Persahabatan Natsir dan DN Aidit

Hubungan politik Mohammad Natsir dan Dipa Nusantara Aidit memang konfrontatif. Namun hubungan pribadi keduanya "bersahabat". 

DN. Aidit sebagai ketua Comite Central Partai Komunis Indonesia gigih memperjuangkan tegaknya komunisme di Indonesia. Sedangkan Mohammad Natsir sebagai pentolan Partai Masyumi menginginkan negara dijalankan di atas nilai-nilai Islam atau dalam istilah Natsir Teistik Demokrasi.

Panasnya hubungan politik keduanya dapat dilihat waktu sidang DPR dan  Konstituante (1956-1958). Terutama saat perdebatan mengenai ideologi dasar negara.

Mengenai hubungan dengan DN.Aidit, Natsir banyak bercerita kepada salah satu muridnya yang bernama Yusril Ihza Mahendra.

Menurut Yusril, Natsir sering emosi ketika berdebat dengan Aidit di parlemen. "Pak Natsir bilang, rasanya dia ingin menghajar kepala Aidit dengan kursi," kata Yusril. 

Tapi, hingga rapat berakhir tak ada kursi yang melayang ke kepala Aidit. Malah, begitu meninggalkan ruang sidang, Aidit membawakan Natsir segelas KOPI.

Keduanya lalu ngobrol lebih "intim" tentang hal kehidupan keluarga masing-masing. Hal demikian terjadi berkali-kali. Bahkan Yusril menambahkan, "kalau setelah rapat Natsir tak dapat tumpangan, Pak Natsir sering dibonceng sepeda oleh Aidit dari Pejambon".

Almarhum Adnan Buyung Nasution juga pernah berkisah tokoh Masyumi lain yang mampu menjalin "persahabatan" baik  dengan tokoh PKI di luar arena politik.

Tokoh Masyumi tersebut bernama  KH. Isa Ansari. Kiai ini sering mengajak Aidit dan Nyoto makan sate setelah berdebat. Bahkan kalau Aidit ke Sukabumi, dia menginap di rumah Kiai Ansari. 

Dari sekelumit kisah tokoh di atas sungguh menjadi teladan yang baik bagi kita untuk lebih bersikap bijaksana. 

(Disarikan dari buku terbitan Tempo berjudul "Natsir Politik Santun Di Antara Dua Rezim")