Rentan Isu Sara, Pengamat Sarankan Jokowi Gandeng Cawapres Santri

MONITOR, Jakarta – Pengamat Politik Lingkar Madani Ray Rangkuti mengatakan, salah satu tantangan tersulit yang dihadapi Jokowi dalam menghadapi pilpres adalah isu SARA. Isu tersebut dinilai sangat sensitif dan begitu masif dimainkan oleh kelompok tertentu.

"Kesulitan Jokowi adalah soal isu Sara. Kalau ini tidak dicekal maka ini bisa menggerus suara Jokowi di Pilpres nanti," kata Ray dalam diskusi bertajuk wakil presiden pilihan rakyat yang berlangsung dikawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (1/3).

Selain itu, dikatakan Ray, kelemahan lain yang dimiliki oleh mantan Gubernur DKI Jakarta ini ialah terkait beberapa kebijakan yang dikeluarkannya banyak mengandung kontroversi dan menuai kritikan dikalangan masyarakat. Salah satunya soal kenaikan harga BBM non subsidi beberapa waktu lalu.

"Ada beberapa kebijakan yang mendapat kritikan, misalnya soal Harga BBM. Tapi saya lihat di sosial media kebijakan ini tidak mendapat reaksi kuat dari masyarakat. Mungkin ini akan berdampak pada elektabilitasnya Jokowi tapi tidak banyak," ujarnya.

Oleh sebab itu, Ray mengatakan apabila secara terus menerus Jokowi diserang dengan isu SARA, sebaiknya pada Pilpres nanti lebih baik menggandeng Cawapres dari kalangan santri, bertujuan untuk meredam isu SARA yang selalu disudutkan kepada calon yang diusung oleh PDI-P itu.

Menurutnya, Jokowi bisa menggandeng ketua Umum Partai kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Ketua umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuzy.

"Dan sekarang ini Jokowi sedang menguji mereka berdua ini, kadang dia mengundang Cak Imin untuk bertemu apakah pak Romy cemburu enggak dengan hal itu, kira – kira begitu yah," ungkapnya.

Tidak hanya Jokowi yang mengalami kesulitan dalam pencalonan nanti, akan tetapi menurut Ray, Prabowo Subianto Ketua Umum Gerindra sampai saat ini masih bungkam terkait pencalonannya sebagai Capres di Pilpres 2019.

"Saat ini belum ada kejutan dari Prabowo dia mau naik (Maju pilpres) atau tidak. sementara Jokowi sudah mencari Cawapresnya. Kesulitan Prabowo adalah akan naik atau menyerahkan kursi pada orang lain kalau dia tidak naik dia harus mencari sosok yang mempunyai elektabilitas yang tinggi," pungkasnya.