Pengamat Ungkap Efek Terburuk Pindahnya Pendiri PKS ke PDIP

Pengamat Politik Maksimus Ramses Lalongkoe (net)

MONITOR, Jakarta – Nama Yusuf Supendi belakangan santer mencuat di media massa. Yusuf dikenal sebagai salah satu pendiri PKS, yang notabene merupakan bagian dari generasi pertama gerakan tarbiyah di Indonesia, yakni cikal bakal lahirnya Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Namun siapa sangka, sang pelopor tersebut malah berbalik menyerang. Tak jarang ia memberikan komentar dan kritik tajam kepada partai besutannya. Terlebih,  Yusuf sekarang telah menjadi bagian PDIP bahkan mencalonkan diri sebagai Bacaleg.

Menanggapi fenomena para tokoh yang loncat partai itu, pengamat politik Maksimus Ramses Lalongkoe menilai hal tersebut wajar bahkan menjadi tradisi di era pentas politik saat ini.

“Sebenarnya pindah partai itu sudah hal biasa di kalangan politisi selama ini dan sudah menjadi seperti tradisi saja,” kata Maksimus saat dihubungi MONITOR, Jakarta, Kamis (19/7).

Kendati demikian, Maksimus tetap menduga ada imbas ditimbulkan setelah pindahnya Yusuf ke PDIP. Menurutnya, kemungkinan besar Yusuf akan akan membocorkan strategi politik yang pernah dilakukan PKS nantinya.

“Iya dia kan salah satu pendiri partai tentu dia mengetahui benar pergerakan PKS, bisa jadi strategi PKS dapat diterapkan Yusuf dalam menjalankan tugasnya di partai PDIP,” ujarnya.

Tak hanya itu, Maksimus juga menilai seperti ada unsur memaksakan yang dilakukan oleh Yusuf untuk kembali nyaleg dari PDIP. Namun, menurutnya pada sejatinya politisi itu ialah mencari kenyamanan dalam berpolitik.

“Iya nampaknya demikian tapi pada prinsipnya politisi itu mencari kenyamanan,” tukasnya.

Lebih dari itu, ia menilai bahwa para tokoh politik tanah air kerap kali bersikap dinamis, sehingga menurutnya, politisi tersebut belum sampai kepada hal yang mendalam tentang pemahaman ideologi, malah lebih kepada mengejar kekuasaan semata.

“Politisi kita belum terikat dengan ideologi masih tataran konsep sehingga bila mereka berlaku ke partai lain itu artinya kepentingan kedudukan yang dicari bukan perjuangkan ideologi,” papar Direktur Eksekutif Lembaga Analisis Politik Indonesia ini.