Rencana Demokrat dukung Jokowi dinilai bagian dari Manuver Politik

MONITOR, Jakarta – Pengamat Politik Indonesian Public Institute (IPI) Jerry Massie mengatakan, Rapimnas Partai Demokrat 2018 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Sabtu (10/3) merubah peta politik menjelang Pilpres 2019. 

Pasalnya, selain Presiden Joko Widodo hadir dan saat itu ia menyebut dirinya sebagai seorang demokrat, pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono memberikan sinyal dukungan kepada Joko Widodo pada Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

"Pak Presiden (Jokowi). Jika Allah menakdirkan, senang partai Demokrat bisa berjuang bersama bapak," ujar SBY saat itu.

Sikap Demokrat yang demikian dinilai otomatis meniadakan kemungkinan munculnya poros ketiga. Dimana sebelumnya wacana tersebut muncul kala Demokrat bersama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Amanat Nasional (PAN) bertemu, Kamis (8/3) lalu. 

Jika berkoalisi, ketiga parpol tersebut telah memenuhi syarat 20% kursi di DPR untuk mengusung calon presiden. Demokrat memiliki 61 kursi atau 10,9% kursi DPR, PAN mempunyai 48 kursi atau 8,6% kursi DPR. PKB memiliki 47 kursi atau 8,4% kursi DPR.  Jika dijumlahkan menjadi 156 kursi atau 27,9%.

Jika Demokrat bergabung mendukung Jokowi, maka Joko Widodo akan didukung 352 kursi di DPR atau 62,9%. Itu artinya poros ketiga gugur dengan sendirinya, karena PAN dan PKB hanya 17% atau tidak memenuhi syarat untuk mengajukan calon presiden sendiri.

Menurut Jerry, keinginan Demokrat untuk mendukung Joko Widodo adalah manuver politik. Hal itu nampak dari kehadiran anak SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di istana dalam berbagai kesempatan.

"Ini adalah manuver politik Demokrat yang di belakangnya ada SBY. Sebetulnya ini seni politik yang lagi dimainkan SBY. Dia sudah membaca bahwa AHY tipis untuk menang maka jalan satu-satunya masuk gerbong pemerintahan otomatis mendukung Jokowi," kata Jerry melalui pesan singkat, Senin (12/3).

Bahkan Jerry menuturkan, jika membaca konstelasi politik selama ini, maka Demokrat pasti akan mendukung Joko Widodo. "Kalau SBY lihai membaca peta dan konstelasi politik bahkan matematika politik. Saya sudah menduga sinyal Demokrat mendukung Jokowi," ucapnya. 

Tetapi, jelas Jerry, Partai Demokrat akan tetap memajukan AHY agar elektabilitsnya naik. "Politik terkadang gaming harus ada strategi offensive dan defense. Kali ini Demokrat bermain save," kata dia. 

Ditambahkannya, pembicaraan AHY – Jokowi bisa jadi ke arah afiliasi politik Demokrat-PDIP bahkan Golkar. "Saya yakin Demokrat akan memberikan dukungan pada Jokowi. Tapi jika komunikasi dengan Mega kurang ini bisa berubah," tuturnya.

Menurut Jerry, Partai Demokrat cerdas membaca situasi politik. Karenanya, lebih memilih mengikuti perkembangan survei. "Mereka (Partai Demokrat) tahu kapan bertahan dan menyerang, sekalipun mengorbankan kadernya jika ada figur potensial di luar demokrat seperti Jokowi, maka akan direkrut. Mereka terus mengikuti survey. Mana potensial menang itu bakal di dukung," ujar Jerry.