Rupiah Terpuruk, Rizal Ramli sebut Jokowi dikelilingi Tukang Hoaks

Ilustrasi: Rizal Ramli dan Sri Mulyani

MONITOR, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang hingga saat ini masih lemah membuat kinerja pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terus dihujani kritikan pedas. Kritikan tersebut salah satunya datang dari ekonom senior Rizal Ramli.

Rizal Ramli menuding, lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar ini dikarena orang-orang disekitar Jokowi yang salah dalam memberikan masukan tentang kondisi ekonomi di republik ini.        

“Jadi saat ini Pak Jokowi sedang dikelilingi orang-orang tukang hoaks. Mereka ini  selalu memberikan laporan kalau ekonomi bangsa ini baik-baik saja. Padahal lagi carut marut. Parahnya lagi Pak Jokowi tidak tanya kiri kanan. Jadinya ya seperti ini rupiah terjun bebas,”ujar Rizal Ramli saat mengisi acara diskusi yang digelar Sekretariat Bersama (Sekber) di The Kemuning, Jakarta Pusat, Rabu malam (11/7).

Mantan Menko Maritim ini pun menyebut, apabila melihat kondisi ekonomi saat ini, bukan tidak mungkin krisis moneter (krismon) yang terjadi di tahun 1997 bakal terulang.

“Bayangkan kurs dollar AS sekarang sudah tembus Rp 14.250, harga bahan pokok sudah pasti melambung tinggi, daya beli masyarakat turun. Mau dibawa kemana kita ini,”tegasnya.

Dengan kondisi seperti ini, Rizal pun menyarankan agar pemerintah Indonesia tak lagi meminta bantuan kepada IMF.

“Kalau kita masih menggantungkan diri kepada bank dunia itu, maka yakinlah Indonesia bakal terpuruk karena kita akan masuk pada lubang yang sama seperti dulu,”ungkapnya.

Rizal pun menegaskan pinjaman bangsa ini kepada IMF, karena tak lepas dari adanya  Sales Promotion Girl (SPG) yang bekerja untuk IMF.

“Kalau saya dipercaya jadi pemimpin bangsa ini, saya akan tanggap orang-orang yang jadi SPG nya IMF, “tukas Rizal.

Lebih jauh Rizal mengatakan, menggadapi krisis ekonomi, pemerintah harus mampu terobosan internal bukan meminjam uang ke bank yang akan bikjn negara makin sulit karena terlilit hutang.

“Contoh Jepang dan China yang berhasil lolos dari krisia berkat pemotongan pajak dan penurunan harga di berbagai bidang sehingga ekonomi mereka tumbuh 12 persen setiap tahunnya,”pungkasnya