Pesan Politisi Hanura untuk Ananda Sukarlan

MONITOR, Jakarta – Langkah Ananda Sukarlan, pianis dan komponis yang Walk Out saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berpidato pada acara malam penghargaan dan ulang tahun ke-90 Kolese Kanisius, menuai ragam reaksi dari sejumlah pihak.

Tindakan Sukarlan mengundang keprihatinan salah satu Politisi Partai Hanura, Afifudin, yang juga Wakil Sekjen DPP Hanura saat berbincang dengan Monitor di Jakarta (15/11).

"Adanya Walk Out dari Ananda Sukarlan yang diikuti peserta lainnya pada saat Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta memberikan sambutan di acara Perguruan Kanisius, tentu mengundang keprihatinan kita," katanya.

Menurut Afifudin lebih lanjut, sikap Walk Out tersebut merupakan perbuatan tidak etis dan memalukan. Afif menilai, kejadian di acara Kolese Kanisius tersebut bentuk ketidak-Move On-an politik dalam menyikapi kekalahan pada Pemilukada 2016 di DKI Jakarta. 

Kejadian seperti tindakan Sukarlan, menurut Afif, ke depannya dapat mengganggu proses demokrasi dan merusak semangat persatuan serta kesatuan anak bangsa. Apalagi Anis Baswedan datang dan memberikan sambutan pada acara tersebut selaku Gubernur DKI Jakarta. Ia diundang secara kelembagaan, sebagai tamu kehormatan atas nama pemerintah daerah.

"Belajar dari kejadian itu dan hal-hal lainnya, jika kita masih menunjukkan sikap belum bisa menerima kekalahan politik, baik pada saat Pilpres, Pilgub, Pilbup dan Pilwako, maka hal tersebut akan mengganggu proses jalannya demokrasi yang sudah kita sepakati bersama dan akan merusak persatuan dan kesatuan kita sebagai anak bangsa," ujarnya.

Afifudin sendiri, selain dikenal sebagai politisi muda Partai Hanura, juga aktivis kader muda NU. Di tempat kelahirannya, Kabupaten Pemalang, ia juga pernah mengikuti dan merasakan kekalahan pada kontestasi Pemilukada 2015 yang lalu sebagai calon Wakil Bupati Pemalang. Pengalamannya ini, menjadikan pembelajaran baginya bahwa dalam politik harus selalu Move On, terutama dalam kekalahan politik.