Rampungkan Perundingan dengan PT Freeport, Jonan Terbang ke Amerika

MONITOR, Jakarta – Tak mau berlama-lama dalam situasi negosiasi yang alot, Menteri ESDM, Ignasius Jonan melawat ke Amerika Serikat untuk mempercepat proses perundingan dengan PT Freeport Indonesia.

"Kami bertemu dengan pimpinan Baker Hughes General Electric (BHGE) dan Schlumberger untuk membahas peningkatan kesempatan investasi di Indonesia, dan berbicara dengan CEO Freeport-McMoran Inc, Richard Adkerson," kata Jonan, berdasarkan keterangan tertulis di Jakarta, Senin (31/7).

Untuk diketahui, PT Freeport Indonesia menginduk ke Freeport-McMoran Inc yang berkantor pusat di Phoenix, Arizona Amerika Serikat.

Dalam kunjungan ke Amerika Serikat ini, Jonan akan didampingi tim dari Kedutaan Besar Indonesia di Washington, Konsulat Jenderal Indonesia di Houston, Konsulat Jenderal Indonesia di San Fransisco, Kementerian Hukum dan HAM, serta SKK Migas.  

Jonan menjelaskan, dalam pembicaraan dengan Freeport-McMoran, perkembangan perundingan berjalan positif. Dari empat topik perundingan, PT Freeport Indonesia telah menyepakati pembangunan fasilitas pengolahan-pemurnian atau smelter dan kelanjutan operasi.

Sebagaimana diketahui, PT FI telah telah menyepakati bentuk landasan hukum hubungan kerja pemerintah dan PT FI adalah dalam bentuk IUPK bukan lagi KK. Sementara untuk pembangunan smelter, PT FI sepakat untuk membangun smelterdan selesai dalam lima tahun atau paling lambat awal 2022.

"Terkait hal-hal yang belum diselesaikan, secepatnya akan dilakukan pembahasan tripartit antara PT FI, menteri keuangan, dan menteri ESDM guna mengambil keputusan," kata Jonan.

Selanjutnya, secara lebih rinci Jonan juga bertemu dengan pihak lain. Pertemuan dengan ConocoPhillips pihaknya menyampaikan agar ConocoPhillips segera mengajukan proposal lengkap jika berminat melanjutkan pengelolaan Blok South Jambi, yang akan berakhir 2020.  

"ConocoPhillips menyambut positif dan akan memberikan tanggapan secepatnya," ujarnya.

Terkait waktu yang diperlukan dalam kesepakatan kontrak jual beli gas antara Conocophillips dengan PGN yang terkatung-katung sejak 2013, Jonan akan segera mengumpulkan pihak terkait dan mengambil keputusan yang tidak merugikan kedua belah pihak.

Kemudian saat bicara dengan Chevron, terang Jonan, dibahas rencana produksi lapangan Gendalo-Gehem yang akan mulai pada 2022 dan direncanakan akan diolah di fasilitas pengolahan terapung (Floating Processing Unit/FPU) Jangkrik milik ENI (Italia).  

"Kami minta SKK segera berkoordinasi dengan Chevron dan ENI mengenai rencana pengolahan pasca 2029, mengingat FPU Jangkrik akan mencapai kapasitas pengolahan maksimal pada 2029, dikhawatirkan gas dari Chevron tidak tertampung," jelas Jonan.

Kepada Exxon, Jonan menyarankan untuk meningkatkan produksi lapangan Banyu Urip hingga 300.000 barel per hari, juga agar dapat berpartisipasi di sektor hilir migas. "Kami sarankan Exxon untuk investasi di hilir migas, termasuk membuka SPBU dan pengembangan aromatika, Exxon menanggapi positif hal itu," terangnya.

Sementara saat bertemu BHGE, lanjut Jonan, mereka menawarkan teknologi hulu migas antara lain pengurangan biaya pengeboran, dengan memanfatkan teknologi digital (IntelliStream) untuk membantu Enhanced Oil Recovery di beberapa sumur minyak yang sudah tua.  

"BHGE juga menawarkan teknologi pembangkit listrik terapung untuk pulau-pulau dengan rasio elektrifikasi yang masih rendah seperti Papua," ujar Jonan.

"Dari sisi kita, kami ajak BHGE untuk turut serta dalam pengembangan panas bumi di Indonesia, dan mereka menyambut positif tawaran itu," lanjutnya.

Tawaran peningkatan investasi di Indonesia juga ditanggapi positif petinggi Schlumberger.  

"Saat bertemu Schlumberger, mereka menyatakan niatnya berinvestasi hingga 5 miliar dolar Amerika Serikat, dalam kegiatan multiclient seismic di perairan timur Indonesia, pembuatan pusat data nasional dan kerja sama dengan K3S untuk mengelola lapangan migas. Ini akan segera ditindaklanjuti unit terkait," kata Jonan. (ANT)