Sindir Neno, PBNU: Tuhan yang Kita Sembah bukan Pilpres

1001
Aktivis Neno Warisman menemui awak media usai kedatangan Prabowo Subianto (dok: Rangga Monitor)

MONITOR, Jakarta – Puisi budayawan Neno Warisman pada malam Munajat 212 seperti seolah mendoakan calon presiden Prabowo Subianto. Sehingga, hal itu menuai sorotan dari banyak puhak seperti Ketua PBNU Robikin Emhas.

Robikin menilai, pengandaikan Pilpres sebagai perang adalah kekeliruan. Pilpres hanya kontestasi lima tahunan. Proses demokrasi biasa. Tentu akan ada yang dinyatakan terpilih dan tidak terpilih. Itulah mengapa konstitusi maupun regulasi lain tidak menggunakan istilah “menang” dan ‘kalah”.

“Jokowi Islam, Kiai Ma’ruf Amin Islam, Prabowo Islam, Sandiaga Uno Islam. Pasangan Capres-Cawapres semuanya beragama Islam. Lalu atas dasar apa kekuatiran Tuhan tidak ada yang menyembah kalau capres-cawapres yang didukung kalah?” tanya Robikin sembari mengkritik puisi yang dibacakan Neno Warisman, Sabtu (23/2).

“Apa selain capres-cawapres yang didukung bukan menyembah Tuhan, Allah SWT?” tambahnya.

Ia mengatakan, tak usah berusaha mengukur kadar keimanan orang. Apalagi masih terbiasa ukur baju orang lain dengan yang dikenakan sendiri.

Menurut Robikin, berdoa merupakan bagian dari cara membangun hubungan baik dengan Allah SWT. Itulah mengapa Islam memberi guidance tata cara berdoa, yang antara lain dengan adab yang baik, dengan penuh sopan santun. Tentu juga tidak memanipulasi fakta.

“Ingat, Tuhan yang kita sembah adalah Allah SWT. Bukan Pilpres. Bahkan bukan agama itu sendiri,” tegasnya.