Proyek Pesawat Perintis N219 ‘Nurtanio’ Gagal Uji Terbang

MONITOR, Jakarta – Anggota Komisi VII DPR Herman Khaeron mengungkapkan PT Dirgantara Indonesia tengah kekurangan dana sebesar 81,6 miliar. Anggaran ini rencananya akan digunakan pesawat perintis N219 'Nurtanio' untuk melakukan serangkaian Flight Test (pengujian terbang) tahun 2018. Uji coba ini dilakukan demi mendapatkan sertifikasi laik terbang sehingga siap dipasarkan.

Herman menyatakan, saat ini anggaran baru tersedia sebesar 37 miliar dan masih ada kekurangan sekitar 81,6 miliar.

“Kami sepakat kekurangan anggaran ini akan dibahas di APBN Perubahan dan jika masih bisa dengan anggaran-anggaran lain maka kami berterima kasih kepada eksekutif, sehingga penyelesaian Project N219 tidak lagi terkendala oleh ketersediaan anggaran. Sementara soal komersialisasi nanti menjadi tanggung jawab PT Dirgantara Indonesia,” kata Herman.

Lebih jauh politisi Demokrat ini menyatakan, pesawat N219 adalah karya anak bangsa yang harus mendapat dukungan semua pihak, murni menjadi proyek PT DI tidak hanya terhenti sebatas sebagai proyek riset. Tetapi harus sampai kepada produksi komersialnya.

Menurutnya Indonesia wajib memiliki industri kedirgantaraan sebagai negara kepulauan yang banyak jumlahnya, demi interkoneksi antar pulau yang lebih cepat, efisien dan efektif ya melalui angkutan udara. Kalau tidak memiliki pabriknya maka kita hanya akan menjadi market (pasar) bagi negara lain.

Politisi Dapil Indramayu-Cirebon ini juga mendorong agar PT. DI menjadi industri kebanggaan kita, dia yakin PT. DI dengan kemampuan direksi dan engineernya saat ini mampu berinovasi melahirkan karya-karya yang lebih baik dan hebat. Pesawat N219 bobot tonasenya bisa mengangkat beban lebih berat dari pesawat sejenis yang dibuat negara lain. Semuanya sudah 55% komponen dalam negeri, hanya mesin saja masih tergantung dari negara lain. Ini saja sangat sulit untuk mendapatkan sertifikasi.

“Tidak hanya Komisi VII tetapi DPR dan eksekutif harus memulai kesepakatan ke depan. Ini harus menjadi industri strategis yang dikembangkan, didorong dan didukung oleh fiskal yang memadai agar bisa melakukan aksi dan akselerasinya di bidang kedirgantaraan," pungkasnya.