MPR Tanamkan Nilai-nilai Empat Pilar lewat Pegelaran Budaya Kuansing

MONITOR, Jakarta – MPR RI menggelar sosialisasi Empat Pilar yang dikemas dalam sebuah pagelaran seni dan budaya Melayu Kuantan Singingi (Kuansing), Desa Pintu Gobang, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, Selasa (6/11).

Dalam pagelaran seni budaya yang dibuka oleh Anggota MPR Fraksi Partai Golkar asal Riau, Ir. Idris Laena itu menampilkan seni budaya tradisional Kuansing, yakni Dendang, Rarak Godang, dan Randai (gerak dan lagu berirama etnik Kuansing).

Sementara itu, Kepala Biro Administrasi dan Pengawasan Setjen MPR, Suryani yang juga selaku ketua panitia pelaksana pagelaran seni budaya di Kuansing mengungkapkan rasa bangganya melihat seni budaya dan adat istiadat masyarakat Melayu Kuansing begitu luar biasa. Tidak terkecuali, sambung dai, antusias partisipasi masyarakat yang membuat pertunjukan begitu meriah.

“Ini membuktikan bahwa upaya MPR untuk mengangkat dan melestarikan kebudayaan tradisional daerah sudah menemui sasarannya,” kata Suryani.

Lebih lanjut, Suryani menjelaskan, MPR melaksanakan sosialisasi Empat Pilar sudah dimulai sejak tahun 2005, di awali sosialisasi putusan MPR hasil amandemen, yaitu UUD NRI Tahun 1945 dan Ketetapan MPR.

Namun, setelah kegiatan sosialisasi ini berkembang menjadi sosialisasi Empat Pilar, maka kegiatan sosialisasi dilaksanakan dengan berbagai metode. Antara lain seminar, outbound, lomba cerdas cermat (LCC) Empat Pilar, dan masih banyak metode lainnya.

“Sedangkan sosialisasi yang dilakukan di Kuansing ini adalah sebuah kegiatan sosialisasi yang dikemas dalam bentuk Pagelaran Seni Budaya,” terangnya.

“Dan, MPR telah melakukan kegiatan ini di berbagai daerah di Indonesia dengan menampilkan seni budaya tradisional daerahnya masing-masing,” sebut dia.

Sementara itu, Idris Laena juga mengungkapkan hal yang sama. Dalam sambutannya, Ketua Badan Penganggaran MPR ini memaparkan bahwa kegiatan yang dikemas dalam bentuk Pagelaran Seni Budaya ini merupakan salah satu metode sosialisasi Empat Pilar.

“Kita bersyukur Taluk Kuantan, khususnya Kenegerian Kari, memiliki kesenian yang sangat membanggakan,” ungkap Idris, politisi Golkar kelahiran Indragiri Hilir, Riau, ini.

Seni budaya yang dimaksud adalah Dendang, Randai, Rarak Godang atau Rarak Celempong. Apapun metodenya, lanjut Idris Laena, sosialisasi Empat Pilar MPR menjadi sangat penting.

“Sosialisasi Empat Pilar MPR adalah sebuah keinginan untuk memberi kesempatan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk dapat memahami nilai-nilia kebangsaan yang kita miliki,” jelas Idris Laena.

Setidaknya, ada empat nilai kebangsaan yang perlu dipahami oleh rakyat Indonesia. Pertama, sebagai bangsa, Indonesia memiliki ideologi, falsafah, dan dasar negara yang disebut Pancasila.

Kedua, UUD NRI Tahun 1945 sebetulnya mengatur hak dan kewajiban setiap warga negara, dan oleh karenanya wajib hukumnya bagi seluruh rakyat Indonesia untuk memahaminya. Ketiga, kita adalah negara besar, berada pada urutan ke-empat dari 180 negara di dunia dari segi jumlah penduduk, setelah RRT, India, dan Amerika Serikat.

Menurut Idris Laena, secara demografis kita bisa membayangkan bagaimana negara yang penduduknya 255 juta ini harus kita jaga. Lanjut Idris Laena, adalah penting pemahaman masyarakat tentang nilai-nilai kebangsaan yang kita miliki itu.

“Kita tidak ingin negara kita menjadi negara gagal, negara yang terpecah-pecah. Karenanya, bagi kita NKRI adalah harga mati,” ujar Idris Laena.

Dan, nilai keempat, adalah Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia selalu memberi gambaran kepada kita bahwa kita punya suku yang berbeda, agama berbeda, tapi karena kita punya Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara maka negara kira selalu menjadi negara yang aman, tenteram dalam konsep Bhinneka Tunggal Ika.

“Maknanya, biarpun kita berbeda-beda, tapi kita tetap satu,” pungkasnya.