MUI Minta Tokoh dan Elit Politik Jaga Etika saat Mengkritik

MONITOR, Jakarta – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa'adi meminta kepada para tokoh dan elit politik agar mengedepankan perilaku santun dalam berpolitik.

Terutama dalam menyampaikan pendapat maupun kritik, sehingga tidak menimbulkan polemik dan kegaduhan.

Hal itu menggapi polemik pernyataan bernada kasar yang disampaikan politikus PDI Perjuangan Arteria Dahlan dalam rapat kerja dengan Jaksa Agung M Prasetyo terkait kasus penipuan biro perjalanan umroh.

"MUI sangat meyangkan  ada pejabat negara yang dalam mengungkapkan kritik menggunakan kalimat yang kasar dan arogan, hal tersebut menunjukkan rendahnya etika, tumpulnya rasa empati dan hilangnya kepekaan sosialnya," kata Zainut dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat (30/3).

"Perilaku tersebut merupakan bentuk arogansi kekuasaan dan sikap jumawa. Seharusnya pejabat negara itu harus menjadi teladan dan panutan bukan sebaliknya berperilaku seperti preman," tambahnya.

Menurut dia, sebagai anggota dewan melekat tanggung jawab bukan saja kepada rakyat yang diwakilinya tetapi juga kepada tuhan yang maha esa.

"MUI yakin DPR memiliki mekanisme  kontrol dan evaluasi terhadap perilaku anggotanya karena ada tata tertib, kode etik yang harus dipatuhi oleh setiap anggota DPR RI,"sebut dia.

 "Jadi jika ada unsur pelanggaran etika yang dilakukan oleh anggotanya, maka Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) harus memberikan sangsi yang tegas demi menjaga marwah dan kehormatan lembaga DPR RI, baik melalui pengaduan maupun tanpa adanya pengaduan dari masyarakat," pungkas Zainut.

Jamkrindo-Jaminan Kredit Indonesia