Pesan Habib Rizieq dari Yaman: Rekonsiliasi atau Revolusi

MONITOR, Jakarta – Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab menyampaikan bahwa dirinya terus memantau kondisi kekinian di tanah air. Hal itu disampaikan Rizieq dalam pernyataan resmi yang dikirimnya dari Tarim, Yaman.

"Saya dari kejauhan selalu memonitor dan mencermati serta mengevaluasi semua pergerakan para sahabatnya baik dari kalangan Islam maupun Nasionalis di negeri tercinta Indonesia," ujar Rizieq dalam pernyataanya yang diteruskan Kapitra Ampera, pengacara Rizieq, kepada redaksi, Senin (3/7).

Dalam pernyataannya, Rizieq yang sekaligus Ketua Pembina Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) menyampaikan secara ikhlas dan tulus apresiasi yang tinggi dan jutaan terima kasih kepada semua elemen bangsa yang selama ini selalu bersama para ulama mengawal Aksi Bela Islam untuk perjuangan melawan kezaliman dan kemunkaran.

"Saya hanya ingin mengingatkan bahwa dengan izin Allah SWT dan karunia-Nya bahwa selama ini semua gerakan tersebut saling melengkapi dan saling menyempurnakan serta saling menguatkan satu sama lainnya, karena dibangun atas dasar saling pengertian, sehingga menjadi kekuatan yang sangat dahsyat," ungkapnya.

Dia mengimbau, saling pengertian di antara semua elemen gerakan harus tetap dijaga. Tidak boleh dipecah belah dengan isu atau prasangka, sehingga saling curiga, yang bisa mengantarkan kepada perpecahan dan kehancuran perjuangan.

"Jika terhadap lawan kita harus bersikapnegatif thinking untuk tetap membangun kewaspadaan, maka terhadap kawan kita wajib bersikap positif thinking yaitu berfikir positif untuk menjaga persatuan dan persaudaraan," ucap Rizieq.

Karenanya, lanjut dia, pertemuan Pimpinan GNPF MUI dengan Presiden dan para menterinya di Istana Negara, harus dimaknai sebagai bagian peran GNPF MUI yang sejak awal berdiri selalu pro aktif membangun komunikasi dan dialog dengan semua pihak.

"Jangan serta merta diartikan sebagai bentuk pelemahan perjuangan, apalagi pengkhianatan," kata Riziq.

Untuk itu, tambah dia, GNPF MUI akan menggelar rapat akbar dengan pimpinan semua elemen perjuangan untuk melaporkan tentang apa yang sudah dan sedang serta akan dilakukan GNPF MUI dalam perjuangan Aksi Bela Islam selanjutnya.

"Silakan semua pimpinan elemen juang menuangkan pikiran dan saran serta kritik membangunnya dalam rapat akbar tersebut untuk kemaslahatan perjuangan membela agama, bangsa dan negara," tambahnya. 

Dia juga meminta umat untuk menghentikan perdebatan via Medsos karena hanya akan jadi fitnah yang memecah belah umat. 

"Akhirnya, saya selaku Imam Besar FPI dan Ketua Pembina GNPF MUI ingin mengulangi untuk kesekian kalinya bahwa saya telah melemparkan ultimatum perjuangan, rekonsiliasi atau revolusi!" tegasnya.

Dia juga mengingatkan bahwa ultimatum tersebut bukanlah sikap menyerah, akan tetapi justru sikap ksatria Habaib dan Ulama dalam mengimplementasikan ruh Aksi Bela Islam 411 dan 212 yang selalu mengedepankan Dialog dan Perdamaian dengan semua pihak.

"Tapi ingat, tidak ada rekonsiliasi tanpa stop kriminalisasi ulama dan aktivis. Tidak ada rekonsiliasi tanpa stop penistaan terhadap agama apapun. Tidak ada rekonsiliasi tanpa stop penyebaran paham komunisme, marxisme, leninisme dan liberalisme serta paham sesat lainnya," bebernya. 

Tak hanya itu,  dia juga menegaskan, tidak ada rekonsiliasi tanpa stop kezaliman terhadap rakyat kecil yang lemah dan tak berdaya. Tidak ada rekonsiliasi tanpa menjunjung tinggi asas musyawarah dan asas proporsionalitas di seluruh Aspek dan sektor serta bidang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

"Jika semua itu tidak bisa dipenuhi untuk mewujudkan rekonsiliasi nasional bagi keutuhan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, maka tidak ada pilihan lain bagi rakyat dan bangsa Indonesia kecuali, revolusi," tutupnya.