Rektor UINSA Dinilai Berpolitik Tidak Dewasa

MONITOR, Jakarta – Tindakan Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) yang melarang pemakaian tempat untuk penyelenggaraaan acara Korp PMII Putri dikarenaka mengundang Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dinilai tidak tepat dan merupakan bentuk sikap politis yang tidak dewasa alias kekanak-kanakan.

Pandangan ini disampaikan Ketua Umum Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (MADANI), Idy Muzayyad, saat diminta tanggapan mengenai hal ini, Sabtu (11/11) kemarin. "Lagian acara tersebut (Sekolah Kader Kopri) lebih merupakan forum ilmiah dan akademis, ketimbang politis. Jadi, apa salahnya jika seorang menteri datang karena diundang. Apalagi ini kan yang undang almamater sendiri," ungkapnya.

Idy menyayangkan alasan yang diungkapkan terlalu mengada-ada, misalnya soal pemeliharaan dan pemadaman listrik. "Bayi baru lahir pun akan ketawa dengan alasan itu. Apalagi para kader pergerakan penyelenggara acara. Kalau bikin alasan yg lebih masuk akallah," sindirnya.

Idy yang kebetulan juga Wakil Ketua PP GP Ansor ini menduga Rektor dalam hal ini sudah tidak independen dan obyektif lagi dalam bersikap. "Patut diduga, dan perlu ditabayyunkan, jangan-jangan pelarangan itu karena pesanan pihak lain. Kalau itu benar, maka sudah jelaslah adik-adik Kopri ini sedang berurusan dengan seorang rektor yang menjadi bagian dari kelompok kepentingan tertentu yang mana," tegasnya.

Idy menyampaikan kalau benar independensi rektor sudah tidak ada lagi, maka Menteri Agama Republik Indonesia selaku atasan patut memberikan teguran.

"Kalaupun Pak Rektor ini memiliki preferensi politik tertentu, seharusnya tidak perlu mengembangkan sentimen terhadap tokoh yang lain yang tidak sejalan dengannya," pungkas Idy yang juga Mantan Ketua Umum PP IPNU.