Perkembangan EBT Semakin Positif dan Kompetitif

MONITOR, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang diwakili Dirjen Ketenagalistrikan, Andy Noorsaman Sommeng dan Dirjen Energi Baru Terbarukan Konversi Energi (EBTKE), Rida Mulyana menggelar konferensi pers ihwal pengembangan pembangkit listrik EBT bersama Direktur Perencanaan Korporat PT PLN (Persero), Nike Widyawati.

Acara itu digelar di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, pada Kamis (2/11).

Dalam kesempatan itu, Andy menuturkan bahwa dari sembilan proyek pembangkit listrik EBT yang tersebar di Indonesia, rata-rata siap menghasikan listriknya (COD) paling lama pada 2020.

“Dari rata-rata COD -nya itu yang paling lama terjadi pada 2020,” kata Andy.

Andy menambahkan, total investasi dari pembangkit listrik EBT yang dalan periapan perjanjian jual beli tenaga listrik (PPA) dengan kapasitas 640,65 MW ini mencapai 20.413,25 T.

Di waktu yang sama, Rida mengungkapkan,  perkembangan EBT di Indonesia tumbuh positif dan kompetitif. “EBT semakin positif pertumbuhannnya dan semakin kompetitif,” ujarnya.

Sedangkan ihwal capaian pasokan listrik EBT total dengan sembilan proyek pembangkit yang akan di PPA mencapai 1,3GW.

"Ada 9 , 8 PLTMH dan 1 PLTP. Adapun capaiannya tahun ini, ada capaian 1,3 GW, Itu capaianya,” tambahnya.

Sampan 2017, sambung Rida, telah dibangun 471 pembangkit listrik EBT di daerah-daerah terisolir di Indonesia.

“Sampai tahun 2017 kita sudah bangun 471 pembangkit listrik EBT. Jumlahnya memang  sepintas terlihat sedikit, tapi ingat ini dibangun di daerah yang terisolir,” ungkapnya.

Sementara itu, Nike mengatakan, telama tiga tabun terakhir, perkembangan pembangkit listrik EBT cukup besar dan progres percepatannya positif.

“Kalau kita amati dalam 3 tahun terakhir achievment itu di EBT. Tahun ini jauh lebih besar. Jadi dengan progres ini sejatinya terjadi percepatan,” papar Nike.

Nike menambahkan, sebaran bauran EBT yang ada dan sedans disiapkan sejumlah 30.000W. Sehingga jika baru dimanfaatkan 3.400 W, masih banyak sisanya.

“Ada 30.000 W jadi kalau sekarang ada 3400 W ada sisanya yang masih dalam tahap persiapan,” tambah Nike.

Adapun presentasenya, sambung Nike, per-akhir September sebesar 12,36 persen. Dimana tenaga panas bumi (geothermal) menjadi penyumbang pasokan terbesarnya.

Sedangkan, Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) menyusul setelahnya.

“Bauran energi, per-akhir september itu 12,36 persen, jadi cukup besar. Dimana geothermal menjadi pasokan listrik yang paling optimal. Ada juga PLTMH. Pertama kali kita ganti, nanti dlam 10 tahun kedepan PLTD akan berganti menjadi PLTMA yaitu di Sulteng,” terangnya.