga yang akan menerima akibatnya. Hanya dengan memilih pemimpin yang bersihlah kita akan mencapai kejayaan dan kehebatan. Pemimpin yang bersih akan mampu mengangkat harkat dan martabat rakyatnya. Pemimpin yang bersih juga akan membawa kebangkitan dan kejayaan daerah dan Indonesia.

Mari kita tinggalkan dan jangan memilih calon kepala daerah, anggota DPR, dan Presiden yang terlibat kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) dan juga bermental bobrok. Karena ditangan pemimpin yang bermental rusaklah daerah dan Indonesia akan hancur. Kekayaan alam daerah dan nasional tersedot hanya untuk segelintir orang kaya yang pernah membiayai kampanye para pemimpin tersebut. Bukan untuk kepentingan rakyat jelata, yang makin hari hidupnya makin menderita dan terlunta-lunta.

Harus kita akui, masyarakat masih banyak yang belum tersadarkan atas bahayanya pemimpin yang tidak amanah dan dzolim. Jika daerah mau bangkit dan Indonesia juga mau bangkit, maka satu-satunya jalan adalah kita harus memiliki pemimpin yang adil. Pemimpin yang mau mendengarkan keluh-kesah rakyatnya. Pemimpin yang tidak mementingkan kepentingan pribadi, kelompok, dan partainya. Pemimpin yang tegas dan berwibawa yang mampu mengangkat harkat dan martabat rakyatnya. Pemimpin yang satu kata antara perkataan dan perbuatan. Dan pemimpin yang menjadi panutan bagi warganya.

Pemimpin-pemimpin yang adil dan amanah tidak datang dengan sendirinya. Tetapi harus diciptakan. Mari didik anak-anak kita untuk menjadi pemimpin-pemimpin masa depan Indonesia yang baik. Bangsa ini membutuhkan anak-anak yang cerdas, kreatif, inovatif, bertanggung jawab, mencintai orang tua, agama, bangsa, dan negaranya, mengabdi untuk kepentingan ummat dan bangsa.

Jika generasi muda calon pemimpin sudah dipersiapkan sejak dini, maka akan terlihatlah kebangkitan dan keunggulan suatu daerah dan bangsa nanti.

Begitu juga sebaliknya. Jika anak-anak muda harapan bangsa hanya kongkow-kongkow, bergosip, terlalu berlebihan main game, terlibat narkoba, pergaulan bebas, bersantai ria, berpangku tangan, melawan orang tua, terlibat tawuran, mengambil barang yang bukan miliknya, bermental pengemis, mencoktek ketika ujian, bersendau gurau ketika waktunya belajar, bersifat permisif, bertindak diluar norma dan kewajaran, boros, pesimis, maka sudah dapat dipastikan bahwa bangsa ini akan hancur. Agar bangsa ini menjadi bangsa yang hebat, maka lakukan kaderisasi kepemimpinan dari sejak dini dengan cara-cara yang baik dan benar.

Lembaga-lembaga negara juga harus diisi oleh orang-orang yang baik. Agar bangsa ini juga bernasib baik. Baik buruknya nasib bangsa ini ditentukan oleh para pemimpinnya yang dihasilkan dari proses demokrasi elektoral dalam Pilkada, Pileg, dan Pilpres.

Pada tahun politik 2018 dan 2019 nasib bangsa untuk lima tahun kedepan dipertaruhkan. Pertaruhannya bukan sekedar kalah dan menang lalu selesai. Tetapi pertaruhan apakah rakyat bisa sejahtera dan makmur. Ataukah rakyat tetap menderita, miskin, sekarat, dan hidup melarat, tanpa ada yang mau mengangkat harkat dan martabatnya.

Jika rakyat tidak peduli dan acuh-tak acuh, maka nasib mereka tak akan berubah. Namun jika rakyat mau bekerja keras untuk mendukung calon pemimpin yang bersih dan transformatif, maka nasibnya akan berubah. Karena seluruh kebijakan yang ada di daerah maupun yang di pusat diputuskan dan ditetapkan oleh para pemimpin yang kita pilih. Jika yang dipilih oleh rakyat adalah pemimpin yang baik, maka tentu kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh para pemimpin tersebut akan memihak rakyat.

Sudah saatnya daerah-daerah diseluruh Indonesia berubah. Kita sudah tertinggal jauh oleh negara-negara lain. Mari kita doakan dan kita pilih calon-calon pemimpin yang memiliki kepedulian tinggi terhadap nasib rakyatnya. Semoga ditahun baru 2018 membawa harapan baru bagi kita semua.

Selamat Tahun Baru 2018