Aktivis 98 Ingatkan Semangat Era Reformasi Perangi Korupsi dan Terorisme

MONITOR, Jakarta – Mantan Aktivis era 1998, Masinton Pasaribu mengingatkan semangat era reformasi untuk tetap konsisten melawan praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Bahkan dalam konteks kekinian Masinton berharap semangat reformasi dapat didorong untuk memerangi ancaman ideologi dan NKRI dari radikalisme dan terorisme.

Menurut Masinton pada saat era Reformasi Republik Indonesia telah mengalami masa yang dimana penguasa memiliki kekuatan penuh terhadap segala kebijakan yang dimaknai sebagai antitesa.

“Reformasi adalah antitesa rezim orba yang ortodok yang jadi simbol-simbol negara dalam tataran formal. Bukan pada substansi. Kebebasan sipil berdemokrasi tidak bisa dipenuhi karena ada dwi fungsi abri,” kata Masinton di Ballroom Hotel Sahid Jaya, Kawasan Sudirman, Jakarta, Selasa (29/5).

Ia menegaskan, bahwa semangat reformasi Indonesia harus jauh dari tindakan korupsi, sebab itu, pada era reformasi gerakan mahasiswa 98 menolak cara-cara KKN (kolusi, korupsi, nepotisme) yang ditunjukan pada era orde baru. Untuk itu ia mengaharapakan agar KPK lebih fokus menumpas segala tindak pidana korupsi.

“Reformasi ingin negara dibawa dengan cara-cara tidak korup. Makanya dulu kita ada anti KKN. Kenapa saya protes KPK karena saya adalah generasi yang sangat ingin KPK kerja agar lebih hebat lagi untuk berantas korupsi. Makanya saya tekankan untuk itu,” ujarnya.

Selain itu, ia menjelaskan apabila berkaca dari hari lahirnya semangat pancasila pada 1 juni 1945 yang menyepakati untuk membangun negara satu untuk semua yang adil dan makmur. Bahkan ia mengklaim dengan semangat Reformasi mampu menyatukan hal tersebut.

“Kalau kita baca semangat pada pidato 1 juni karena kita mau bangun negara semua untuk semua dan semua untuk satu. Kemudian dalam perjalanan reformasi, kita bisa satukan semua perbedaan dengan musyawarah untuk mencapai keadilan yang makmur,” imbuhnya.

Menurutnya, pada masa saat ini ada oknum yang dengan sengaja menggemboskan semangat reformasi yang sudah terbangun, dikatakannya, ada penumpang gelap yang mengisi demokrasi dan ruang kebebasan tersebut.

Ia mencontohkan dengan adanya ruang publik seperti media sosial saat ini dapat memberi efek yang positif untuk kebebasan berekspresi dalam berdemokrasi yang lahir dari adanya reformasi tidak seperti jaman orde baru yang anti kritik terhadap pemerintah.

“Kalau rezim soeharto ada facebook saya yakin kita tidak bisa gunakan facebook karena rezim tidak membuka akses kebebasan berekspresi. Dan kini kita bisa rasakan buah demokrasi. Ruang demokrasi kita sebagai ruang kebebasan itu ternyata sering diisi oleh para penumpang gelap, yang gunakan untuk informasi hoax dan sebar isu-isu negatif,” tandas politisi PDI-P ini.

Dia menambahkan, semangat era reformasi saat ini sangat dibutuhkan sebagai cara untuk melawan aksi terorisme adalah cukup tepat. Menurutnya, dengan semangat reformasi dapat menyatukan perbedaan yang ada. Pasalnya, dalam seamangat reformasi dibumbui dengan ideologi pancasila.

“Terorisme itu aksi dan cara tujuannya adalah kacaukan negara dan pancasila sebagai ideologi yang kita sepakati. Pancasila adalah jelas lebih pantas dan lebih baik dijadikan sistem dari ideologi transnasional itu. Intinya adalah kekuatan kita ada di pancasila. Terorisme adalah cara dan cara ini yang harus kita lawan,” tandasnya.

Jamkrindo-Jaminan Kredit Indonesia