Pidato Viktor Laiskodat Dianggap Sebagai Kekejian Politik

MONITOR, Jakarta – Isi pidato Ketua Fraksi NasDem DPR, Viktor Laiskodat, mengenai partai-partai politik yang dituduhnya pro-khilafah dan intoleran dikecam banyak kalangan. Partai yang dimaksud yakni Partai Demokrat, Gerindra, PAN dan PKS.

Seperti halnya tokoh Rumah Amanah Rakyat (RAR) Ferdinand Hutahaean. Ia geram, pasalnya tindakan yang dilakukan politikus Nasdem itu sudah mengarah pada kekuasaan.

Ia pun menilai pernyataan Viktor merupakan sebuah kekejian politik yang ditargetkan pemerintah kepada partai oposisi.

"Ini adalah bentuk kekejian politik yang dilakukan oleh penguasa kepada pihak yang berbeda pendapat dan beda pemahaman dengan pemerintah," ujar Ferdinand dalam pesan teks yang diterima Monitor, Jumat (4/8).

Ferdinand menilai, semua pihak yang berbeda pendapat dengan kubu pemerintah dicap dan dilabeli anti Pancasila. "Sungguh provokasi dan propaganda yang keji telah terjadi ditengah bangsa ini hanya untuk sebuah kekuasaan yang tak abadi," cetus Ferdinand.

 

Berikut ini isi pidato Viktor saat kunjungan ke NTT :

Kelompok-kelompok ekstremis ini ada mau bikin satu negara lagi, dong tidak mau di negara NKRI, dong mau ganti dengan nama negara khilafah. Negara khilafah itu berarti … (bahasa daerah) dengan NKRI. Ada sebagian kelompok ini yang hari ini mau bikin negara khilafah. Dan celakanya partai-partai pendukungnya itu ada di NTT juga. Yang dukung supaya ini kelompok ini ekstremis ini tumbuh di NTT, partai nomor 1 Gerindra. Partai nomor dua itu namanya Demokrat. Partai nomor tiga namanya PKS. Partai nomor empat namanya PAN. Situasi nasional ini partai mendukung para kaum intoleran, intoleran itu … (suara tidak terdengar jelas) intoleran. Yang dong suka orang lain, dong suka …. (suara tidak jelas)

Jadi catat baik-baik, yang calon bupati, calon gubernur, calon DPR yang dari partai tadi tersebut, kalau tusuk tertusuk tumbuh untuk sampeyan pilih itu, maksudnya pilih supaya ganti negara khilafah.

Mengerti dengan khilafah? Semua wajib salat. Semua lagi yang di gereja, mengerti? Mengerti? Negara khilafah tidak boleh ada perbedaan, semua harus salat.

Saya tidak provokasi, nanti orang timur yang nanti, nanti negara hilang kita bunuh pertama mereka sebelum kita dibunuh. Ingat dulu PKI 1965? Mereka tidak berhasil kita eksekusi mereka. Gue telepon lu punya ketua umum di sana, suruh you jangan tolak tolak itu perppu yang melarang untuk perppu nomor 2 tahun 2017 (prokprokprok). Duduk di sini dari partai apa nih? Nah oli tamoes.. tau oli tamoes, tadi masih di Gerindra… (bahasa daerah).