Pilih Golkar atau Novanto

Aku bukan pilihan itulah judul lagu yang sering dinyanyikan oleh Iwan Fals. Judul lagu yang bisa menggambarkan Partai Golkar dan Setya Novanto saat ini. Sebuah pilihan yang sulit dan sangat menentukan, bagai makan “buah simalakama” apakah memilih Partai Golkar atau Setya Novanto untuk diselamatkan. Ataukah melawan kehendak rakyat. Hidup memang pilihan dan hidup memang harus memilih. Apapun pilihannya harus yang terbaik untuk Partai Golkar dan Indonesia.

Jelang pra-pradilan Setya Novanto pada hari Kamis, 30 November 2017 seluruh rakyat Indonesia akan menyaksikan ketukan palu hakim apakah status tersangka Setya Novanto oleh KPK sah atau sebaliknya. Pra-pradilan tanggal 30 November tersebut merupakan pertaruhan hidup mati bagi Setya Novanto. Hakim harus adil dan harus memutus sesuai bukti-bukti yang ada dalam persidangan. Dan harus memutus sesuai hati nurani. Tidak boleh berdasarkan titipan atau tekanan dari siapapun. Hakim juga tidak boleh diintervensi oleh kekuatan apapun. Pra-pradilan pertama Setya Novanto pada tanggal 29 Sepetember 2017 yang membebaskan Setya Novanto dari status tersangkanya harus menjadi cerminan. Cerminan agar hukum tidak dibelokkan oleh siapapun. Dan apapun keputusan hakim harus dihormati.

Jika Setya Novanto menang lagi dalam pra-pradilan yang keduanya pada hari kamis, maka sudah dapat dipastikan dia adalah orang kuat dan sakti. Kuat karena KPK tidak mampu mengalahkannya. Dan KPK akan kehilangan kepercayaan diri. Sakti karena Setya Novanto selalu lolos dari jerat hukum. Setya Novanto kuat mungkin saja dia sudah banyak menanam jasa kepada orang lain dan membentuk jaringan yang kuat hingga ke penegak hukum. Dengan kesaktianya Setya Novanto mampu membulak-balikan logika hukum. Dan jika menang pra-pradilan lawan KPK, maka KPK harus melakukan evaluasi.

Jika bisa menang dalam pra-pradilan yang kedua, Setya Novanto tetap harus legowo dan merelakan Partai Golkar untuk melakukan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub). Jika tidak, maka Partai Golkar akan semakin tenggelam. Munaslub merupakan jalan terbaik bagi Partai Golkar agar dapat dengan cepat melakukan recovery. Salah satu lembaga survey merilis bahwa jika Pemilu dilakukan saat ini Partai Golkar hanya di posisi ke tiga dengan raihan suara 10 % disalip oleh Partai Gerindra yang menyodok diurutan kedua dengan raihan suara 13 %. Ini merupakan warning bagi Partai Golkar. Jika tidak cepat diantisipasi bisa saja Partai Golkar disalip oleh partai-partai lainnya.

Dan jika Setya Novanto kalah dalam pra-pradilan, maka secara politik dia akan tamat. Dia dipastikan akan dicopot dari jabatan ketua DPR RI dan ketua umum Partai Golkar. Dan rame-rame kader Partai Golkar akan meninggalkannya. Bahkan yang akan berbahaya adalah jika KPK menerapkan TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) kepada Setya Novanto. Jika TPPU diberlakukan, maka harta Setya Novanto akan ditelusuri dan disita. Kita dorong agar KPK bekerja profesional dan objektif. Sehingga keadilan dirasakan oleh semua warga negara yang sedang tersandung masalah hukum.

Senior, pimpinan dan kader Partai Golkar harus dengan cepat bertindak melakukan langkah-langkah penyelematan Partai Golkar. Jika Partai Golkar sampai karam apalagi tumbang dan kalah dalam Pemilu, maka yang akan rugi bukan hanya kader Partai Golkar, tetapi juga bangsa Indonesia. Karena Partai Golkar telah banyak memberikan kontribusi dan darma baktinya untuk pembangunan dan kemajuan Indonesia. Oleh karena itu, Partai Golkar harus diselamatkan agar tidak punah seperti dinosaurus. Dulu besar sekarang hilang dan punah. Langkah-langkah penyelematan tidak harus menunggu hasil pra-pradilan Setya Novanto. Menang atau kalahnya Setya Novanto dalam pra-pradilan tidak boleh menghalangi Partai Golkar untuk berbenah.

Jika pilihan senior, pimpinan, dan kader menyelematkan Setya Novanto, bisa kedua-duanya –Setya Novanto dan Partai Golkar — tenggelam. Seandainya Setya Novanto menang di pra-pradilan dan kembali memimpin Partai Golkar. Rakyat sudah benci dan muak. Dan Partai Golkar bisa ditinggalkan oleh rakyat Indonesia. Jadi pilihan yang rasional adalah memilih menyelamatkan Partai Golkar, bukan menyelematkan Setya Novanto. Yang dibangun oleh Partai Golkar bukan individu atau ketokohan seorang ketua umum, tetapi harus membangun institusi dan sistem.

Di Partai Golkar tidak mengenal ketokohan dan kultus individu. Partai Golkar tidak pernah defisit atau kekurangan tokoh. Ketokohan di Partai Golkar merata. Tokoh yang satu dengan tokoh yang lainnya memiliki kemampuan yang berimbang. Dan masing-masing tokoh memiliki faksi sendiri. Ibarat team sepak bola, Partai Golkar sama dengan team Panzer Jerman. Dimana kekuatan pemainnya disemua lini merata dan memiliki skill sepak bola di atas rata-rata.

Jadi jika Setya Novanto kalah di pra-pradilan dan dibui KPK, maka tidak akan mengganggu proses recovery. Karena begitu Setya Novanto mundur atau dimundurkan, pengganti Setya Novanto sebagai ketua umum Partai Golkar pun akan bermunculan. Tak ada gunanya mempertahankan Setya Novanto, jika masih tetap dipertahankan citra partai akan hancur. Rakyat Indonesia sangat peduli terhadap Partai Golkar. Partai Golkar harus tetap tegak berdiri. Bahkan harus merebut kemenangan dalam kontestasi Pilkada 2018 dan Pileg/Pilpres 2019. Momentum inilah harus ditangkap oleh senior, pimpinan, dan kader Partai Golkar untuk berubah. Dan perubahan itu bisa dilakukan dengan Munaslub. Munaslub adalah jalan terbaik untuk kebangkitan kembali Partai Golkar.

Tidak ada yang bisa membendung keinginan rakyat. Rakyat menginginkan “Partai Golkar Yes, Novanto No”. Artinya perubahan kepemimpinan di Partai Golkar harus dilakukan dengan secepat-cepatnya dan sesingkat-singkatnya. Dan pergantian ketua umum Partai Golkar adalah keniscayaan.