Penderita Difteri Menurun Drastis

MONITOR, Jakarta – Difteri merupakan jenis wabah berbahaya yang kini menyebar di sejumlah daerah di Indonesia. Sepanjang tahun 2017 ini, masyarakat mendadak ketakutan dan khawatir anggota keluarganya tertular virus tersebut.

Diketahui, penyakit ini ditularkan oleh bakteri Corynebacterium Diphtheriae. Gejalanya nyaris sama seperti penyakit flu. Untuk gejala awal, penderita akan merasakan demma biasa disertai pilek. Namun yang membedakan, tiba-tiba ada bengkak di tenggorokan. 

Setelah dicek, ada selaput lendir di selaput saluran pernapasan. Apabila dicongkel sedikit dengan cotton bud justru akan berdarah. Ada juga gejala, langit-langit mulut terlihat bercak putih. Bukan hanya menular, penyakit ini juga mematikan.

Ikhtiar Pemerintah

Penyakit ini disebut sebagai kasus kejadian luar biasa (KLB). Terhitung sejak bulan Januari sampai Desember 2017, sebanyak 772 masyarakat menderita difteri, dengan pola penularan yang naik turun.

Sempat membuat geger masyarakat di penjuru Indonesia, namun kini pemerintah sedikit bisa bernafas lega. Pasalnya, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengklaim penyakit difteri kini menurun drastis. 

Penurunan ini terjadi setelah dilakukan imunisasi melalui ORI (Outbreak Response Immunization) pada tanggal 11 Desember lalu. Pemerintah mencatat, setiap minggunya tampak jumlah penderita difteri menurun.

Namun Menkes tak menjelaskan secara detail data terkait penurunan kasus difteri tersebut. "Turun drastis, ini ada yang nol, ada yang hijau, tapi ada juga yang masih meningkat," ujar Nila.

Selanjutnya Nila mengungkapkan bahwa persediaan vaksin masih aman. "Saat ini vaksin yang tersedia kurang-lebih 15,5 juta," ujarnya.